
"Uhuk-uhuk.." Sabrina mulai batuk. Dan Sabrina tak lama kemudian nafasnya terasa sesak. Sabrina semakin tidak kuat menahan asap tersebut. Sabrina pun tidak sadarkan diri di tengah jebakan api.
"Wah, lihat itu.. Sepertinya gudang kampus mengalami kebakaran.." Seorang mahasiswa yang lain melihat kebakaran tersebut.
"Ayo kita ke sana.." Ajak teman yang lain. Mereka segera bergegas untuk memadamkan api. Dan ada juga yang melapor kepada pihak kampus.
Mereka menemukan sebuah buku Diary milik Sabrina yang tidak sengaja terjatuh depan gudang.
"Eh tunggu.. ini kan buku milik Sabrina.. Jangan-jangan Sabrina terjebak di dalam." Prasangka nya.
"Ga mungkin Sabrina ada di dalam bro.. Soalnya jelas-jelas ini sudah terkunci dari luar." Kata teman yang satu tidak percaya.
"Takutnya Sabrina terjebak di dalam. Mending kita dobrak saja pintunya." Kata teman yang lain masih berdebat. Tiba-tiba Vadim datang dan berlari ke arah gudang.
"Ada apa ini? Kenapa bisa terjadi kebakaran seperti ini?" Vadim bertanya heran.
"Kita ga tahu Dim. Kita melihat kepulan asap yang berasal dari gudang. Dan kita menemukan buku milik Sabrina. Kita khawatir kalau Sabrina terjebak di dalam." Sambil memberitahu buku diary milik Sabrina yang sempat dirusak oleh Vadim. Vadim tercengang melihat buku tersebut.
"Sabrina." Vadim panik dan langsung mencari cara agar pintu gudang itu bisa terbuka. Tidak ada jalan lain. Terpaksa Vadim mengambil sebuah batu yang cukup besar untuk membuka gembok itu. Dan akhirnya usaha Vadim berhasil. Gembok itu bisa terbuka. Vadim langsung membuka pintu gudang.
Dan Vadim sangat kaget ketika melihat Sabrina pingsan di tengah kobaran api. Vadim tercengang melihatnya. Segera Vadim berlari untuk menyelamatkan Sabrina.
"Sabrina.." Sambil menepuk-nepuk pipi Sabrina. Dan Vadim dengan segera menggotong Sabrina keluar.
Sementara Dae Hyung, Iya sibuk rapat dengan managernya. Karena Dae akan ada jadwal konser minggu depan. Setelah selesai rapat, Dae mulai membuka HPnya. Dae terkejut ketika ada banyak panggilan tak terjawab dari Sabrina.
"Kenapa Sabrina menelfonku berkali-kali ya?" Dae penasaran. Dan Dae pun menghubungi Sabrina balik. Ternyata HP Sabrina sudah tidak aktif.
Perasaan Dae menjadi tidak enak. Dae pun segera bergegas untuk pergi ke kampus A.N.
__ADS_1
Dae pun segera menancap gas mobil dan langsung melaju dengan kecepatan sedang.
...****************...
Ambulance segera datang. Vadim pun langsung menggotong Sabrina. tubuh Sabrina sedikit terkena luka bakar. Vadim juga ikut masuk ke dalam ambulance. Alat bantu pernafasan telah terpasang di hidung Sabrina. Dan Ambulance pun segera melaju menuju rumah sakit.
Dae pun tiba di kampus. Vadim heran mengapa ada ambulance keluar dari arah kampus. Dae pun langsung turun dari mobil dan bertanya kepada salah satu mahasiswa kampus.
"Maaf mas, ada apa ya? Kenapa ada ambulance?" Tanya Dae penasaran.
"Tadi ada kebakaran di gudang. Dan ada salah satu korban mahasiswi yang terjebak di dalamnya." Jelas salah satu mahasiswa.
"Mahasiswi? Namanya siapa? Dan dari jurusan mana?" Dae penasaran.
"Namanya kalau ga salah, Sabrina. Dan dia dari jurusan bisnis." Jelasnya lagi. Dae terkejut mendengar korbannya adalah Sabrina.
Dae sadar, ternyata yang menelfon nya berkali-kali ingin meminta bantuannya.
"Ok terimakasih mas." Kata Dae. Dan Dae pun segera menyusul Sabrina ke rumah sakit. Dae tidak memikirkan apa-apa lagi. Dae fokus menyetir mobil agar segera sampai ke rumah sakit.
Dan akhirnya Dae sudah tiba di rumah sakit. Dae segera menuju ke UGD. Dae melihat ada Vadim yang sedang menunggu nya. Dae segera menghampiri Vadim.
"Vadim, bagaimana Sabrina?" Dae panik.
Vadim melihat ke arah Dae kakak tirinya itu. Dan mengatakan kalau Sabrina masih ditangani Dokternya.
"Kenapa gudang itu bisa kebakaran?" Dae bertanya serius.
"Aku juga ga tahu bang.. Tiba-tiba saja Aku melihat kepulan asap berasal dari gudang. Dan ternyata sudah banyak mahasiswa yang berkumpul di depan gudang. Lalu mahasiswa itu memberikan sebuah buku milik Sabrina yang tidak sengaja jatuh di depan gudang. Aku merasa curiga kalau Sabrina terjebak di dalam. Ternyata benar setelah Aku berusaha membuka gembok Sabrina sudah tergeletak tidak sadarkan diri di tengah kobaran api." Penjelasan Vadim.
__ADS_1
Dae sangat menyesalinya. Mengapa Dae tidak segera mengangkat telfonnya disaat Sabrina membutuhkan dirinya. Dan Dokter pun selesai menangani Sabrina. Dae dan Vadim segera bergegas menghampiri Dokter.
Dae, Vadim : "Bagaimana keadaannya Dok?" Secara bersamaan. Dan mereka pun saling pandang.
"Saudari Sabrina cukup banyak menghirup asap. Dan tingkat keparahan luka bakar mencapai 20%. Sabrina membutuhkan perawatan secara intensif." Penjelasan Dokter.
"Apa boleh Sabrina untuk dijenguk dok?" Tanya Dae. Dokter pun mengijinkan untuk menjenguk Sabrina. Tetapi mereka tidak boleh bersamaan. Menjenguk Sabrina harus secara bergantian.
Dae dan Vadim berebut ingin masuk duluan. Mereka saling dorong. Dokter yang melihat tingkah mereka merasa heran.
"Eh, apa-apaan sih bang? Saya duluan yang jenguk keadaan Dia. Karena saya yang telah mengantarkan dia ke sini." Jelas Vadim.
"Enak aja lu.. Aku ini kekasihnya Sabrina.. Jadi Aku duluan yang berhak menjenguk Dia." Dae tidak mau kalah.
Mereka saling dorong dan berebut. Tidak lama-lama kemudian, angela dan Berlin datang.
"Minggir-minggir.. Saya Tantenya Sabrina.. Jadi yang paling berhak untuk menjenguk Sabrina itu saya.." Angela pun langsung masuk melihat keadaan Sabrina yang tidak sadarkan diri.
"Ya, ampun Sabrina.. kenapa bisa luka-luka begini?" Angela merasa terenyuh hatinya disaat melihat kondisi keponakannya. Angela pun langsung keluar karena tidak tega melihatnya.
"Angela, bagaimana Sabrina?" Berlin ikut panik. Angela menangis karena tidak bisa menjelaskan.
"Sabrina bak.. Aku tidak tega melihatnya.." Berlin langsung memeluk Sabrina. Dan menenangkannya.
Dae pun langsung masuk dan melihat keadaan Sabrina. Dae rasanya seperti orang cegukan ketika melihat Sabrina. Sabrina mengalami luka bakar di bagian wajahnya.
"Sabrina.. Maafin Aku.. Aku bukan laki-laki yang baik untukmu.. sekali lagi maafin Aku.. Aku tidak ada disaat kamu butuh Aku.." Sambil memegang tangan Sabrina. Dan Dae pun mengelus wajah Sabrina yang cantik. Mungkin kecantikannya tidak seperti dulu lagi.
"Kamu ga usah khawatir ya sayang.. Aku akan mengembalikan wajah cantik kamu seperti sedia kala. Aku akan berusaha sebisa mungkin." Kata Dae. Dae pun langsung keluar dari ruangan karena juga tidak tega melihat Sabrina.
__ADS_1
Sekarang giliran Vadim yang menjenguk Sabrina. Vadim tercengang melihat kondisi Sabrina. Tidak terasa air mata Vadim menetes melihat kondisinya.
"Sabrina, Aku yakin kamu kuat. Kamu itu cewek yang paling tangguh yang Aku kenal. Cepat sembuh.." Ucap Dae Hyung Yang seperti tidak kuat berkata-kata.