
Setelah menyeleksi beberapa orang untuk dijadikan pelayan. Akhirnya pilihan Jelita dan ibu jatuh pada seorang wanita bernama Riri. Dia masih muda, jauh lebih muda dari istriku. Aku juga tidak menyangka kenapa Jelita bisa memilih wanita yang usianya masih muda. Apa dia tidak takut suaminya ini akan tergoda oleh wanita muda itu. Ya, walaupun itu tidak mungkin karena bagiku tidak ada yang lebih cantik dari Jelita.
Sedangkan aku tidak ikut memilih, karena Jelita dan ibu lebih tau apa saja yang perlu diperhatikan saat mencari pelayan. Sebenarnya aku tidak begitu setuju dengan pilihan mereka, aku lebih senang dengan wanita yang sudah sedikit berumur. Biasanya yang lebih dewasa akan lebih cekatan dan bertanggungjawab menurutku. Tapi kalau para perempuan sudah memutuskan aku bisa apa.
"Yang, kamu yakin pilih dia?" tanyaku lagi. Aku hanya takut kehadiran wanita itu akan jadi bumerang bagi kehidupan rumah tangga kami yang damai. Apalagi kondisi Jelita saat ini sedang hamil muda, moodnya pasti naik turun.
Jelita yang sedang memerah ASI nya dengan wajah kesakitan tapi seperti keenakan itu tidak menoleh. Dia sekarang memang berhenti memberikan langsung pada Sasha katanya agar nanti dia terbiasa dan terlepas dari ASI-nya. Takutnya nanti saat anak kedua kita lahir, akan berebut. Aku setuju, karena dengan begitu aku jadi bisa menguasai benda bulat itu beberapa bulan sebelum anak kami lahir ke dunia.
"Sssttthhh ... agghhh."
Aku memalingkan wajah saat Jelita mulai mendesis dan menggeram. Pikiranku langsung traveling kemana-mana karena suaranya.
"Hah ... penuh juga," gumam Jelita setelah botol kaca itu terisi penuh oleh air berwarna putih itu.
"Tadi kamu tanya apa Mas?" Jelita sudah menaruh perahan ASI-nya di dalam freezer lalu duduk di sampingku sambil makanan cemilan. Kasihan sekali, dia pasti kelaparan setelah mengeluarkan asi sebanyak itu.
"Apa kamu yakin pilih perempuan bernama Riri itu. Kenapa tidak yang lain, yang lebih dewasa kan pasti kerjanya lebih pengalaman," kataku membujuk istriku.
"Aku dan ibu cuma kasihan pada Riri, Mas. Dia harus membiayai kedua adiknya yang masih sekolah. Kedua orangtuanya sudah tidak ada, jadi kami rasa nggak ada salahnya memberi dia kesempatan. Tapi aku dan ibu sudah sepakat kalau dia kerjanya tidak bagus, ya diganti yang lain." "Kenapa memangnya, Mas. Apa ada masalah?" tanya Jelita padaku.
__ADS_1
"Mas cuma khawatir dengan keadaanmu. Kamu ingat kan, pas aku tidak sengaja bertemu dengan pegawai bank tempat ku kerja dulu. Bagaimana cemburunya kamu saat itu, Mas nggak mau kamu jadi banyak pikiran nantinya dan mempengaruhi anak kita."
"Tenang saja, Mas. Aku dan ibu akan mengawasinya jadi dia tidak bisa macam-macam apalagi sampai menggodamu. Awas saja kalau dia berani!" seru Jelita di akhir kalimat.
"Baiklah, kalau kalian sudah memutuskan. Mas nurut aja, yang penting kamu dan ibu nggak kelelahan lagi. Atau mau nambah satu lagi saja, biar ada dua." Aku memberi saran.
"Nggak ah Mas, satu aja la dulu. Nanti kita lihat kedepannya bagaimana. Kalau aku masih sanggup mengerjakan sendiri, akan aku kerjakan sendiri."
"Baiklah, sayangku memang sangat pengertian." Aku menciumi wajah istriku yang harum.
"Geli ah Mas, hahaha ..."
"Mas ... belum isi itu, baru juga di p3r4s."
"Nggak apa-apa, aku mau sisanya aja." Dengan kecepatan kilat aku berhasil menyingkirkan kain jaring-jaring itu dan membiarkan tubuh istriku yang indah terpampang nyata di depanku.
"Pasti jelek ya sekarang, perutnya tambah buncit," lirih Jelita saat aku memandangi perutnya.
Oh tidak, bagiku Jelita selalu cantik tapi aku tau kalau ibu hamil pasti perasa.
__ADS_1
"Kamu mau berubah seperti apapun, Mas akan tetap mencintaimu. Cinta mas, bukan karena fisik tapi karena hatimu. Kamu sudah mau bersusah payah mengandung anakku, belum lagi melahirkan dan membesarkan nantinya, aku sudah sangat bersyukur."
"Mas nggak bohong kan?"
"Mas serius sayang."
"Terimakasih Mas, sebenarnya aku sempat takut kalau nanti aku nggak cantik dan s3ksi lagi. Aku takut mas ninggalin aku." Mata Jelita berkaca-kaca saat mengatakan hal itu. Sepertinya dia mengingat pengalaman buruk nya dulu dengan suami pertamanya.
"Aku tidak sama dengan laki-laki itu, aku juga punya ibu. Dan aku juga punya Sasha. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kamu."
Aku memeluk tubuh istriku dan mendekapnya penuh kasih sayang.
"Terimakasih ya Mas, kalau begitu biarkan aku yang di atas malam ini ya." Jelita mengerlingkan sebelah matanya.
"Dengan senang hati." Tentu saja aku senang, sudah lama kami tidak melakukan banyak gaya karena takut akan mempengaruhi anak kita.
Aku pun duduk dan bersender ke sofa, menunggu istriku naik.
Peluh keringat dan jeritan malam itu membuktikan kalau cinta mereka kiaan besar dari hari ke hari.
__ADS_1