
Setelah aku bujuk, akhirnya Tante Jelita mau makan juga. Aku mengatakan kalau dia tidak makan, bisa kualitas sumber kehidupan Shasa akan semakin buruk. Dia pun mau, tidak ingin membuat anaknya sakit lagi.
"Apa Tante yang memberitahu mantan suami Tante kalau Sasha sakit?" tanyaku. Dia juga tidak menyangkalnya.
"Iya mas, aku pikir sebagai ayah kandungnya dia berhak tau kalau anaknya sakit. Tapi aku nggak menyangka kalau dia akan bertindak sejauh itu."
"Tante nggak salah, maksud Tante baik. Laki-laki itu saja yang kurang ajar. Apa dia ingin rujuk dengan Tante?"
"Iya, beberapa hari yang lalu dia juga datang ke toko dan mengatakan hal yang sama. Aku menolaknya, dia nggak terima dan membuat onar di toko sampai membuat pembeli takut dan merusak dagangan."
Pantas saja Tante Jelita sampai tertekan dan banyak pikiran. Rupanya laki-laki itu penyebabnya. Sudah ditolak kenapa masih maksa.
"Sabar ya Tan, sekarang Tante fokus pada Sasha dulu saja. Jangan terlalu banyak memikirkan pria itu."
"Sebenarnya bukan itu yang membuat Tante kepikiran...," ucapnya lirih.
"Maksud Tante? Apa ada masalah lain lagi, cerita saja Tan jangan dipendam sendiri. Kalau pun aku nggak bisa bantu setidaknya pikiran Tante jadi sedikit lega."
__ADS_1
Aku memperhatikan wajah Tante Jelita yang ragu mau bicara, ada apa sebenarnya. Apa dia sedang menghadapi masalah.
"I--itu.. Tante mikirin mas Haris," ujarnya lembut.
Ehh tapi tunggu, kenapa mikirin aku. Ada apa dengan ku, atau aku sudah melakukan kesalahan pada Tante Jelita.
"Aku Tan?" Aku bertanya dengan dahi yang berkerut.
"Iya mas, Tante mikirin mas Haris. Sudah beberapa hari ini Tante nggak lihat mas Haris, rasanya Tante ingin sekali melihat kamu, mas. Tapi Tante tidak tau bagaimana caranya. Kamu seperti sedang menghindari ku, mas."
Aku gugup mendengar perkataan Tante Jelita, jadi dia menyadari kalau aku sengaja menghindari nya dan dia ingin bertemu dengan ku. Apa artinya Tante Jelita sudah mulai nyaman dengan keberadaan ku disekitarnya.
Aku diam, apa aku bilang saja kalau aku memang ia ingin menghindarinya. Karena aku sadar kalau Tante Jelita tidak mungkin bisa aku raih.
"Mm... bukan karena hal itu Tan, aku juga belum punya pacar. Tapi karena aku insecure berhadapan dengan Tante. Aku yang bukan siapa-siapa, hanya bekerja sebagai scurity. Sama sekali tidak pantas mengharapkan Tante."
"Apa ini karena omongan Fitri waktu itu?" Aku mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya Tante sengaja berkata seperti itu pada Fitri. Biar dia sampaikan pada ayahnya, agar ayahnya nggak lagi menjodohkanku dengan teman-temannya." "Kesannya Tante ini nggak laku sampai dijodohkan segala, Tante juga tidak betah menjanda tapi bukan berarti Tante mau menikah dengan laki-laki yang belum kenal."
Ternyata selama ini apa yang aku dengar itu tidak benar, Tante Jelita sama sekali tidak melihat laki-laki dari hartanya saja. Apakah artinya aku masih punya kesempatan. Tapi walaupun begitu, aku tetap saja minder.
"Apa artinya mas Haris suka sama Tante?"
Aku mengangguk malu, entah bagaimana wajahku saat ini. Pasti melakukan sekali. Seperti anak gadis yang baru saja jatuh cinta.
"Maaf kalau aku lancang Tante, tapi semenjak pertama kali aku melihat Tante saat baru pindah rumah. Aku langsung tertarik pada Tante. Awalnya penasaran dan kagum, tapi karena melihat hampir setiap hari lama-lama jadi suka dan ingin selalu melihat dan dekat-dekat Tante kalau bisa." Aku menggaruk kepalanya salah tingkah. Rasanya saat aku menyatakan cinta pada gadis yang seumuran atau lebih muda dariku, tidak segrogi ini.
"Kamu jujur dan polos sekali mas, kamu sama sekali tidak pernah merayu atau berkata manis tapi kejujuran dan kepolosan mu membuat Tante kagum," ujar Tante Jelita menyanjung ku.
Dia tersenyum, akhirnya aku bisa melihat senyumnya lagi. Dia mengusap lenganku sedari tadi.
"Tante nggak marah sama aku?"
"Buat apa marah. Kamu sama sekali nggak melakukan kesalahan. Kecuali mas Haris menyukai wanita bersuami, barulah jadi masalah. Kalau boleh jujur, sebenarnya Tante juga sudah lama mengagumi mas Haris. Berawal dari mendengar cerita dari Bu Wanti, aku sudah penasaran seperti apa sosok laki-laki yang sangat menyayangi ibunya itu."
__ADS_1
Aku memperhatikan nya, sepertinya dia tidak sedang berbohong. Jadi benar kalau Tante Jelita menyukai ku.