Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 83. Mas Cepet ...


__ADS_3

Hari ini aku sudah di perbolehkan pulang ke rumah, hanya perlu kontrol rutin setelah ini. Hampir tiga Minggu aku tinggal di rumah sakit, rasanya sudah sangat bosan setiap hari mencium bau obat-obatan. Dan juga aku memikirkan masalah biaya. Jelita pasti mengeluarkan banyak uang untuk biaya rumah sakitku. Sudah kucoba bertanya tapi dia tidak mau menjawabnya. Tidak apa, akan aku berikan semuanya saat untuk mahar saja kalau dia masih tidak mau memberitahu.


"Mas, aku sudah selesai mengemasi semuanya. Apa ada lagi yang mau mas bawa?" tanya Jelita, dia yang datang setiap pagi.


"Enggak, dek. Aku sudah sangat ingin pulang, aku juga sudah merindukan Sasha," kataku, membuat Jelita tersenyum. Aku sudah meyakinkan dia kalau rasa sayangku pada Sasha tidak akan pernah berubah.


"Kalau begitu aku ambil obat dulu, mas tunggu disini saja. Sebentar lagi mungkin ibu datang," ujarnya sambil melangkah keluar.


Aku memindai sekeliling ruangan ini. Tiba-tiba saja ingatanku kembali pada saat aku masih belum sadar, dimana aku bermimpi kalau aku di dalam ruangan yang begitu gelap tanpa setitikpun cahaya. Kemudian seorang anak kecil datang menyuruhku ikut dengannya dan akhirnya aku bisa kembali ke dunia ini. Aku ingat anak itu mengatakan kalau dia adalah anakku. Apa mungkin memang dia anakku yang menyelamatkan ku. Pantas saja aku tidak bisa melihatnya, karena tertutupi cahaya dan dia bilang belum waktunya dia bertemu dengan kami.


Ternyata anakku sendiri yang menyelamatkan ku. "Terimakasih nak, kalau bukan karenamu mungkin aku saat ini sudah tidak ada di dunia ini."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Bu sudah datang? Kenapa ibu nggak tunggu saja di rumah," kataku.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Ris. Ibu ingin selalu punya kesempatan untuk bersama putra ibu selagi masih bisa." Ibu berubah sedih, dia pasti teringat saat aku sedang sekarat. Pantas kalau saat ini dia ingin terus dekat.


"Makasih ya Bu, maaf sudah merepotkan ibu."


"Sama sekali nggak, kamu putra ibu. Wajar saja kalau ibu merawatmu." Ibu mengalihkan pandangan, melihat barang-barang ku yang sudah terkemas rapi. "Waahh ... sudah selesai di bereskan ternyata. Lalu dimana nak Lita?"


"Dia sedang mengambil obat, nanti juga kesini lagi."


Tak lama, Jelita sudah kembali. "Ibu sudah datang, kalau begitu kita pulang sekarang." Jelita menyalami tangan ibu. Lalu mengajak kami untuk pergi sekarang.


Sampai di rumah, ternyata sudah ada beberapa tetangga yang menyambut kepulanganku. Waahh dalam sekejap aku merasa seperti pejabat yang disambut begini. Mereka menanyakan keadaanku. Aku jawab sudah baik-baik saja. Tak lupa, oleh-oleh yang tadi Jelita beli di jalan pun dibagikan sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan ku katanya. Padahal aku dan ibu tidak berpikir sampai ke sana.


"Mas, istirahat saja kalau lelah," kata Jelita. Sepertinya dia tau aku masih belum begitu fit. Tapi karena banyak tetangga berdatangan aku jadi menemui mereka. Tidak enak Kan kalau ada tamu tapi malah ditinggal ke kamar.


"Nggak apa, mas disini sebentar lagi," kayaku.

__ADS_1


Sepertinya Jelita tidak kehabisan akal untuk menyuruhku beristirahat. Dia mengambil Sasha dari pengasuhnya lalu berjalan ke arah ku.


"Mas, Sasha sudah mengantuk sepertinya. Bolehkah dia tidur di kamarmu dulu, sekalian kamu temani ya. Dia bisa nangis kenceng kalau bangun nggak ada orang."


Akhirnya aku mengiyakan perkataan Jelita, "Baiklah, ayo sayang." Aku baru Saja mau mengambil Sasha dari gendongan Jelita tapi dia melarangnya.


"Biar aku saja yang gendong, mas masih sakit. Ayo..."


Ehhh tapi... aku menggaruk tengkuk saat semua orang melihat jelita masuk ke kamarku. Kalau tidak ada orang itu bukan masalah tapi saat ini sedang banyak orang yang melihat. Bagaimana ini apa aku disini saja agar tidak menimbulkan fitnah.


"Mas, cepet..."


"I--iya..." gelagapan aku jadinya.


Ahh sudahlah, toh kami juga mau menikah sebentar lagi. Jelita juga sudah mengandung anakku. Bodoh amat kalau ada yang nyinyir.

__ADS_1


I am coming, baby... Aku juga sudah sangat merindukan dad-a besar milik Jelita.


__ADS_2