
Kami pun makan siang bersama, termasuk dengan mbak Irma si pengasuh. Tante Jelita tidak pernah membedakan status sosial seseorang, mereka memang sudah biasa makan bersama.
Semua makanan yang ada di atas meja makan adalah buatan ibuku. Dia yang memasak di sini tadi, sambil menemani mbak Irma bersih-bersih. Padahal Tante Jelita tidak menyuruh ibuku memasak tapi ibuku sendiri yang mau, sayang katanya di kulkas ada banyak bahan makanan. Kalau tidak segera dimasak bisa pada busuk kalau terlalu lama di simpan di kulkas.
Sementara Mbak Irma memang tidak begitu pandai memasak, jadi dia hanya membersihkan rumah. Walaupun dia pengasuh tapi dengan senang hati mengerjakan apapun yang diperintahkan Tante Jelita karena gajinya yang memang tidak sedikit. Banyak yang iri dan ingin bekerja menggantikan mbak Irma katanya tapi Tante Jelita tidak mau karena dia orangnya tidak gampang dekat dengan orang baru.
Menurutnya, mbak Irma juga sangat cekatan dan tidak suka ikut campur atau komentar dengan urusan Tante Jelita. Maka dari itu Tante Jelita suka dengan kinerja mbak Irma.
"Ini enak sekali Bu, masakan Bu Wanti memang nggak ada tandingannya," puji Tante Jelita sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Mbak Lita bisa saja. Masakan mbak juga enak, kalau kata Haris seperti masakan restoran."
Ibu malah bawa-bawa namaku, aku kan jadi malu karena ketahuan sering memuji masakan Tante Jelita diam-diam. Tante Jelita memang lebih sering masak-masakan modern jaman now, jadilah aku seperti sedang makan di restoran. Nah kalau ibuku lebih jago masak makanan khas Indonesia.
"Ohh yaa... apa mas Haris suka masakan Tante?" tanya Tante Jelita yang duduk di sebelah ku.
__ADS_1
Aku gelisah dan gugup saat tangan Tante Jelita berulah lagi, padahal di depan kami ada ibu dan mbak Irma. "Ehh i--iya Tan, masakan Tante juga enak."
"Tante Jelita sangat iseng ternyata," gumamku.
"Bener kan mbak, padahal selama ini Haris nggak pernah mau makan masakan orang lain. Tapi kalau Mbak Lita yang ngirim makanan selalu dihabisin sama dia."
"Ibu..., jangan seperti itu Bu, aku malu."
"Kenapa malu, kan mbak Lita jadi tau kalau selama ini kamu suka masakannya."
"Bener itu mas, waah Tante senang sekali kalau mas Haris suka masakan Tante." Tante Jelita tersenyum genit sambil menggigit bibir. Tangannya juga masih nakal di bawah sana.
Ampun... aku bisa kewalahan begini bagaimana aku bisa tenang. Makanan pun sudah ditelan. Aku meraih gelas dan meminumnya hingga tandas, ini tidak baik. Tubuhku jadi panas.
Anehnya ibu dan mbak Irma sama sekali tidak melihat apa yang kami lakukan, ibu sibuk makan dan mbak Irma juga sambil menjaga Sasha yang ada di stroller bayi.
__ADS_1
"Tambah mas," ujar Tante Jelita sambil mengambilkan aku nasi dan lauk lagi. Padahal aku sudah habis sepiring tadi. Sepertinya dia sengaja agar aku tidak cepat pergi dari sana.
"Waah senang sekali kamu, Ris. Biasanya kalau di rumah juga ngambil sendiri," ujar ibu menyindirku.
"Nggak apa-apa Bu, mas Haris sudah banyak sekali membantu ku. Aku nggak bisa bales apa-apa." Tante Jelita membelaku, akhirnya ada juga yang membelaku kalau ibu sedang menyindir ku.
"Sudah sewajarnya kita sebagai tetangga harus saling tolong menolong mbak, jangan sungkan kalau butuh bantuan."
"Terimakasih Bu, kalau saja semua tetangga seperti Bu Wanti dan mas Haris. Pasti aku tidak bingung kalau mau minta bantuan."
"Sabar mbak, mereka hanya belum mengenal mbak Lita saja. Mereka hanya menilai seseorang dari luarnya dan terlalu berprasangka buruk pada orang. Dulu saat ibu baru ditinggal suami juga sama, banyak sekali yang sering membicarakan ibu. Nyebar berita yang nggak bener, sampai ibu bosen dengerinnya."
Ya aku ingat saat itu, waktu bapak meninggal aku kelas satu SMP. Saat itu sering ada ibu-ibu yang datang ke rumah lalu marah-marah. Saat itu aku belum begitu paham urusan orang dewasa. Tapi aku selalu berusaha pasang badan kalau ada yang macam-macam dengan ibuku.
"Begitu ya Bu, ternyata memang jadi janda itu tidak mudah ya Bu. Padahal nggak ada satupun wanita yang bercita-cita menjadi janda. Tapi dari pada bertahan dan nggak bahagia, aku lebih memilih pisah saja."
__ADS_1
Sekarang aku yang menggenggam tangan Tante Jelita. Kuusap menggunakan ibu jariku, menenangkannya. Saat ini aku juga akan melindungi Tante Jelita dari siapapun yang berani mengusiknya.