Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 74. Jangan Sakiti Putriku!


__ADS_3

Bug bug bug!


Para warga melawan anak buah Bagus. Suasana semakin memanas, anak buah Bagus tak segan menyerang warga. Tapi para warga tidak menyerah. Ditambah teriakkan ibu-ibu yang melihat suami mereka berkelahi.


Haris datang dan berhasil melerai mereka sementara. "Apa maksud dan tujuan anda datang kemari? Apa cuma mau membuat keributan, lebih baik segera pergi dari sini sebelum terlambat," sentak Haris.


"Aku tidak ada urusan dengan mu dan kalian semua jadi tidak usah ikut campur. Aku cuma ingin bertemu dengan putriku, Sasha. Jadi lebih baik kalian tidak usah menganggu." Bagus berkacak pinggang dan meneriaki warga.


"Hai... Kau lah yang sudah mengganggu kami. Kau teriak-teriak dan membuat keributan sampai membuat kami tidak bisa beristirahat."


"Ya benar, lebih baik kau pergi sebelum kami lapor polisi."


"Jadi anda mantan suaminya mbak Lita, wajar saja kalian bercerai kalau mantan suaminya kasar dan seperti preman."


Bagus semakin tidak terima karena semua warga memojokkannya. Dia maju kehadapan mereka. Satu tangannya mengepal dan mengayun ke udara.


"Janda melukai mereka, hadapi aku saja kalau berani." Haris berhasil lebih dulu mencekal tangannya.


"Kurang ajar!! Kau laki-laki itu, kebetulan aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan."


Haris dan Bagus saling menatap tajam, sedetik kemudian tangan Bagus mau memukul Haris tapi Haris tentu berhasil menghindar dan berbalik memukul perut Bagus hingga tersungkur.


"Apa yang kemarin tidak membuatmu kapok? Apa kau mau yang lebih parah dari itu," ujar Haris.

__ADS_1


"Kau... jangan senang dulu." Bagus memandang anak buahnya dan menyuruh mereka maju untuk menyerang Haris bersamaan. Ada sekitar delapan orang bertubuh besar dan bertato.


"Hai itu namanya tidak adil!"


"Ya itu benar, bagaimana Haris menghadapi orang sebanyak itu!"


Para warga merasa kasihan pada Haris yang dikepung dari berbagai sisi. Mereka pun berniat untuk membantu tapi istri mereka menahannya. Karena khawatir pada suami mereka yang sudah terluka karena perkelahian tadi. "Sudah pak kita lihat saja dulu. Nanti kalau Haris butuh bantuan baru kalian maju. Tadi juga sudah ada yang melapor ke pak RT, dan meminta bantuan lebih banyak."


"Hahaha... bersiaplah. Kau akan menerima akibatnya karena sudah berani padaku." Bagus tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri karena pukulan Haris tadi.


Haris pun bersiap, dia harus menyelesaikan ini. Dia berpikir bagaimana langsung menyerang titik-titik kelemahan mereka agar tenaga tidak terkuras.


Perkelahian pun tidak terhindarkan lagi, satu persatu anak buah Bagus menyerang Haris. Ada yang menyerang dari dengan dan belakang berbarengan membuat Haris sedikit kewalahan.


"Mas Haris!! Berhenti kalian, kenapa kalian melukai mas Haris," teriak Tante Jelita tapi mereka tidak mendengarnya. "Aku bilang berhenti! Jangan sakiti mas Haris... Hiks... mas Haris..."


"Ya Allah, kalian ini siapa? Kenapa mengeroyok anakku. Talong jangan sakiti anakku."


Tante Jelita dan Bu Wanti langsung mendekati Haris yang sudah kelelahan melawan mereka. Dua wanita itu langsung memeluk Haris erat tanpa takut terkena pukul orang-orang itu.


"Ibu... Tante... aku tidak apa-apa. Jangan cemas." Haris tidak ingin membuat dia wanita ia cintai bersedih.


"Tidak apa-apa bagaimana mas. Kau terluka mas," ujar Tante Jelita.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ini tidak sakit." Haris menghapus air mata di pipi Jelita. "Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan ini agar pria itu tidak akan menggangu kalian lagi."


"Wooo..." Plok plok plok Bagus bertepuk tangan. "Jadi ini calon suaminya, Lita. Karena dia kau tidak mau kembali padaku?"


"Walaupun tidak ada mas Haris, aku juga tidak akan mau kembali padamu. Laki-laki yang sudah berkhianat dan tidak peduli pada putrinya, lalu sekarang minta rujuk. Untuk apa? Aku sudah tidak butuh semua itu." Jelita meneriaki mantan suaminya.


"Kau berani?! Aku tidak akan membiarkan kalian menikah, aku akan menghabisi pria itu dan aku juga akan membawa Sasha denganku. Hahaha... Kalau kau mau putrimu kembali maka kau harus menikah dengan ku." Bagus langsung merebut Sasha dari tangan pengasuh nya dengan kasar. Tidak peduli anaknya itu menangis ketakutan dengan ayahnya sendiri.


"Kembalikan putriku pria brengseek!! Lihat dia saja takut denganmu, apa kau layak disebut bapak." Tante Jelita tentu menangis saat sang putri menangis ketakutan dan tangannya mencoba meraihnya.


"Hahaha aku tidak peduli, yang jelas kalau kau mau dia maka harus menikah dengan ku. Benarkan putriku... kau pasti senang kan kalau ibu dan bapak kembali," ujar Bagus sambil mencengkram rahang putrinya hingga bocah itu semakin takut.


"Lepaskan dia bedeb-ah!! Kalau kau berani melukainya, aku tidak akan segan menghabisi mu." Haris juga sangat cemas pada Sasha.


"Hahaha... apa kau sedang berusaha jadi bapak tiri yang baik. Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Serang dia!" Perintah Bagus pada anak buahnya.


"Mas Haris... hentikan semua ini Bagus. Tolong kau jangan menyakiti mereka." Jelita menangis ketakutan melihat putri dan laki-laki yang ia cintai berada dalam bahaya.


"Ada apa ini? Jangan membuat keributan di wilayah ini." Pak RT dengan banyak warga datang. Anak buah Bagus langsung mundur karena melihat jumlah mereka yang begitu banyak.


"Lebih baik kalian tidak usah ikut campur kalau tidak ingin anak ini celaka!" ancam Bagus sambil menodongkan pisau pada putrinya sendiri.


Sontak Jelita pun langsung menjerit ketakutan. Melihat benda tajam itu ada di depan putrinya. "Jangan, jangan sakiti putriku... aku mohon..."

__ADS_1


__ADS_2