
Aku kembali terdiam setelah mendengar perkataan gadis di depan ku yang dengan gampangnya memutuskan mau menikah dengan ku. Atau dia di paksa orang tuanya kah? Atau dia tipe yang menikah dengan siapa saja tidak masalah.
"Begini dek Ratna, sebelumnya kita belum saling mengenal. Apa nggak sebaiknya kita saling kenal dulu, biar tau baik buruknya dan bisa dipertimbangkan lagi sebelum semuanya terlanjur," ujarku. Aku harap dia mau menerima saranku. Bisa gawat kalau dia langsung mau begitu saja, ibu bisa langsung menikahkan kami secepatnya.
"Tidak perlu mas, kita bisa saling mengenal saat sudah menikah."
DUAARRR!!! Kalah telak aku. Bagaimana bisa dia wanita yang berpikiran seperti itu. Lalu bagaimana kalau aku ini laki-laki yang tidak baik. Apa dia akan menerima semuanya setelah menikah.
"Tapi dek, apa kamu tau kalau aku tidak begitu taat beribadah dan banyak berbuat dosa," kataku lagi.
Ratna mengangguk dan menjawab, "Saya tau mas, semua orang punya masa lalu. Asalkan mas Haris mau berubah itu tidak masalah. Aku bisa menerima masa lalu mas Haris dan juga sebaliknya. Aku pun tidak luput dari dosa."
Aku mengusap wajah kasar, tidak tau bagaimana menjelaskan kalau sebenarnya aku tidak bisa menikah dengannya karena aku sudah mencintai wanita lain.
"Mas Haris mau pesan apa? Biar aku pesankan."
__ADS_1
"Es kopi saja." Aku perlu mendinginkan kepala ku saat ini untuk memikirkan langkah apa yang harus aku pilih selanjutnya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau gadis di depan ku ini akan berkata seperti itu.
Dia piring nasi goreng habis gadis itu makan sendiri. Aku tertegun melihat gadis bertubuh kecil itu makan begitu banyak. Awalnya memang dia pesan untukku tapi aku sama sekali tidak ingin makan, jadilah dia minta dan habiskan.
"Maaf mas, tadi saya belum sempat makan siang jadi lapar," katanya sambil tersenyum dan memegangi perutnya yang kekenyangan mungkin. Satu porsi saja isinya begitu banyak dan dia makan dua porsi sekaligus. Apa tidak apa-apa perutnya.
"Tidak apa, apa kau masih lapar? Pesan lagi saja kalau masih lapar."
"Memang tidak masalah mas kalau saya pesan lagi? Sebenarnya saya masih ingin makan es campur seperti yang mereka makan." Dia menunjuk meja di sebelah kami, dimana pengunjung nya sedang memakan es campur satu mangkok besar. Sepertinya semua makanan di restoran ini memang porsinya besar dan harganya terjangkau, pantas saja ramai pengunjung.
"Iya mas, saya masih lapar dan cukup kepanasan. Pas sekali kalau makan es campur."
Hah panas?? Padahal sejak tadi aku kedinginan karena kami berada di outdoor. Tapi bagaimana dia bisa merasa gerah. Apa karena dia memakai pakaian tertutup. Terserah dia saja mau makan seberapa banyak, sekarang yang harus aku pikirkan bagaimana caranya agar dia menolak perjodohan ini.
Selesai makan beberapa porsi yang membuat ku kenyang hanya dengan melihat gadis bernama Ratna itu makan. Aku pun mencoba membujuk gadis itu lagi.
__ADS_1
"Apa dek Ratna tau, kalau aku tidak taat agama. Sholat saja kalau mau, puasa bolong-bolong apalagi ibadah lainnya sama sekali tidak pernah melakukannya."
"Saya tau mas, umi dan Bu Wanti sudah cerita. Tapi mas Haris itu sangat sayang pada ibunya dan selalu memuliakan ibunya, itu cukup membuat ku kagum mas."
Kalau hal itu aku akui memang benar adanya, tapi apa iya hanya karena hal itu dia mau menikah dengan ku.
"Apa dek Ratna sudah yakin? Bukannya masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dalam hal ibadah."
"Banyak mas, tapi mereka belum tentu memuliakan orangtua. Meski mereka punya ilmu tapi hati mereka belum tentu ada yang ikhlas seperti mas Haris dalam membahagiakan ibunya."
Ya ampun, apa aku harus berubah jadi anak durhaka agar gadis ini menolak menikah dengan ku. Sabar Haris, pasti ada jalannya. Kalau memang bukan jodoh pasti akan ada jalan agar kami tidak menikah. Karena feeling ku mengatakan kami sama sekali tidak cocok. Pun saat berdua seperti ini, tidak ada perasaan apapun, seperti yang biasa aku rasakan saat sedang berdua dengan Tante Jelita.
Aku membayar makanan dan minuman yang kami makan. Meski aku sama sekali tidak makan tapi sebagai laki-laki aku tidak bisa membiarkan wanita mengeluarkan dompet. Kami pun memutuskan untuk pulang dan bertemu lagi lain kali. Aku menyuruhnya untuk memikirkan lagi, jangan buru-buru memutuskan karena pernikahan bukanlah hal yang main-main. Aku pun ingin menikah sekali seumur hidup dengan wanita yang aku cintai.
Belum Lagi masalah di pabrik terpecahkan, bertambah satu lagi. Sepertinya mulai sekarang aku harus memantau gadis itu sekaligus mencari celah yang bisa membuat ibu membatalkan perjodohan ini.
__ADS_1