
Pov Haris
Sampai malam ibu belum pulang juga dari rumah tante Jelita, aku jadi cemas. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan bayi kecil itu. Kasihan sekali tante Jelita pasti kebingungan karena mengurus anaknya sendirian. Kalau saja ada suami mungkin saja dia tak sampai malam-malam mengetuk rumah tetangga, belum lagi kata ibu tadi badan tante Jelita juga sedang tidak sehat.
Oh seandainya saja aku ini suaminya pasti aku akan membantunya mengurus putrinya dan menyuruhnya istirahat saja. Pasti dia sangat lelah, harus mengurusi toko, rumah dan mengurus bayi.
Klek.
Aku yang sedang tiduran di sofa langsung bangun saat melihat ibu pulang.
"Bu, kenapa lama? Apa terjadi sesuatu pada anak itu?" tanyaku.
"Iya badannya panas tadi, tidak mau meyusu juga. Sudah ibu pijit, sepertinya badannya kecetit. Biasa kalau bayi sudah mulai banyak gerak ya seperti itu awalnya. Nanti juga lama-lama menyesuaikan." Kata ibu sambil berjalan ke kamarnya, aku pun mengikutinya sampai di depan pintu. Masih ada yang mau aku tanyakan tapi menunggu ibu keluar saja.
"Loh bu, bawa apa itu?" tanyaku heran saat melihat ibu membawa tas kecilnya yang biasa untuk membawa pakaian.
__ADS_1
"Ibu mau menginap di rumah mbak Lita, kasihan dia lagi nggak sehat terus anaknya juga sakit. Ibu mau nemenin tidur di sana."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa panggil aku aja bu."
Aku pun mengantar ibu sampai depan rumah, untung ada ibu yang mau menemani tante Jelita yang sedang kesusahan. Tetangga yang lain mana mau, aku tau karena aku sering mendengar para tetangga membicarkan tante Jelita kalau mereka sedang berkumpul. Padahal aku rasa tante Jelita sama sekali tidak pernah mengusik hidup mereka, kalau ada iuran untuk kegiatan RT atau kegiatan yang lain juga tante Jelita akan menyumbang paling banyak tanpa ragu.
Berbeda dengan ibu-ibu julid yang kalau dimintai iuran selalu banyak alasan.
Terpaksa aku sendirian malam ini, mataku sama sekali belum mengantuk. Aku lebih memilih untuk menyeduh kopi untuk menghangatkan badanku malam ini. Sambil menonton bola di salah satu chanel televisi kesukaanku yang bergambar ikan terbang. Kuletakkan kopi yang baru saja kuseduh di atas meja, masih ada sepuluh menit lagi sebelum pertandingan sepak bola itu mulai.
Sudah satu jam aku menonton bola sampai selesai babak pertama. Dan di saat itu juga beberapa kali aku mendengar suara tangisan bayi dari rumah tante Jelita. Kasihan sekali aku mendengarnya, aku ingin melihatnya tapi tidak enak kalau malam-malam begitu datang ke ramah janda semok itu.
"Ayo... cepet tendang. Iya baguss terus... golll...." aku bersorak seorang diri saat club sepak bola favoritku berhasil mencentak gol. Aku heboh sendiri.
Kopi dan cemilan yang menemaniku sudah habis, pertandingan bola juga sudah selesai dengan kemenangan club favoritku. Akhirnya aku bisa tidur juga. Aku masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku di atas ranjang. Rasa kantuk pun mulai menyerangku dan aku pun mulai terlelap.
__ADS_1
Paginya, mataku mulai mengerjap saat samar-samar aku mendengar suara kokok ayah jantan milik tetangga sebelah. Rasanya baru tadi aku tertidur tapi sekarang aku sudah terbangun lagi.
"Hooaamm..." kututup mututku yang menguap begitu lebar, menandakan kalau aku masih sangat mengantuk.
Tok tok tok!!
"Ris, Haris bangun Ris!!"
Suara ibu seperti biasa selalu mewarnai pagiku. Tapi aku sama sekali tidak pernah kesal, aku justru rindu kalau sehari saja tidak mendengar omelan ibuku. Ehh tapi tunggu, kenapa pagi ini ibu begitu kencang menggedor pintu kamarku.
"Haris, bangun Ris. Tolongin Mbak Lita Ris!!"
Mataku langsung terbuka lebar mendengar ibu dengan ketakutan menyebut nama tante Jelita. Kuayunkan kakiku langsung ke lantai dan segera membuka pintu.
"Ibu? Ada apa bu?" tanyaku penuh curiga saat melihat ibu yang sudah berkeringat dingin dan nafasnya tersenggal-senggal.
__ADS_1