
Aku sampai di depan ruangan bos. Ada di lantai dua gedung utama. Disana masih ada beberapa karyawan yang sedang bekerja di depan komputer dan buku-buku nya. Maklum lah, karyawan kantoran pasti beda kerjanya dengan yang bagian kuli pabrik.
Mereka menyapaku saat aku melewati mereka. Aku memang cukup populer di pabrik. Wajar saja kalau dari karyawan rendah sampai karyawan kantor mengenalku. Aku hanya membalas mereka dengan senyuman.
Tok tok tok. aku mengetuk pintu kantor bos. Tidak boleh langsung masuk begitu saja. Bisa-bisa langsung di pecat saat itu juga.
"Masuk."
Suara bos sudah memperbolehkan aku masuk. Aku pun membuka pintu perlahan.
Deg. Betapa terkejutnya aku saat masuk dan melihat bos dengan istrinya sedang bermesraan. Saat ini istri bos sedang ada di pangkuan pak bos. Dengan pakaian yang sedikit berantakan.
Aku segera menunduk, untunglah aku teringat pesan pak Irwan. Kalau berhadapan dengan bu bos harus selalu menunduk dan menjaga pandangan.
"Sayang... itu bawahanmu sudah datang."
Aku mendengar suara wanita yang aku tebak itu adalah suara Bu bos. Baru pertama kali aku mendengar suaranya, sangat lembut di telinga.
"Biarkan saja, dia bisa menunggu. Kita lanjutkan sebentar."
Ya ampun, apa aku masuk di waktu yang salah. Bagaimana bisa mereka tetap melanjutkan kemesraan mereka saat ada orang lain di depannya. Siaallann!! Bagaimana kalau mereka melakukan hal itu, apa aku harus tetap di sini.
"Uhh... shhh... sabar sayang. Kan kamu harus rapat sebentar lagi. Aku juga sudah sangat lapar. Nanti saja ya kita lanjutkan kalau kamu sudah selesai rapat."
__ADS_1
"Baiklah, tapi nanti kau harus melayani ku sampai puas."
Ingin sekali aku menutup telinga agar tidak mendengar suara itu. Tubuhnya sampai gemetar gara-gara mereka. Entah apa yang dilakukan pak bos sampai istrinya mengeluarkan suara seperti itu. Kalau saja aku berani mengintip pasti aku tau.
"Haris, kemari kamu," titah pak bos seenaknya setelah membuatku menunggu mereka bermesraan.
Aku pun maju sedikit dengan kepala yang masih menunduk. Semoga saja aku tidak menyandung apapun.
"Istri ku lapar, kau belikan makanan di restoran yang ada di sebrang jalan. Ini ambil catatan dan uangnya, apa saja yang istriku inginkan ada disana. Ambil saja kembaliannya."
"Baik bos." Aku maju lagi untuk mengambil uang dan catatan.
"Apa ada lagi yang kau inginkan?" pak bos bertanya pada istrinya.
"Itu saja, Vivi sudah lapar. Bilang pada bawahanmu agar tidak terlalu lama."
"Kau dengar itu Haris. Kau tidak boleh membuat istriku menunggu lama."
"Siap bos."
Aku bahkan sedikit berlari untuk sampai di restoran yang ada di sebrang jalan pabrik ini. Meski dekat tadi biasanya restoran itu cukup ramai pembeli dan harus antri. Aku harus segera sampai di sana.
Sepuluh menit aku sudah berhasil mendapatkan semua pesanan Bu bos. untunglah aku punya kenalan yang bekerja di restoran itu, jadilah aku bisa mendapatkan pesanan ku lebih dulu.
__ADS_1
"Dari kamu Har?" tanya Roni saat aku berhenti sebentar di pos dengan nafas yang memburu karena berlari.
Kutunjukan bungkusan makanan yang baru ku beli tadi. "Nih, pak bos nyuruh beli makanan." Setelah itu aku kembali berlari tanpa menunggu tanggapan Roni.
"Wooyyy... ngapain lari-lari..."
Samar aku mendengar teriakkan nya tapi tidak ku hiraukan. Yang penting sekarang aku harus segera mengantarkan makanan ini. Jangan sampai Bu bos kelaparan atau aku akan kena marah nantinya.
Setelah sampai di depan ruangan dan mendapatkan ijin untuk masuk aku pun membuka pintu. Aku hanya melihat Bu bos sendirian, sepertinya pak bos sedang rapat di ruangan yang lain.
"Kenapa lama sekali, aku sudah sang kelaparan."
"Maaf Bu, tadi restorannya cukup antri." Padahal aku sudah lari terbirit-birit tapi tetap dianggap lama. Memang benar kata pak Irwan, Bu bos ini lebih sulit dihadapi.
"Ya ampun, apa aku terlihat sangat tua sampai dipanggil Bu. Sepertinya aku harus bilang suamiku kalau anak buahnya menganggap ku tua."
DUAARRR!! Aku salah bicara ternyata. Bagaimana ini, kalau sampai dia lapor bisa habis aku.
"Ehh tidak Bu...ehhh mbak... tolong jangan bilang pak bos." Aku bingung harus memanggilnya apa.
"Kalau begitu panggil aku mba Vivi," katanya sambil memakan makanan yang aku bawa tadi.
"Baik mbak Vivi, maaf kalau Mbak Vivi tadi menunggu lama. Tapi saya sudah berusaha berlari tadi, anda bisa bertanya pada orang-orang di luar, mereka melihat saya berlari tadi," ujarku menjelaskan. Semoga saja masalah sepele seperti itu tidak diperpanjang.
__ADS_1
"Ok, aku tidak akan melaporkan kamu. Tapi ada syaratnya..."
Aku bergidik melihat wanita itu tersenyum padaku. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan segera menimpaku.