
Kami pun pulang bersama tapi dengan mengendarai motor sendiri-sendiri seperti janjiku tadi aku akan mengantarnya sampai di depan rumahnya. Gadis itu bernama Fitri, aneh namanya Fitri tapi cara berpakaiannya seperti itu.
Motor kami akhirnya melewati jalanan sepi yang cukup panjang tadi dan kini rumah warga pun mulai terlihat. Aku terus mengikuti gadis itu dari belakang memastikannya aman. Tak lama kemudian motornya pun berhenti dan otomatis aku pun menghentikan motorku. Tapi kenapa aku seperti kenal daerah ini, bukannya di seberang jalan itu rumahku.
"Haii kenapa aku berhenti di sini?" tanyaku.
"Aku sudah sampai mas Haris, ini rumah tanteku," jawabnya.
What!! Kenapa ada kebetulan seperti ini, jadi saudara yang dimaksud gadis itu tante jelita. Aku masih tidak percaya apa aku bermimpi lagi.
"mas Haris kenapa melamun?" tanya gadis yang bernama Fitri itu dia sudah turun dari motornya dan menghampiriku. "Ayo masuk mas aku perkenalkan pada tanteku," ajaknya.
"Eh tidak perlu aku akan pulang saja, yang penting kamu sudah selamat sampai rumah."
aku segera menyalakan motorku lagi, Bukannya aku tidak mau bertemu tante jelita tapi rasanya aku tidak siap kalau harus bertemu dengannya dalam keadaan wajahku yang bapak keluar begini. Tidak tidak, Tante Jelita tidak boleh melihat ku yang seperti ini.
"Tunggu mas, tapi kenapa mas Haris buru-buru sekali? Sebaiknya kita masuk dulu mas, nanti aku obati lukanya mas." Apa lagi gadis itu pakai nahan-nahan aku segala. Tidak tau apa kalau aku harus segera pergi.
"Tidak usah, ini hanya luka kecil. Nanti juga sembuh sendiri, aku sudah biasa. Luka kecil seperti ini tidak ada apa-apanya untuk laki-laki." Aku coba nyalakan motor ku, tapi sayangnya di saat seperti ini malah tidak bisa diajak bekerjasama.
"Fitri..."
Deg, suara itu. Baru mendengar suaranya saja jantung ku sudah berdebar seperti ini.
"Tante Lita..."
__ADS_1
Kan benar dugaan ku, bagaimana ini. Apa aku lari saja tinggalkan motor ini disini. Iya, aku lebih baik langsung pergi saja.
"Mas Haris..." Deg... perasaan apa ini, saat namaku disebut dengan bibirnya terdengar sangat lembut di telinga ku.
"Tante kenal dengan mas Haris?" tanya si Fitri, iya lah kenal. Rumahku ada di depan sana.
"Tentu saja Tante kenal, sangat kenal malah. Kenapa kalian bisa bersama?" Apa aku tidak salah dengar, apa Tante Jelita baru saja cemburu karena aku berdekatan dengan gadis lain. Apa aku yang terlalu kepedean.
"Panjang ceritanya Tan, sebaiknya kita masuk dulu. Aku juga mau mengobati luka mas Haris." Gadis itu masih kekeuh mau mengobati lukaku ternyata.
"Mas Haris terluka? Bagaimana bisa? Coba aku lihat?"
Ya ampun, bagaimana ini. Aku sudah kepalang basah dan tidak mungkin bisa kabur lagi.
"Malam Tante," sapaku berbasa-basi, dalam keadaan menahan sedikit nyeri di bibir ini aku tetap paksakan untuk tersenyum pada Tante Jelita saat berbalik.
Oh Tidak, tidak aku baru saja merasakan celanaku jadi sesak hanya dengan melihat pemandangan itu. Ini sangat tidak baik kalau aku tetap disini, bagaimana kalau kedua wanita itu menyadarinya. Air liurku hampir menetes.
"Ya ampun mas Haris?! Kenapa wajahmu terluka seperti itu. Ayo ayo masuk biar Tante obati lukanya," ujar Tante Jelita terlihat sangat mencemaskanku. Aku senang karena dia peduli padaku, tapi sayangnya ini bukan waktu yang tepat.
"Tidak usah Tan, aku pulang saja kasihan ibu pasti nungguin. Ini cuma luka kecil kok," tolakku, padahal aku ingin sekali berduaan dengan wanita itu.
"Sebaiknya diobati dulu mas, kita juga perlu menceritakan apa yang terjadi pada tanteku."
"Iya nanti Tante yang bicara pada ibumu, ayo masuk." Tante Jelita lebih dulu masuk, disusul Fitri yang tadi sudah lebih dulu memasukkan motornya ke dalam garasi.
__ADS_1
Kami bertiga sudah duduk di dalam rumah Tante Jelita, tepatnya ada di sofa yang ada di ruang keluarga sepertinya, aku asal tebak saja karena ada televisi dengan layar yang sangat lebar di sana. Beda sekali dengan rumahku, yang hanya ada beberapa petak ruangan saja. Ruang tamu dan tempat nonton televisi saja jadi satu., kadang jadi tempat makan juga.
"Jadi kenapa kalian bisa pulang bersama, dan kenapa dengan pakaian kamu yang acak-acakan Fitri. Lalu kenapa mas Haris bisa terluka?" Tante Jelita mencecar kami dengan banyak pertanyaan. Sepertinya dia sudah salah sangka, dia pasti mengira yang membuat keponakan berantakan adalah aku.
"Sabar Tan, aku akan menceritakan semuanya pada Tante. Jadi tadi aku hampir saja di begal di jalan saat mau kesini, aku berusaha melawan tapi para penjahat itu malah mencoba menodaiku. Untung saja ada mas Haris lewat dan menyelamatkanku dari para penjahat itu."
Tante Jelita sangat syok mendengar cerita dari mulut Fitri, gadis itu memang menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Wajar saja sebagai tantenya pasti dia cemas.
"Apa Tante tau, bagaimana cara mas Haris melawan mereka. Mas Haris ini sangat pintar berkelahi Tan, cuma dengan dua kali pukulan saja penjahat itu sudah tergeletak." Fitri menceritakan aksi heroik ku juga ternyata, padahal aku kira dia tidak melihatnya tadi. Walaupun agak sedikit dilebih-lebihkan, kalau hanya dua pukulan mereka bisa tergeletak mana mungkin wajahku juga bonyok begini.
"Lalu bagaimana dengan begal itu sekarang, apa mereka kabur?" Tante Jelita terlihat cemas. Ya bagaimanapun dia seorang perempuan yang tidak punya suami, otomatis kemana-mana pasti sendiri jadi wajar saja kalau dia takut mendengar kata begal.
"Begalnya sudah di bawa polisi Tan, jadi sudah aman," ujar si Fitri tapi aku tidak setuju dengannya kali ini.
"Maaf Tan, bukannya aku bermaksud menakuti Tante dan Fitri tapi aku rasa begal itu tidak hanya ada satu kelompok saja. Aku merasa mereka ada satu komunitas nya begitu, maksudku mungkin saja mereka itu ada banyak dan tersebar di beberapa tempat yang sepi."
Aku melihat raut wajah mereka berubah pias, takut dan gemetar.
"Tapi kalian tenang saja, sebenarnya ada banyak cara untuk menghindari begal atau bentuk kejahatan lain di tempat yang sepi. Saranku kalau untuk Fitri, sebaiknya jangan suka keluyuran malam apalagi menggunakan pakaian terbuka seperti ini pasti mudah sekali mengundang kejahatan. Kalau memang harus keluar karena sesuatu bisa minta tolong bapak atau kakaknya untuk menemani." Fitri cengengesan, dia tau kalau dia sudah salah karena keluar malam dan menggunakan pakaian seperti itu.
"Kalau Tante, aku rasa cukup aman karena menggunakan mobil. Kalau ada di jalanan yang sepi, Tante bisa menambah kecepatan dan jangan pernah berhenti sembarangan. Walaupun ada orang yang meminta tolong, sekarang banyak tuh modusnya pura-pura terluka untuk menarik korban, nanti kalau korban sudah berhenti langsung mereka bertindak."
"Kalau beneran orang itu butuh bantuan bagaimana?" Pertanyaan yang bagus, aku baru mau menjelaskan.
Aku tersenyum lembut pada Tante Jelita yang sedang memandangi ku. "Kalau Tante kurang yakin, Tante tetap jangan berhenti sebaiknya segera tancap gas dan cari warga sekitar minimal tiga sampai lima orang. Bawa mereka bersama untuk sama-sama mengecek orang yang tadi minta tolong."
__ADS_1
Mereka menganggukkan kepalanya, sepertinya sudah mengerti dengan penjelasan ku.