Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 67. Cincin Warisan


__ADS_3

Kami sampai di rumah dengan saling diam. Sejak tadi tante Jelita tidak bersuara setelah aku mengatakan akan melamarnya. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, mungkin dia tidak suka atau mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


"Sampai tan, ayo turun," kataku karena sejak tadi tante Jelita masih saja melamun. Aku baru mau membuka pintu dan turun tapi tangan tante menahanku. Aku pun berbalik lagi, menatapnya dengan penuh tanya.


"Mas soal yang tadi, tante--"


"Kalau tante belum siap atau nggak mau menikah denganku secepatnya nggak masalah. Tante nggak perlu memikirkan apapun, kita jalani saja seperti biasanya." Aku memotog ucapan tante Jelita, aku tidak ingin menambah bebannya. Kalau memang dia belum siap, aku akan menunggunya sampai kapanpun.


"Bukan seperti itu mas, tante cuma takut kalau mas Haris akan malu kalau menikah dengan tante yang janda dan punya anak. Apa bu Wanti juga mau menerima Sasha?"


Cup. Tanpa banyak kata aku kecup bibirnya, awalnya tante Jelita terkejut tapi kemudian mulai memejamkan mata dan membalas ciu-man ku. Perasaan bahagia tanpa takut ada yang lihat dan setelah mendapatkan restu dari ibu, aku menciumnya penuh cinta dan damba. Sangat berbeda dari biasanya yang hanya mementingkan n*psu semata.

__ADS_1


"Aku cinta sama Tante, aku akan menerima apapun keadaan tante dan tentunya juga sudah siap untuk menjadi ayah untuk Sasha. Tante juga nggak perlu cemas karena ibu juga menerima Sasha, dia senang malah karena Sasha yang cantik  akan menjadi cucunya." Aku usap bibir peace tante Jelita yang basah karena ku. Lalu tanganku juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan penuh cinta tentunya.


"Makasih mas, tante nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Tante sangat senang mendengar hal itu. Terimakasih sudah percaya dengan tante dengan menjadikan tante istri mas Haris. Tante janji nggak akan membuat mas Haris malu, dan tante juga akan menyayangi bu Wanti seperti ibuku sendiri."


Itulah yang ingin aku dengar, selama ini para wanita yang dekat denganku tidak pernah membahas ibu. Mereka malah sibuk dengan rencana mereka sendiri yang katanya kalau sudah menikah harus tinggal di rumah orang tua mereka. Dengan tanpa perasaan, mereka tidak memikirkan ibuku yang tinggal sendiri.


"Tante pasti bisa jadi istri yang baik, aku nggak pernah melihat status maupun umur. Menurutku aku yang beruntung karena bisa dekat dengan tante yang banyak memberiku pelajaran." Kudekatkan wajahku lalu aku cium kedua matanya bergantian, aku harap setelah ini aku tidak melihat air mata itu lagi keluar dari mata tante Jelita. Aku janji akan membuatnya bahagia dengan segenap raga dan jiwaku. "Oh iya hampir lupa," ucapku lalu tangan kananku merogoh saku celana, dimana ada sesuatu yang ingin aku berikan pada tante Jelita. Akhinya ketemu juga, aku sempat takut kalau hilang saat aku berantem dengan laki-laki itu.


"Mas... itu..." Tante Jelita terkejut melihat benda kecil berbentuk lingkaran yang aku pegang.


"Bagaimana barang berharga seperti ini dibrikan padaku mas, kalau aku menghilangkannya bagaimana," ujar tante Jelita.

__ADS_1


"Nggak masalah yang penting bukan tante yang hilang, nanti aku bisa gilaa kalau kehilangan tante."


"Mas Haris kenapa jadi pintar sekali menggobal sekarang, eh tapi ini serius mas. Lebih baik disimpan saja kalau sampai hilang tante nggak enak sama bu Wanti," ujar tante dann dia hendak melepaskan cincin itu.


"Nggak masalah tan, itu hanya untuk sementara. Nanti saat acara pertunangan akan aku belikan yang baru dan yang itu bisa tante simpan atau dipakai saja."


Tante Jelita langsung menghambur ke pelukanmu dan mengangis sesenggukan. Padahal aku barusan berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi. Sepertinya dia sangat bahagia hingga terharu.


Cukup lama kami di mobil, sampai tidak menyadari kalau sejak tadi ada yang memperhatikan kami. Mesti kaca mobilnya gelap dan tidak terlihat dari luar tapi kalau kami terlalu lama seperti ini pasti akan tetap membuat orang curiga. Terutama tetangga julid yang notabene selalu iri dengan tante Jelita.


"Tan, lebih baik kita keluar sekarang sebelum ada yang datang," kataku.

__ADS_1


"Biarkan saja mas, tante masih ingin seperti ini." Dia malah semakin erat memeluk tubuhku.


Sampai seseorang datang mengetuk kaca jendela mobil.


__ADS_2