Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 44. Mencari Cara


__ADS_3

Kabar berita yang Tante Jelita bawa sangat mengejutkan, aku sempat tidak percaya kalau tidak ada bukti yang menunjukkan kebenarannya.


Jadi begitukah kelakuan Ratna selama ini, lalu apa keluarganya tidak mengetahui hal itu atau mereka tau tapi mereka menutupinya.


"Apa dengan semua bukti itu semua orang akan percaya?" tanyaku ragu.


"Kalau Keluarga Bu Yuli belum tau mungkin akan sangat terkejut melihat kelakuan anaknya yang ia banggakan. Tapi kalau mereka sudah tau tapi menyimpan semuanya rapat-rapat, mungkin ada penyebabnya. Pertama mungkin karena tidak ingin nama baik Bu Yuli dan suaminya yang seorang pemuka agama itu tercoreng."


"Kedua mungkin karena tidak ingin kamu sebagai calon suaminya tau dan tidak jadi mau menikah dengan nya."


Perkataan Tante Jelita cukup masuk akal juga. Aku pun sependapat. "Tapi kenapa harus dengan ku Tan, menikah dengan ku nggak akan membuat nama baik mereka jadi lebih baik, aku bukan seorang pemuka agama dan sama sekali nggak pernah datang ke masjid."


"Justru itu yang membuat mereka memilih mu, pertama karena Bu Wanti yang ingin segera punya mantu dan kebetulan Ratna sesuai dengan kriteria Bu Wanti. Sholehah seperti apa yang kita lihat. Kedua, sepertinya masih ada hal yang tidak kita ketahui. Tante akan mencari tau..."


Aku merasa sangat beruntung mempunyai Tante Jelita yang mendukungku. Kalau tidak ada dia pasti aku sudah dinikahkan dengan Ratna sejak kemarin-kemarin tanpa aku selidiki dulu apa yang terjadi.


"Terimakasih Tan, terimakasih mau membantu ku."

__ADS_1


"Sama-sama mas, Tante nggak akan membiarkan wanita lain menjadi istri mas. Kalau semua ini terbukti dan kalian batal nikah. Tante akan berjuang untuk mendapatkan hati Bu Wanti."


Kedua tangan ku terulur menangkup kedua pipi Tante Jelita. Mataku menatap lekat bola matanya. Dari awal aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan umur ataupun status. Bagiku Tante Jelita adalah sosok yang membuat ku kagum.


"Aku juga ingin yang menjadi istri ku itu Tante bukan yang lain..." Bibirku langsung aku daratkan di bibir Tante Jelita yang tipis tapi menggoda itu.


Jika hal yang lain mungkin aku masih amatiran, tapi kalau dalam hal satu ini aku jamin ahlinya. Karena b1birku yang agak tebal memudahkan ku dalam menyerang lawan mainku.


"Mmmppp...." Suara decap mulai terdengar saat Tante Jelita mulai membalasnya. Rupanya dia tidak mau kalah dengan ku. Dengan gesitnya menari-nari di rongga mulut ku. Aku menyambutnya dengan suka cita, aku lilit dan ku ajak berdansa, bertukar rasa.


Hoshhh... Hampir lima belas menit kami saling merasa. Tidak ada yang mau kalah dan mengalah. Sebagai laki-laki aku pun tidak ingin mengalah, sebagai bukti kalau aku mampu. Kami saling bertaut dan membelit tak mau lepas. Tidak lupa tanganku pun tidak tinggal diam dalam memanfaatkan situasi. Terbukti dengan apa yang sudah terpampang nyata di depan mataku.


"Itu karena Tante terlalu menikmati permainan kita. Aku mau itu lagi Tan, boleh kan?" Gemas sekali kalau kedua benda itu sudah menantang. Ingin aku habiskan saat ini juga.


"Tapi mas Haris bukannya mau bekerja?"


"Ya ampun, kenapa aku sampai lupa." Aku menepuk kening ku sendiri, merutuki kecerobohanku. "Tan, aku harus segera berangkat. Terimakasih untuk semuanya," ujarku sambil membenahi pakaian ku yang berantakan.

__ADS_1


"Ya ampun mas, nggak usah buru-buru seperti itu. Naik motor nya juga jangan ngebut mas. Tante nggak mau mas Haris kenapa-napa," ujar Tante Jelita mencemaskan ku. Aku seperti sudah punya istri kalau begini.


Akupun mendekat ke Tante Jelita sebelum pergi, ku kecup keningnya mesra. "Aku akan berhati-hati Tan, aku juga nggak ingin ninggalin Tante."


"Jangan nakal juga ya mas, walaupun aku nggak lihat tapi aku bisa merasakannya kalau mas Haris nakall."


Deg


Aku jadi merasa bersalah karena merahasiakan masalah di pabrik dari Tante Jelita. tapi aku tidak ingin menambah pikirannya. Memikirkan Ratna dan keluarganya saja pasti cukup membuat pusing dan menguras tenaga dan uang.


"Mana mungkin aku begitu kalau punya Tante secantik ini yang menunggu ku."


"Mas Haris bisa saja, ya sudah hati-hati ya mas. Hubungi Tante kalau ada apa-apa."


"Iya Tan."


Aku mendorong motorku sampai ke ujung jalan agar tidak menimbulkan suara. Untung saja warga sekitar sudah pada tidur seperti nya. Di kompleks ini memang cukup sepi kalau malam.

__ADS_1


"Itu siapa, bukannya itu rumah Bu Yuli?


__ADS_2