
Mereka bersimpuh di hadapan kami, kepala mereka juga tertunduk. Sebagian ada yang menangis. Ya mereka adalah karyawan Tante Jelita yang tadi menghadang ku masuk.
"Maafkan kami Bu... kami menyesal. Kami terpaksa Bu..."
"Kalian sudah tau bos kalian dalam bahaya tapi dibiarkan saja. Kenapa tidak coba cari pertolongan atau lapor polisi." Aku yang kesal sendiri.
"Maaf pak, kami takut dengan ancaman pak Bagus Anak buahnya ada dimana-mana, bisa saja saat kami pulang dihadang di jalan," terang salah satu dari mereka.
"Tetap saja tindakan kalian tidak bisa dibenarkan, kalian bisa saja masuk penjara karena membiarkan kejahatan terjadi," lugasku pada mereka.
Mereka semakin menunduk ketakutan, mungkin mereka memang hanya karena terancam. Apa aku sudah keterlaluan berbicara seperti itu.
"Kalian bangunlah," ujar Tante Jelita menatap karyawan nya dengan tatapan kecewa.
"Bu kami benar-benar minta maaf, kami janji tidak akan mau lagi mengikuti perintah pak Bagus." Mereka menangis dan memohon dibawah kaki Tante Jelita.
"Apa kalian tidak dengar tadi aku suruh apa?" tegas Tante mengatakan nya, aku baru pernah melihatnya sekarang.
Mereka pun bangun dengan perasaan takut, aku sendiri tidak bisa menebak tindakan apa yang akan Tante Jelita lakukan pada mereka. Mungkinkah Tante Jelita akan memukul mereka satu-satu atau mungkin memecat mereka. Aku makin penasaran dengan tebakanku sendiri.
"Kalian bisa keluar dan kembali bekerja, apa kalian mau membuat pembeli menunggu lama."
Mereka semua tertegun, begitupun dengan ku. Apa begitu saja, tidak ada adegan marah-marah atau pemecatan begitu. Kok aku sedikit kecewa, bagaimana pun mereka harus diberikan pelajaran.
__ADS_1
"Tapi Bu kami--"
"Apa?? Kalian mau dipecat?? Apa mau saya laporkan ke polisi??"
"Tidak Bu, kami tidak mau. Jangan pecat kami Bu, kami butuh pekerjaan ini."
"Iya Bu, jangan laporkan kami juga."
"Ya sudah tunggu apalagi? Kalau tidak mau dipecat dan dilaporkan polisi kenapa masih berdiri disini. Cepat sana jaga toko dengan benar," Ujar Tante Jelita.
Aku diam, aku menahan diri untuk bertanya. Sampai mereka pergi meninggalkan kami berdua barulah aku bertanya. "Tante nggak menghukum mereka? Bagaimana kalau mereka bekerja sama dengan pria itu lagi."
"Mereka sudah bekerja pada Tante lama, mereka juga terpaksa melakukan itu. Kerja mereka di toko juga bagus, jadi Tante nggak punya alasan untuk memecat mereka. Dan lagi, mencari karyawan yang bekerja dengan bagus dan bisa dipercaya itu susah. Tante nggak mau karena satu alasan kecil itu kehilangan karyawan seperti mereka."
"Tante paham mas, Tante juga kecewa pada mereka. Tapi kalau mereka celaka karena melindungi Tante, bukankah Tante akan merasa sangat bersalah dan bagaimana dengan keluarga mereka, pasti juga akan menyalahkan Tante." Tante Jelita benar-benar terlihat begitu dewasa kalau menghadapi masalah, bawaannya yang tenang dan bijaksana membuat ku semakin kagum.
Benar juga katanya, kalau mereka celaka pasti Tante Jelita juga yang harus bertanggungjawab.
"Tante hebat." Aku acungkan dua jempol pada Tante Jelita.
Kami pun pergi meninggalkan toko menggunakan mobil Tante Jelita. Aku juga tidak tega melihat keadaan Tante yang berantakan, sebagian pakaiannya robek. Untuknya tadi aku pakai jaket besar dan bisa aku gunakan untuk menutupi tubuh Tante yang berantakan.
"Tante, apa tadi pria itu sempat menyakiti Tante?" tanyaku pelan-pelan, aku takut Tante Jelita syok lagi mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Nggak mas, dia belum sempat ngapa-ngapain. Tante juga coba melawan tadi, makanya pakaian Tante robek begini."
"Syukurlah, awas saja kalau dia sempat nyentuh Tante. Aku hajar lagi kalau ketemu."
"Makasih ya mas, makasih sudah datang tepat waktu."
Tante Jelita meletakan kepalanya di pundak ku.
"Sama-sama Tan, sudah tugasku melindungi calon istri ku..." kuusap lembut pipinya.
Tante Jelita cukup terkejut dan menegakkan tubuhnya, "Calon istri mas??" tanyanya dengan wajah bingung.
"Iya, calon istri ku... calon makmumku... sebenarnya aku ingin bertemu untuk bilang kalau ibu sudah merestui hubungan kita dan aku ingin segera melamar Tante, tapi malah melihat hal seperti tadi, jadi aku lupa mengatakannya sejak tadi," Jelasku.
"Mas Haris nggak sedang berbohong kan?"
"Nggak Tan," ujarku dengan gemas melihat ekspresi wajahnya.
"Mas Haris serius?? Apa Tante nggak salah dengar? Apa ini mimpi?"
Aku menepuk kening, sepertinya Tante Jelita jauh lebih syok sekarang. Apa aku sudah salah bicara.
Aku pun menepikan mobil ke sisi jalan. "Tante lihat aku... aku nggak bohong dan aku juga serius, dua rius malahan. Tante juga nggak mimpi sekarang." Aku genggam tangannya dan ku tatap matanya penuh cinta.
__ADS_1
Mata Tante Jelita berkaca-kaca dan bibirnya tiba-tiba melengkung ke bawah. Apa dia sedih karena aku bilang akan melamarnya?