
Aku memaku di tempat, mau keluar dari sana pun bingung tapi tetap bertahan di ruangan itu pun musibah. Aku dalam situasi yang sulit. Bagaimana bisa Bu bos meminta ku melakukan hal yang sangat mustahil. Aku masih waras dan tidak mungkin melakukan hal itu apalagi dengan wanita yang sudah bersuami.
"Cepatlah kemari mas... lihat ini, baguskan punyaku." Bu bos terus saja menyuruh ku mendekat sambil terus memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang terbalut gaun mini .
Kalau saja yang seperti itu Tante Jelita, pastilah aku langsung datang. Tapi wanita itu adalah istri dari atasan ku. Aku tidak mungkin memanfaatkan kesempatan. Apa mungkin ini yang dimaksud pak Irwan kalau Bu bos sering kali meminta hal yang mustahil dan membuat bawahannya dalam pilihan yang sulit. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang, bahkan pak Irwan tidak mengatakan apa yang harus aku lakukan.
"Mas, cepat kemarilah atau aku laporkan pada suamiku!" serunya, masih kekeuh menyuruhku mendekat.
"Tunggu mbak bos. Mungkinkah ada syarat yang lain? Atau mbak bos menginginkan sesuatu?" aku berusaha membujuk wanita itu.
"Tidak ada, aku hanya ingin kamu. Sudah lama aku kagum dengan bentuk tubuh mu. Tidak seperti suami ku yang buncit." "Cepat kemarilah mas, kau pasti sangat kuat. Aku ingin sekali merasakannya dengan pria kekar seperti mu."
Bu bos menggodaku. Dia bahkan menjelekan suaminya sendiri, apa artinya dia sama sekali tidak mencintai suaminya. Lalu untuk apa menikah, apa karena uang. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan wanita jaman sekarang, oh iya kata pak Irwan Bu bos Vivi ini hanya istri siri. Istri sah pak bos sudah cukup berumur dan sakit-sakitan.
"Maaf mbak bos, sepertinya saya tidak bisa. Kalau sampai pak bos tau, saya bisa di pecat bahkan mungkin di masukkan dalam penjara."
"Dia tidak akan tau tenang saja." Dia bangun dari duduknya dan menghampiriku.
__ADS_1
Tubuh ku otomatis mundur dan menghindar saat Bu bos semakin dekat. Apa yang harus aku lakukan sekarang, kalau aku keluar begitu saja mungkinkah Bu bos akan berbaik hati dan tidak melaporkan ku atau malah berbicara buruk tentang ku.
Bu bos semakin mendekat ke arah ku, sampai punggung ku membentur pintu dan aku tidak bisa kemana-mana lagi.
"Mbak... saya tidak bisa melakukan hal itu. Pak bos bisa membunuhku kalau tau." Aku harus membuat alasan apalagi agar wanita itu menyerah.
"Dia tidak akan tau kalau kamu diam, cukup kita saja yang tau," bisiknya dengan nada menggoda di telingaku. Tangannya juga tidak tinggal diam, bergerak menyentuhku yang selalu menggoda iman wanita.
Aku sempat terbuai akan tindakan nya. Mataku terpejam tapi yang ada di bayangan ku justru wajah Tante Jelita. Meski ada wanita cantik muda di depanku tapi pikiranku tidak bisa jauh dari Tante Jelita. Ohhh... apa ini.
"Tante...." Aku menyebut nama Tante Jelita. Ya yang aku rasakan saat ini adalah sentuhan Tante Jelita. Bukan istri bos.
Aku menurut saja saat wanita itu menuntunku ke arah sofa, saat ini aku belum punya ide untuk melawan. Sebaiknya aku turuti saja sementara.
Tubuhku di dorong dan terduduk di sofa, lalu Bu bos segera naik ke pangkuan ku dan kami pun berhadap-hadapan. Bu bos menyapukan jarinya ke wajah, leher dan terus turun sambil membuka kancing seragam ku.
"Tunggu mbak, ini tidak benar," kataku sambil menahan tangan nya.
__ADS_1
"Hussttt... kau hanya tinggal diam saja..."
Glek! Apa maksudnya, aku tidak paham dengan apa yang dia katakan. Apa aku harus kehilangan kesucian ku dengan cara seperti ini, dan dengan jalur perselingkuhan seperti ini. Bagaimana ini, siapapun tollooong.... aku mau dinodai....!!
"Sesuai dengan bayangan ku, bentuk tubuh mu sangat sempurna mas. Gilaaa... ini seperti oppa opa Korea yang ada di dalam drama."
Aku tergeletak pasrah saat istri bosku terus saja menjelajahi tubuh Ku. Sepertinya dia sangat menggilai nya, dia bahkan mendaratkan bibirnya di setiap inci tubuhku hingga bekas lipstiknya pun ada dimana-mana.
Ohhh tidak aku merasa ternoda sekarang. Aku harus memikirkan cara agar bisa terlepas dari singa betina ini. Aku tidak bisa memberikan malam pertama ku pada wanita bersuami ini. Meski sebelumnya aku sering bermain dengan tangan tapi aku sama sekali belum pernah merasakan bermain sungguhan. Dan aku ingin yang pertama kali adalah dengan Tante Jelita pujaan hatiku.
"Mas, jangan diam aja donk. Coba pegang ini, besar loh."
Aku membelalak saat melihat pemandangan di depan mata ku. Karena sibuk melamun aku tidak menyadari kalau wanita itu sudah menanggalkan pakaiannya.
"I--ini... "
"Ayo mas, jangan sungkan yaa ...."
__ADS_1
"Saya tidak bisa mbak--- mmmp...."
Mulutku tiba-tiba tidak bisa berbicara. Aku berakhir, aku sudah mengkhianati Tante Jelita.