Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 51. Borok yang Terungkap


__ADS_3

"Ya ampun bagaimana mungkin putra Bu Yuli yang pintar dan berpendidikan itu melakukan hal itu pada gadis yang tidak berdosa."


"Iya, padahal selama ini pak Darmin dan Bu Yuli sering ceramah. Kok bisa mereka berbuat jahat."


Di grup chat RT pun rame para warga yang ikut berkomentar. Ada yang juga melayangkan sumpah serapah pada keluarga Bu Yuli. Ada juga yang menghina habis-habisan. Sepertinya mereka juga memendam kekesalan pada Bu Yuli dan keluarga selama ini.


"Jadi bagaimana ibu-ibu dan bapak-bapak? Apa sekarang kalian percaya kalau anak Bu Yuli ini sudah menodai kakak saya dan tidak cuma sekali tapi berulang kali kalau dia mu. Apa kalian tau kalau Bu Yuli dan pak Darmin malah sama sekali tidak melarang anaknya melakukan hal itu pada kakakku."


Aku tambah terkejut mendengar kenyataan yang baru, perkara menodai saja sudah sangat berdosa dan sangat kejam lalu ditambah dengan keluarga yang justru mendukung perbuatan itu. Tidak habis pikir apa jadinya kalau aku sampai masuk dalam keluarga mereka. Bisa-bisa aku ikut menanggung dosa mereka.


"Bohong!! Laki-laki ini pembohong dia adalah mantan narapidana. Jadi kalian jangan tertipu olehnya." Bu Yuli berteriak agar para tetangga mempercayai nya.


"Tapi bagaimana dengan video ini Bu? Ini jelas putra Bu Yuli yang ada di dalam video ini," ujar warga sambil menunjukkan video itu dihadapan Bu Yuli. Wanita itu pun kalang kabut merebut ponsel itu lalu membantingnya saat itu juga.


"Kenapa Bu Yuli membanting handphone saya. Itu handphone baru saya beli sebulan yang lalu, pokoknya bu Yuli harus menggantinya. Dasar keluarga pendosa, berani-beraninya merusak handphone saya," sentak ibu-ibu pemilik ponsel tidak terima.

__ADS_1


"Aku akan ganti sepuluh kali yang seperti itu, kalian semua juga. Kalau sampai menyebar luaskan Vidio itu maka aku akan membanting handphone kalian," ancam Bu Yuli.


"Apa maksudnya semua ini mas? kalau kau mau balas dendam kenapa menghancurkan pesta ini?" tanya ku pura-pura kecewa karena pesta pernikahan ini batal.


"Itu karena Ratna sedang mengandung anakku, tapi Bu Yuli tidak mengijinkan aku bertanggungjawab hanya karena aku miskin dan mantan narapidana. Tapi aku tidak mengira kalau laki-laki yang akan dijadikan ayah dari cucunya itu sama-sama miskin seperti ku."


Kurang ajar laki-laki itu malah menghinaku. Tapi aku tidak akan mempermasalahkan nya karena dia, aku tidak jadi menikah dengan Ratna.


Sekarang giliran aku akan buat perhitungan dengan Bu Yuli yang sudah berani menipu ku. Enak saja dia mau jadikan aku ayah dari anak yang sedang di kandung Ratna. Kalau jadi ayahnya Sasha tentu saja aku mau.


"Bukan begitu nak Haris, ibu hanya tidak ingin anak ibu menikah dengan mantan narapidana."


"Bu, mas ini juga sudah mau bertanggung jawab jadi apa masalahnya kalau mantan napi. Bukankah pak Darmin selalu bilang kalau Tuhan saja maha pemaaf, lalu kenapa Bu Yuli nggak mau menerima dia," kataku sambil melirik pria itu yang tidak tau siapa namanya.


"Itu karena ibu tau dia hanya ingin membalas dendam saja kan, bagaimana mungkin ibu melepaskan putri ibu satu-satunya padanya."

__ADS_1


"Balas dendam karena apa? Bu Yuli juga bisa sekalian menebus kesalahan dengan menikahkan putra ibu dengan wanita yang sudah ia nodai." Aku merasa sangat keren saat orang-orang memandangi ku. Tampak nya mereka juga setuju, ini saatnya aku menarik simpati mereka. "Betul nggak ibu-ibu bapak-bapak, Bu Yuli dan keluarga harus bertanggung jawab kan?" tanya ku pada warga.


"Betul itu... jangan lari dari tanggung jawab seperti penjahat Bu."


"Iya Bu Yuli ini kan sering menasehati kami, jadi seharusnya jadi contoh yang baik."


Aku sangat puas melihat Bu Yuli terpojok.


"Percuma, Bu Yuli dan keluarga sudah tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan kakak saya karena kakak saya sudah meninggal dua bulan yang lalu. Dia meninggal dengan cara bunuh diri, dia tidak kuat menanggung malu dan hinaan dari tetangga karena mengandung tanpa suami."


Semua orang menunduk mendengar hal itu, timbul rasa ibu dihatiku dan juga para warga pastinya. Kasihan sekali wanita itu, dia yang jadi korban tapi dia juga yang menanggung beban. Pastilah dia sangat tertekan dan tersiksa. Sungguh sangat bejat laki-laki tidak bertanggungjawab itu.


Ku hampiri ibuku yang sejak tadi diam membisu. Dia mungkin kaget dan merasa bersalah padaku karena lagi-lagi pilihannya salah. Sebenarnya bukan ibuku yang salah pilih, semua orang yang mengenal Bu Yuli akan beranggapan sama dengan ibu. Hanya saja Keluarga Bu Yuli lah yang sudah keterlaluan, memanfaatkan ibuku demi kepentingan nya sendiri.


"Ibu ayo kita pulang... Kita sudah nggak punya urusan apa-apa lagi disini."

__ADS_1


__ADS_2