
Aku merasakan sakit di bagian punggungku, rasanya sangat menusuk dan berdenyut. Tidak itu saja, telinga ku menangkap suara orang menangis dan memanggil namanya. Ehh tunggu, apa aku sudah kembali sekarang. Segera aku buka mataku, sedikit demi sedikit takut ada cahaya silau itu lagi.
"Mas Haris... hiks hiks hiks."
Itu suara Jelita, tapi dimana dia. Aku buka mataku perlahan. Untunglah tidak menyilaukan seperti tadi.
"Ibu ... dek Jelita ..." Aku memanggil mereka yang aku sayang dengan sedikit tenaga yang aku punya.
"Mas Haris ... Bu mas Haris sudah bangun Bu." Aku mendengar Jelita berteriak heboh memberitahu yang lainnya. Kenapa apa melihat aku bangun begitu membuatnya sebahagia itu.
Semua orang langsung menghampiri ku, dan ada beberapa dokter juga disana. Wajah mereka sangat terkejut melihat ku bangun.
"Syukurlah, ini keajaiban. Pasien yang detak jantungnya sempat berhenti kini bisa bangun. Ini keajaiban," kata dokter.
"Alhamdulillah nak, akhirnya kau bangun juga."
"Mas Haris, akhirnya kau bangun."
"Tunggu, ada apa ini sebenarnya. Kenapa kalian menangis dan sangat bahagia saat aku bangun. Memangnya sudah berapa lama aku tertidur?" tanyaku.
__ADS_1
"Dua Minggu lebih, anda koma. Dan tadi pagi anda sempat kritis lalu detak jantung anda berhenti, sudah tidak bernafas juga. Kami sudah menganggap kalau anda sudah meninggal," kata dokter. "Semua berkat doa orang-orang yang sayang pada anda."
Aku terkejut, jadi aku tadi sudah mati. Jadi benar tadi aku sudah tidak bernyawa. Dan anak itulah yang membawa ku kembali. Siapa dia, apa dia malaikat.
Keadaanku semakin membaik setelah bangun. Ibu dan Jelita selalu ada di sampingku. Menjaga dan merawatku. Aku masih tidak percaya kalau aku koma selama itu, lalu bagaimana saat aku tidak ada. Ibu dan Jelita pasti sedih memikirkan aku.
"Maaf Bu. Aku sudah membuat kalian cemas." Kataku.
"Enggak apa-apa nak, kau selamat dan sekarang sudah bangun sudah membuat kami bahagia," kata ibu, entah bagaimana ibu hidup tanpa aku. Tubuhnya terlihat begitu kurus.
"Apa ibu tidak makan dengan benar saat aku tidak sadar. Kenapa tubuh ibu sangat kurus," ucapku cemas.
"Hussttt jangan bicara seperti itu Bu. Tidak ada yang boleh terbaring disini lagi setelah ini." Aku peluk ibuku, dia hanya punya aku seorang. Pastilah begitu sedih saat aku tak ada.
"Dek, Dek Jelita... kemarilah, kenapa kau begitu jauh." Aku memanggil Tante Jelita yang saat ini sudah aku rubah panggilannya.
"Iya mas, apa mas Haris butuh sesuatu?"
Aku menggeleng. "Aku butuh kamu, dek. Jangan jauh-jauh dariku." Aku menggenggam tangan nya sambil memeluk ibu.
__ADS_1
"Terimakasih ibu, terimakasih dek. Karena doa kalian aku bisa kembali. Terimakasih..." Air mata ku tak bisa dibendung lagi. Jujur aku juga sangat bahagia bisa melihat mereka lagi. Bisa memeluk mereka dan berkumpul bersama.
"Sama-sama mas." Jelita juga terharu. Ahh iya, aku juga merasa kalau dia sedikit kurang.
Tetangga dan kerabat bergantian datang menjenguk ku. Mereka juga bahagia mendengar aku sudah sadar. Mereka juga memuji ibu dan juga Jelita yang setia menemani ku di rumah sakit.
Saat ini aku sedang berdua dengan Jelita. Ibu sedang pergi mengantar pada tetangga ke depan.
"Dek sini," panggilku pada Jelita agar mendekat ke ranjang. "Duduk sini." Aku menepuk kasur disebelah ku.
"Kalau ibu lihat bagaimana mas, apa ada yang mas mau bicarakan."
"Tidak, aku cuma ingin memeluk mu. Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu, dek." Aku merengkuh tubuh Jelita. Aku peluk ia erat. Rasanya damai dan sangat nyaman.
"Mas ... aku juga sangat merindukan mu. Aku juga sangat merindukanmu. Aku sangat takut kau akan pergi dan tidak kembali. Aku takut mas Haris ninggalin kami."
Aku usap rambutnya, dia baru mau mengutarakan perasaannya padaku. "Mana mungkin aku meninggalkan kalian, ibu, kamu dan Sasha adalah orang yang paling aku sayang. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan kalian bertiga."
"Tidak, bukan bertiga mas, tapi berempat," ujar Jelita.
__ADS_1
Aku menyerngitkan keningku. "Siapa yang satunya lagi?"