Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 63. Datang ke Toko


__ADS_3

Aku sudah siap dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans yang aku pakai. Berdiri di depan cermin, memastikan tidak ada yang kurang satupun. Ku ambil minyak rambut lalu aku oleskan sedikit agar terlihat lebih rapi. Terakhir, tidak lupa parfum aku semprotkan ke seluruh tubuh ku.


"Tante Jelita ku sayang aku datang." Aku bermonolog sendiri di depan cermin. Tak lupa dengan senyum yang menghiasi wajah ku yang tampan dan gagah ini. "Benar, ternyata aku ganteng juga. Pantas saja gadis-gadis suka dengan ku." Miring kanan dan kiri seperti model yang sedang bergaya di depan kamera. Tapi kalau dipikir-pikir memang bentuk tubuh ku tidak kalah dengan model yang ada di televisi.


Selesai bersiap aku menyambar tas selempang ku yang selalu aku bawa untuk menaruh ponsel dan dompet yang berisi kartu-kartu dan surat motor. Jangan tanya apa ada kartu kredit di sana, tentu saja tidak. Yang ada hanya KTP, kartu kesehatan dan SIM. Ada kartu ATM, untuk ku menyimpan sebagian uang gajiku.


"Bu, aku pergi dulu mau ketemu Tante Jelita. Aku mau memberi tahunya tentang rencana ku yang mau melamarnya." Aku pamit pada ibu yang sedang mengomel di pintu belakang karena ternyata kucing yang kemarin aku lihat sudah memakan habis ikan yang ibu goreng.


"Ohh, iya hati-hati," katanya singkat. Dia malah sibuk dengan kucing-kucing itu lagi, padahal aku sudah menyuruh nya membeli ikan yang baru.


"Ibu ibu... mereka mana tau kalau sedang dimarahi." Aku bergumam sambil berjalan keluar rumah.


Motor butut kesayangan ku baru saja ku mandikan tadi pagi, dia tampak sangat kinclong sekarang. Sudah siap untuk aku pakai untuk menjemput Tante Jelita. Semoga saja dia tidak merasa malu walaupun hanya aku bonceng dengan motor butut ini.

__ADS_1


Sepanjang jalan aku tersenyum sendiri, dari kemarin aku sudah tidak sabar untuk memberitahu kalau ibuku sudah setuju dengan hubungan kami. Aku pastikan akan menyiapkan pesta pernikahan untuk Tante Jelita, aku punya cukup tabungan untuk itu. Tidak akan aku buat Tante malu dihadapan tetangga ataupun temannya. Rencananya setelah ini aku juga akan mengundurkan diri dari pekerjaan ku yang sekarang.


Ya aku sudah tidak sanggup lagi menyanggupi permintaan Bu bos yang semakin kesini semakin gilaa saja. Untung belakang ini aku bisa menghindari dengan berbagai alasan tapi aku takut kalau tidak bisa bertahan lama lagi. Aku lihat selama aku menghindar, Roni lah yang selalu di panggil ke kantor. Tidak tau untuk apa, yang pasti mereka lama di dalam sana. Tapi bedanya dengan ku, setiap aku keluar dari kantor itu aku selalu kesal dan tidak bersemangat lagi. Berbeda dengan Roni yang justru terlihat sangat senang dan bersemangat.


Aku tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan, syukur kalau Bu bos sekarang sudah berpaling pada Roni. Tapi aku tetap akan mengundurkan diri untuk berjaga-jaga.


Sampai di kompleks pertokoan di kota. Aku berhenti tepat di depan toko sembako milik Tante Jelita. Terlihat kalau tokonya sangat ramai, banyak motor dan mobil yang terparkir di depannya.


"Mas, apa Tante Jelita ada di dalam?" tanyaku.


"Tante Jelita?? Apa maksudnya Bu bos?" tanya tukang parkir itu, mungkin saja dia menyebut Tante Jelita Bu bos karena memang dia pemilik toko itu.


"Iya mas, apa ada di dalam?"

__ADS_1


"Masih ada sepertinya, tuh mobilnya juga masih disini. Masuk saja, nanti di dalam tanya saja sama karyawannya. Tapi sepertinya tadi aku dengar sedang ada tamu mantan suaminya di dalam. Tuh mobilnya yang hitam, belum pergi juga dari tadi."


"Apa mantan suaminya?!" Tanyaku kaget, kalau benar berani sekali dia datang mengunjungi calon istri ku. Apa dia ingin merasakan bogeman ku ini. Tanganku sudah mengepal dan siap untuk melayang pada wajah pria tua bangkotan itu.


"Iya mas, sepertinya mereka mau rujuk. Mereka sangat cocok, kenapa juga mesti pisah. Wajar lah kalau suami itu ingin merasakan masakan yang lain, setiap hari makan sayur kangkung kan bosen juga. Yang penting kan pulang ke rumah dan ngasih duit."


Aku geram mendengar penuturan tukang parkir itu, rasanya aku ingin menghajarnya juga tapi sekarang ada yang lebih penting lebih baik aku masuk dan lihat dulu.


"Denger ya mas, Tante Jelita itu calon istri ku jadi nggak mungkin rujuk sama suaminya. Dan lagi selingkuh itu sama sekali nggak dibenarkan, laki-laki seperti itu nggak pantas untuk Tante Jelita." Aku sampai menggertakkan rahang, dan tanganku juga mencengkeram kaos yang dipakai laki-laki itu.


Dia ketakutan, tentu saja. Badanku jelas lebih besar darinya. Sekali pukul pasti melayang dia.


"Ma--maaf Mas... sa--saya tidak tau..."

__ADS_1


__ADS_2