Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 39. Menyusun strategi


__ADS_3

Aku membawa Tante Jelita ke sebuah taman yang cukup sepi agar kami bisa leluasa berbicara. Bisa saja di mobil tadi, tapi aku rasa saat ini kami butuh udara segar agar hati dan pikiran kami bisa sedikit lebih lega.


"Diminum Tan." Aku menyodorkan sebotol air mineral dingin yang baru saja aku beli di warung-warung yang ada di sekitar taman.


Tante Jelita menerima nya tanpa bicara dan langsung meneguknya hingga tersisa sedikit. Benar dugaan ku kalau saat ini kami butuh sesuatu yang dingin.


"Jadi kapan kalian menikah?" tanya Tante Jelita.


Aku menghela nafas panjang, padahal aku ingin merahasiakan hal itu tapi ternyata gosip sangat cepat menyebar. Aneh, karena aku sudah mewanti-wanti ibuku agar tidak menceritakan tentang perjodohan itu pada siapapun. Dan aku percaya ibu pasti menepati ucapan nya. Kalau begitu pasti keluarga Bu Yuli yang sudah menyebarkan gosip itu.


"Kami dijodohkan Tan. Ibuku dan Bu Yuli membuat kesepakatan tanpa persetujuan ku," ujarku berusaha menjelaskan.


"Apa mas Haris menerima?"


Aku mengangguk pasrah, aku yang memang tidak bisa menolak permintaan ibu. "Maaf Tan, aku nggak bermaksud menyembunyikan hal ini tapi aku tidak ingin membuat Tante jadi kepikiran."


"Jadi mas Haris menerima dan kalian akan segera menikah?" tanya Tante Jelita dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ini yang aku takutkan, aku paling tidak bisa melihat wanita yang aku cintai bersedih.

__ADS_1


"Tidak Tan, aku memang menerimanya karena ibu. Tapi kami belum tentu menikah."


"Kalau kalian sudah sama-sama mau jelas kalian pasti menikah. Dan Tante hanya kamu jadikan pelarian saja selama ini mas? Kamu tega sekali mas..."


Kilatan air mata yang aku lihat tadi akhirnya terjatuh juga. Aku ikut merasa sesak melihatnya, hatiku pun ikut sakit.


Aku segera merengkuh tubuh Tante Jelita yang sedang menangis tersedu-sedu. Dia menangis karena ku, aku sudah menyakiti hatinya. Kenapa jadi seperti ini, kenapa disaat aku sudah bisa dekat dengan Tante Jelita, ibuku malah menjodohkan ku dengan perempuan lain.


"Katanya mas Haris sayang sama Tante, tapi apa sekarang. Mas Haris malah mau menikah dengan wanita lain."


Tante Jelita terus meluapkan emosi nya sambil memukul-mukul da-ada ku. Aku hanya diam, membiarkan dia mengeluarkan semua unek-unek nya.


Tante Jelita yang sudah kelelahan pun menurut, dia menghabiskan sisa minumnya hingga tandas.


Aku meraih kedua tangan Tante Jelita dan memegangi nya. Menuntun tubuhnya agar menghadap padaku. "Lihat aku Tan..."


Mata kami saling pandang, aku menatapnya penuh cinta agar dia bisa merasakan kesungguhanku. "Apa Tante percaya kalau aku sayang sama Tante?" tanyaku dan dia mengangguk.

__ADS_1


"Kalau Tante percaya, maka Tante harus yakin padaku juga. Aku memang menerima perjodohan itu karena ibu, dia yang sudah sangat ingin melihat ku menikah dan memiliki anak. Tapi kami belum tentu menikah karena aku akan berusaha membuat hal itu tidak terjadi."


Tante Jelita menatapku bingung.


"Dengar Tan, aku sekarang sedang berusaha mencari kekurangan gadis itu atau apapun yang bisa membuat ibu tidak menyukainya. Agar perjodohan kami batal," ujarku lagi.


"Dia wanita Sholehah dan taat agama, bukan janda seperti Tante. Bu Wanti pasti sangat menyukainya, jadi bagaimana mungkin dia punya kekurangan mas." Tante Jelita putus asa, sama seperti ku pada awalnya.


"Setiap orang pasti punya kekurangan Tan, mungkin saja kekurangan gadis itu bisa dijadikan alasan untuk membatalkan perjodohan ini."


"Tapi kalau ternyata tidak ada bagaimana? Mas Haris akan tetap menikah dengannya?"


"Aku sedang berusaha dan tidak akan pernah menyerah Tan, aku yakin kalau jodoh ku itu Tante. Bukan yang lain."


Tante Jelita langsung menghambur memeluk ku, aku pun dengan senang hati membalasnya. Tidak peduli dengan orang-orang yang melihat kami.


"Tante akan membantu mas Haris mencari tau. Kita akan mencari tau sama-sama. Mas Haris nggak boleh menutupi apapun lagi dari Tante. Biar kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama."

__ADS_1


Aku sangat bahagia mendengar nya, Tante Jelita mau membantu ku katanya. "Terimakasih Tan." Aku menciumi kepalanya berkali-kali.


__ADS_2