
Bagian atas sudah terkuras kini giliran bagian bawah yang tumpah. Ini akibatnya karena aku lupa diri.
"Mas, nanggung... tolong yang bawah juga."
Melihat wajah Tante Jelita yang memohon dan memelas memang membuat ku tidak tega. Apalagi tubuhnya meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
"Tante yakin?" tanyaku, karena selama ini kami tidak pernah berbuat lebih jauh dari sekedar sentuh menyentuh bagian atas.
"Iya mas, bantu Tante ya..."
Aku menatap lapar pada tubuh Tante Jelita, dia memposisikan dirinya dengan sangat menggoda. Rok pendek yang ia pakai sudah tersingkap ke atas, kakinya ia buka lebar.
Glek, glek glek
Aku memperhatikan yang masih terbalut kain tipis. Terlihat jelas lipatan seperti bunga mekar di sana. Dari luar saja terlihat begitu indah. Berbeda sekali dengan Bu bos yang jelek.
"Ssshhh.... " Tante Adel mendesis.
__ADS_1
Jariku menyentuhnya dari luar, tapi sepertinya sudah berhasil membuat Tante Jelita kalang kabut. Kepalanya terus mendongak lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku baru pernah melihat Tante Jelita yang seperti ini.
"Maas... " panggilnya merengek manja, tangannya menyentuh ku yang sudah terekspos karena jemari Tante Jelita yang membukanya.
"Ok tan, aku akan mulai." Aku berlutut di bawah kursi jok mobil. Ku buka kaki Tante Jelita lebar-lebar dan aku dekatkan wajahku. sengaja aku ingin bermain dari luar terlebih dahulu.
"Mas ihhh... Tante geli mas ..."
"Ini belum apa-apanya Tan," kataku sambil mengerlingkan sebelah mataku.
Perlahan aku turunkan kain kecil yang sudah basah itu, lalu aku dekatkan pada hidungku yang mancung. Ku hirup aroma memabukkan khas wanita itu dalam-dalam. Sangat harum menurutku, sepertinya Tante Jelita sangat menjaga kebersihannya.
Takut ada yang curiga karena kami berdiam di mobil cukup lama, aku pun segera melanjutkan aksi ku. Hanya satu kata W O W. Di dalamnya seperti kelopak bunga merah merekah dengan putik di tengahnya yang siap untuk di ambil sarinya oleh kumbang seperti ku tentunya.
Ini gilaa, bentuknya sangat indah. Tidak seperti di video-video yang pernah aku tonton. Aku bahkan jadi tak tega mau mengambil sarinya. Bagaimana kalau keindahan ini jadi rusak karena ku.
"Tunggu apa lagi mas... Tante sudah sangat pusing kalau nggak segera diselesaikan."
__ADS_1
Aku tau itu karena aku sering merasakannya. Ternyata wanita juga merasakan hal yang sama. Baiklah, aku akan berhati-hati jangan sampai melukai kelopak bunga indah ini.
Ku dekatkan ujung hidung ku yang cukup panjang, entahlah padahal sama sekali tidak ada keturunan bule tapi hidungku memang tergolong mancung. Shhittt..!! Baunya sangat wangi, Persis seperti saat aku menghirup aroma bunga mawar merah yang baru saja merekah.
Sangat memabukkan dan membuat ku candu kalau begini. Tanpa menunggu lama lagi, aku mulai mengoyak satu persatu kelopak bunga itu.
"Mas Haris... Tante mau sampai... aaa... mas..."
Belum sampai sepuluh menit aku berselancar, Tante Jelita sudah bergetar hebat dan sari-sari madu itupun keluar begitu banyak. Dengan sigap aku membersihkan nya, terasa manis persis seperti madu yang di petik dari alam liar.
"Terimakasih mas... Tante sudah lama sekali tidak merasakan hal yang hebat seperti ini. Mas Haris sangat pandai memanjakan Tante," ujar Tante Jelita dengan Nafas yang masih belum teratur. Tubuhnya terkulai lemas, aku bangga karena mampu membuat Tante Jelita menjerit meneriakkan nama ku.
"Sama-sama Tan, aku sangat menyukai ini. Tentu sangat pandai merawat nya."
Lima belas menit kemudian. Akibat ulah ku tadi, Tante Jelita jadi minta tambah. Dengan senang hati aku pun memberikan apa yang dia mau. Karena aku memang sengaja. Baru saja kami merapikan pakaian dan sisa-sisa sari bunga yang tercecer ke bawah. Untung saja ini mobil pribadi Tante Jelita, jadi tidak perlu takut ada yang melihatnya.
Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat dimana aku menitipkan motor ku. Sepanjang perjalanan, aku masih saja menggodanya. Menyelipkan jariku di sana yang tidak terbungkus apapun karena tidak mungkin digunakan lagi. Bisa jadi masalah kata Tante Jelita.
__ADS_1
Dan akhirnya, siang itu aku berhasil membuat Tante Jelita meneriakkan nama ku sebanyak tiga kali. Sayangnya yang terakhir aku tidak bisa menikmati sari madu yang lezat itu karena aku sedang menyetir.