
"Sabrina, tolong jangan gitu lagi ya nak.. bagaimana pun kamu harus menghormati orang yang lebih tua." Ucapnya.
"Kenapa si bu, Ibu harus membela mereka terus? Jelas-jelas mereka menghina Ibu setiap hari. Masih saja Ibu membela mereka. Jika Ibu ada di posisi mereka seperti tadi, mereka tidak akan membela Ibu. Yang mereka akan tertawa puas. Dan satu lagi, Saya akan menghormati orang yang bersikap baik dengan saya." Ujar Sabrina. Dan Sabrina pun langsung masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Ibunya sendirian di luar.
Ibunya hanya melihat Sabrina yang meninggalkannya ke dalam rumah, sembari menggelengkan kepala. Sifat Sabrina mirip dengan sifat almarhum ayahnya. Sabrina memang anak yang baik, nurut sama orang tua.
Tapi, Sabrina juga merupakan orang yang keras kepala. Punya prinsip, dan tidak bisa disenggol sedikit. Sabrina memang memiliki jiwa pemberani. Rasa ingin tahu yang cukup tinggi.
...****************...
"Kenapa kak? Kok wajahnya terlihat kesal?" Tanya yeon dengan posisi duduk di sofa. Melihat raut wajah Sabrina yang terlihat sangat bete.
"Tidak apa-apa kok dek.. kakak cuma capek saja." Jawabnya dan langsung meninggalkan yeon. Tidak lama kemudian, Ibunya masuk dan yeon juga melihat wajah Ibunya seperti orang yang heran.
"Kak Sabrina kenapa bu?" Tanya Yeon.
"Tidak apa-apa yeon.. Kakakmu cuma capek saja." Ucap Ibunya. Dan Ibu Sabrina pun mengalihkan pembicaraan.
Yeon yang sudah mengerti akan kakaknya, tidak percaya dengan apa yang dibilang oleh Ibu dan kakaknya barusan. Yeon sangat mengerti bagaimana kakaknya.
Yeon pun menyusul Sabrina ke kamarnya.
Yeon mengetuk pintu kamar Sabrina. Dan Sabrina pun menyuruh Yeon untuk masuk.
"Kakak.." Ucapnya pelan.
"...... " Sabrina hanya melihat Yeon. Yeon pun duduk di samping Sabrina.
"Kak, ada apa sih kak? Wajah kakak muram loh.. cerita sama Yeon.." Ucap Yeon.
Sabrina pun hanya tersenyum dan menghela nafas panjang. Sabrina pun menceritakan hal yang sebenarnya. Yeon menggelengkan kepala mendengar cerita kakaknya. Yeon berfikir pantas kak Sabrina marah.
Yeon juga geram mendengar cerita dari Sabrina. Mungkin, jika Yeon yang berada di tempat itu akan melakukan hal yang sama. Yeon juga tidak habis pikir dengan Ibunya. Yang masih saja membela mereka.
"Sudah kak.. Kakak kan tahu sendiri, Ibu itu orang yang baik.. Mungkin Ibu juga punya alasan tersendiri kak," Ucap Yeon berusaha membuat hati kakaknya adem lagi.
"Hem.. mungkin kali ya.. Tapi, kakak cuma geram saja.. siapa sih yang Terima, jika orang tua kita dihina.." Ucap Sabrina.
...****************...
__ADS_1
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan rumah Sabrina. Pintu mobil dibuka dan seseorang yang berjas hitam turun dari mobil tersebut.
Orang itu berjalan menuju pintu rumah Sabrina. Setelah sampai, Dia mengetuk pintu rumah Sabrina. Seorang membuka pintu dari dalam.
"Dae?" Sapa Ibu Sabrina.
Sabrina yang masih di kamar bersama Yeon pun langsung dipanggil oleh Ibunya. Tak lama, Sabrina pun turun menemui Dae Hyun.
"Hai.." Sapa Sabrina dengan senyum.
"Jalan yuk.." Ajak Dae Hyun.
"Kemana?" Tanyanya penasaran.
"Ada deh.. entar juga tahu.." Kata Dae Hyun.
Tanpa banyak basa basi lagi, Dae Hyun menarik tangan Sabrina. Dae membawa Sabrina menuju mobilnya. Lalu Dae pun membukakan pintu mobil untuknya.
Sabrina pun masuk dan Dae segera menutup pintunya. Dae pun segera melajukan mobilnya. Dae membawa Sabrina ke suatu tempat.
Ternyata Dae membawa Sabrina ke suatu tempat yang menjadi kenangan mereka dulu.
Sabrina hanya mengangguk tanda iya ingat semuanya. Sebuah ruangan studio Dae Hyun ketika menjadi artis idola. Sabrina menyentuh semua alat-alat musik satu persatu yang masih tersimpan rapi. Sabrina merindukan momen-momen bersama dulu.
"Dae, boleh Aku memainkannya?" Kata Sabrina.
"Jelas boleh sayang.." Ucap Dae Hyun.
Kemudian Sabrina pun memainkan sebuah alat musik piano. Dan Sabrina menyanyikan sebuah lagu untuk Dae Hyun. Dae Hyun pun sangat menyukai lagu tersebut.
Dae pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Sabrina. Dae Hyun memeluk Sabrina dari belakang. Sembari mendaratkan sebuah ciuman di pipi Sabrina.
"Sayang, suara kamu masih seperti yang dulu ya.." Ucapnya. Sabrina hanya tersenyum malu.
Mereka saling bergurau satu sama lain layaknya seorang kekasih. Setelah dari studio itu, Dae membawa Sabrina untuk makan siang.
Setelah itu, Dae membawa Sabrina ke suatu pantai. Dimana suara ombak yang menderu di pantai itu. Sabrina dan Dae menikmati indahnya pantai di bawah pohon kelapa sembari tiduran.
"Sabrina, nanti kalau sudah menikah Aku pengen punya anak 4, 2 laki-laki, dan 2 perempuan." Ujarnya.
__ADS_1
"Gak ah, Aku maunya 2 aja cukup. Laki-laki sama perempuan." pendapat lain Sabrina.
"Pokoknya, 2 laki-laki dan 2 perempuan." Ujar Dae tidak mau kalah.
"Ih, apaan sih?" Kata Sabrina sembari mencubit pinggangnya Dae Hyun. Mereka saling bersenda gurau.
...****************...
Hari pernikahan Sabrina dan Dae Hyun sudah semakin dekat. Tinggal menghitung hari lagi. Dalam satu minggu ke depan, Sabrina dan Dae Hyun tidak boleh bertemu. Karena ada adat pingitan.
Sabrina dan Dae Hyun juga mengikuti adat istiadat di daerahnya. Baru kali ini Sabrina merasakan rasanya pingitan. Sabrina merasa seperti gadis lagi. Tapi, iya juga merasa rindu dengan Dae Hyun. Padahal baru 3 hari tidak bertemu.
Sabrina senyum-senyum sendiri dengan perasaannya. Padahal Iya sudah menjadi janda. Tapi, mengapa rasanya ketika bersama Dae Hyun itu berbeda?
"Dert.. dert.. dert..." Tiba-tiba HP Sabrina bergetar. Sabrina pun mengambil HP nya yang sedang berada di sampingnya. Sabrina melihat siapa yang telah menelfon dirinya. Ternyata calon suaminya.
"Halo.." Jawabnya Sabrina.
"Sayang, Kamu ngapain nih sekarang?" Tanyanya.
"Em.. gak ngapa-ngapain kok.. cuma lagi duduk santai saja. Eh bukannya kita ga boleh berhubungan dulu ya?" Ucapnya.
"Ya ga apa-apa dong.. kan cuma telfon doang.." Ucapnya.
"Iya tapi kan sama saja Dae.." Jawabnya lagi.
"Hem.. Iya deh kalau gitu.." Ujarnya.
Mereka pun mengakhiri telfonnya. Sebenarnya Dae merasa kangen dengan Sabrina. Sabrina juga merasa kangen. Kadang, Sabrina juga merasa lucu dengan semuanya.
Karena merasa boring, Sabrina pun akhirnya keluar rumah. Untuk mencari angin sebentar. Sabrina berjalan kaki untuk melihat pemandangan di desanya.
"Wah, ada kupu-kupu malam nih.." Tiba-tiba saja seorang ibu-ibu asal bicara ketika Sabrina lewat di depannya. Seketika Sabrina langsung berhenti melangkah.
Sabrina pun dengan kesal langsung menghampiri Mereka. Dan berdiri di hadapannya.
"Coba bilang sekali lagi?" Ucapnya.
"Kupu-kupu malam.. Kenapa? ga Terima? Emang benar Kan.." Ucapnya dengan beraninya.
__ADS_1
"Kalau saya kupu-kupu malam, terus kalian apa?" Ujar Sabrina balik bertanya.