Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 60. Aku Mau Kawin, Bu.


__ADS_3

Setelah kejadian itu tidak bisa aku pungkiri kalau aku terus saja membayangkan bagaimana kalau kami melakukannya lagi. Rasanya ingin lagi dan lagi. Lebih enak dari pada pakai tangan tentu saja. aiani benar-benar gawat, kalau aku tidak bisa segera menikahinya. Aku bisa gilaa kalau terus-terusan membayangkan hal itu.


Aku sudah bertekad akan mengatakannya pada ibu, pokoknya ibu harus mau punya mantu tante Jelita. Baru seminggu setelahnya saja aku sudah kelonjotan ingin lagi bagaimana kalau makin lama. Sekarang aku tau ini sepertinya memang taktik tante Jelita agar membuatku ingin lagi tapi tidak mau memberinya lagi kalau belum menikah. OH bukankah ini sangat menyiksa harta karunku yang ingin kembali merasakan hangatnya kue apem itu.


Bagaimana tidak, kalau sekarang ini tante Jelita lebih senang menyiksaku dan menggodaku tapi tidak mau bertanggung jawab menyelesaikannya. Aku frustasi kalau sudah seperti itu, ingin aku terkam saja dan aku masukkan paksa tapi aku tidak ingin membuat tante jelita ketakutan karena ulahku.


Seperti sekarang, coba kalian lihat. Aku yang sedang duduk di teras sambil meroko dan makan gorengan harus menahan diri dari godaan di seberang jalan. Dimana tante Jelita sedang menyapu halaman menggunakan daster tipis dan sangat pendek. Dia sengaja menggerak-gerakan pinggulnya menghadap ku, dengan sedikit membungkuk dengan alasan menyapu padahal aku lihat jelas halaman rumahnya itu sudah sangat bersih. Aku tau dia sengaja, memperlihatkan kue apemnya yang berbungkus kain dengan model seperti tali yang jelas tidak menutupi balon besarnya di belakang, bahkan kelopak mawar merekah itupun terlihat saat tante jelita berpura-pura mengambil sesuatu di tanah.


Tidak!! Aku tidak tahan lagi. Aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa kembali menjadi kumbang yang menghisap sari bunganya.


"Tunggu aku tan, aku akan datang melamarmu." Aku berdiri ditengan rasa sesaknya celanaku. Lalu berlari ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ibu... aku mau kawwinnn!! Huaaa anakku pengin kawiinn bu...." Aku berteriak memanggil ibuku yang tidak tau ada di mana. "Ibuu!! " teriakku lagi karena ibu belum juga datang.


"Ya ampun Ris, kamu ngapain teriak-teriak sambil mewek begitu kayak anak kecil minta uang jajan." Ibu malah meledekku.


"Ibu, anakmu ini lagi sedih bu. Aku pengin kaawwinn bu..."


"Hahaha... kamu mau kaw-in sama siapa pacar saja nggak punya. Eh nikah dulu baru ka-win. Udah sana cari pacar, ibu lagi goreng ikan nanti malah gosong." Ibu mengejekku lagi. Dia pergi begitu saja tanpa peduli anaknya yang sedang ingin begitu.


"Ibu, aku serius bu. Aku mau nikah. Boleh kan bu? Ibu pasti dukung kan?" tanya ku tanpa menyebutkan nama tante Jelita.


"Kamu itu pagi-pagi masih aja ngelindur, apa kamu lapar. Sebentar, ikannya belum matang," kata ibu, ah dia sepertinya menghindari pertanyaanku.

__ADS_1


Aku mengikuti kemanapun gerakan ibu, dia memotong sayuran, mencuci piring dan menyiapkan makan di meja makan, pokoknya ku ikuti terus. "Ibu aku nggak bercanda, aku beneran mau nikah. Kenapa ibu nggak mendukungku, apa ibu nggak pengin cepat-cepat punya mantu."


"Iya ibu paham, tapi nikah itu harus sama pasangan. Laa kamu mau nikah sama siapa? Jangan mimpi pagi-pagi. Sudah sana minggir, ibu mau ambil ikannya sudah matang. Keburu di gondol kucing nanti," sentak ibu, aku sampai mundur selangkah.


"Aku mau menikah sama tante Jelita bu." Aku memejamkan mata dan menutup telingan menunggu reaksi ibu. Aku belum tau dia akan mengamuk atau justru langsung menyincangku dengan pisau yang sedang ia pegang.


Praannggg!!


Astaga ibu aku baru saja mengatakan mau menikah engan tante jelita saja langsung terdengar pecahan piring. Lebih baik aku kabur menyelamatkan diri sebelum ibu mengamuk. Aku segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Lalu aku naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut. Aku tutupi seluruh tubuhku dengan selimut.


Tante maaf, sepertinya aku belum bisa menikahimu segera. Bagaimana dengan nasib di joni kalau begini, berapa lama lagi dia harus berpuasa. Batinku ingin sekali menjerit.

__ADS_1


__ADS_2