
"Maksud kamu apa? Aku ga ngerti." Ucapnya.
"Kak, bisa ga sih masuk ke kantor orang pakai etika?" Ucap Yeon tiba-tiba. Membuat Sabrina terkejut.
"Dek, kenapa kamu belain Dia?" Sabrina heran.
"Karena kakak tidak sopan dan memalukan." Ucapnya lagi.
Sabrina menggeleng kepala. Yeon memang benar-benar sudah berubah. Sabrina memalingkan wajahnya ke arah Bisma. Iya menatap Bisma dengan tatapan tajam.
"Hasutan apa yang telah engkau masukkan ke pikiran adikku? Sehingga Dia membelamu." Ucapnya dengan pandangan tajam.
"Jangan pernah sedikitpun menyentuh kakakku dengan tangan kotor kak Sabrina." Ucap Yeon tiba-tiba dengan sedikit mendorongnya.
"Maksud kamu apa yeon?" Sabrina masih tidak mengerti dengan ucapan adiknya.
"Oh, jadi kakak belum paham dengan apa yang Aku maksud? Ya sudah biar Aku kasih tahu. Selama ini, kakak telah berbohong kepadaku. Kakak tidak pernah jujur siapa Aku sebenarnya. Sekarang, Aku sudah menemukan keluarga Aku yang sebenarnya. Bang Bisma. Selama ini kakak sengaja kan, menutupi semuanya? Agar Aku tidak dapat bertemu dengan keluargaku sendiri. Kakak kandung Aku sendiri. Karena keegoisan kakak yang terus menyimpan dendam dan kebencian." Ucapnya penuh amarah.
"Yeon, itu semua ga benar. Kamu sudah dibohongi oleh Bisma." Ucap Sabrina, sembari ingin meraih tangan Yeon. Namun Yeon malah menolaknya.
Sabrina terkejut dengan perlakuan Yeon. Iya tidak menyangka Yeon akan semudah itu percaya dengan orang yang baru dikenalnya.
"Kalau memang abang Bisma berbohong, coba buktikan sekarang. Apa kakak bisa membuktikan kebohongannya?" Tantang Yeon.
Sabrina hanya diam saja, karena iya merasa terdesak kali ini.
"Kenapa kakak diam? Bang Bisma tidak pernah berbohong, dan ini adalah bukti bahwa Aku adik bang Bisma." Kata Yeon dengan menunjukkan sebuah kertas.
Dimana kertas tersebut adalah hasil tes DNA. Sabrina meraih hasil tes tersebut dari tangan Yeon. Sabrina membaca dengan seksama hasil tes tersebut.
Sabrina melihat ke arah keduanya.
"Ga mungkin, ini ga mungkin.. Kamu jangan tertipu hanya dengan sebuah kertas dek.. Bisa jadi kan, ini adalah tipuan nya dia." Ucap Sabrina mengingatkan.
"Kakak harus bisa Terima kenyataan, karena kakak ga bisa lagi berbohong, dan ga bisa lagi memisahkan Aku dengan keluarga Aku." Ucap Yeon.
Bisma memanggil security, selang beberapa saat security pun datang. Para security tersebut memaksa Sabrina untuk meninggalkan ruangan. Mereka menyeret tangan Sabrina dengan kasar.
Sabrina dengan sekuat tenaga, melepaskan cengkraman security tersebut.
"Lepaskan! Saya bukan maling disini. Kalian ga perlu menyeret saya dengan kasar. Saya bisa pergi sendiri." Ucapnya dengan penuh emosi.
Sekilas, Sabrina melirik ke ruangan Bisma. Setelah itu, Iya pun langsung pergi meninggalkan kantor.
"Dasar Bisma licik. Apa maunya Dia? Sehingga Yeon saja dihasut olehnya. Awas kamu Bisma. Kamu telah mempengaruhi adikku. Sehingga Dia membenciku." Gerutunya sembari mengemudi mobil.
__ADS_1
Sabrina pun tiba-tiba meminggirkan mobilnya. Iya berhenti sejenak. Sabrina menyandarkan punggungnya di sebuah kursi mobil yang iya duduki sekarang.
Iya menghela nafas panjang. Pikirannya tertuju kepada adiknya. Bagaimana bisa iya mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya itu.
Yeon tidak tahu kalau dirinya sedang diselimuti oleh bahaya. Sabrina tidak ingin Yeon sampai larut dalam kepercayaan Bisma. Sabrina tidak ingin jika Yeon dimanfaatkan oleh manusia laknat itu.
Kalau begini terus, Lama-lama Yeon akan diperbudak oleh Bisma. Secara Bisma adalah orang jahat dan licik.
Selesai menenangkan pikirannya, iya pun melanjutkan perjalanan. Sabrina tidak langsung pulang. Iya terlebih dahulu menuju kantor suaminya.
...****************...
Sabrina memarkirkan mobilnya. Setelah itu, Sabrina membuka pintu mobil dan turun yang diawali dengan kaki kirinya. Sabrina mulai menutup mobil dan menguncinya.
Sabrina berjalan dengan langkah santai menuju gedung kantor suaminya. Sabrina disambut baik oleh para karyawan kantor. Dan Sabrina pun membalas sambutan tersebut tak lupa dengan senyuman.
Iya langsung menuju ruangan suaminya. Sabrina tersenyum melihat suaminya yang tengah bekerja dengan serius.
"Coba tebak, siapa?" Ujarnya dengan menutup kedua mata suaminya dengan tangannya.
"Ga perlu ditebak sayang, ini sudah pasti ratuku." Ucap Dae Hyun yang langsung membuka tangan istrinya.
Sabrina memeluk suaminya itu dari belakang. Begitu juga Dae Hyun membalas pelukan tersebut.
"Ga ada apa-apa kok sayang.. ini kan sudah siang, skip dulu lah kerjaannya.. Kita makan siang yuk.." Ucapnya.
Dae tersenyum melihat istrinya yang meminta makan siang dengan manja. Dae menuruti kemauan istrinya.
Mereka pun keluar dari ruangan untuk pergi makan Siang. Dae membawa Sabrina ke restoran miliknya. Restoran tersebut belum Sabrina ketahui bahwa restoran itu adalah miliknya.
Sabrina sangat senang ketika suaminya membawanya ke restoran itu lagi. Terlihat dari raut wajahnya.
Tiba-tiba,
**uek
uek
uek**
Sabrina tiba-tiba saja mual. Dan Iya langsung menuju ke sebuah toilet. Sabrina terus merasakan mual.
Dae yang panik langsung mengejar istrinya itu. Dae mengetuk pintu toilet.
"Sayang, kamu ga apa-apa kan? Sayang.." Panggilannya panik.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Sabrina membuka pintu toilet. Sabrina merasa dirinya seketika lemas. Tiba-tiba saja pandangan Sabrina menjadi gelap.
Sabrina pun terjatuh dan di tangkap oleh suaminya. Dae merasa panik ketika istrinya pingsan.
Tanpa banyak berpikir lagi, Dae langsung membawa istrinya ke rumah sakit terdekat.
...****************...
Sesampainya di rumah sakit, Sabrina ditangani oleh dokter. Dae tidak tenang dalam menunggu dokter yang menanganinya. Iya menunggu sambil mondar-mandir.
Tak lama pun dokter telah selesai menangani istrinya. Dokter meminta Dae untuk membicarakan kondisi istrinya di ruangannya.
"Bapak, selamat karena sebentar lagi Bapak akan menjadi seorang ayah." Ucap dokter itu.
Dae terkejut mendengar pernyataan dokter tersebut.
"Maksud Dokter, istri saya hamil?" Tanya Dae meyakinkan.
"Benar pak, dan usia kandungannya 5 minggu." Jawab Dokter.
"Terimakasih dok.." Ucapnya dengan gembira.
Dae segera menghampiri istrinya. Sabrina masih terbaring lemas. Iya mengelus kepala istrinya itu. Dan mengecup keningnya.
"Sayang, kamu tahu enggak? Sebentar lagi, kita akan punya baby.. Kamu hamil sayang.." Ucapnya riang.
Meskipun dalam keadaan lemas, Sabrina bahagia mendengarnya. Akhirnya Iya diberi kepercayaan lagi oleh yang maha pencipta.
Sabrina tidak kuat untuk duduk apalagi berdiri. Karena masih lemas. Dae tidak memaksa istrinya untuk berjalan. menggendong istrinya untuk menuju mobil.
Di perjalanan pulang, Sabrina terus saja mual-mual. Sabrina ingin segera sampai rumah.
...****************...
Sesampainya di rumah, Dae membawa istrinya ke kamar. Dae menyelimuti istrinya itu. Iya mengelus rambut sang istri dan mencium keningnya.
Dae pun beranjak dari tempat tidur dan ingin pergi ke Kantornya. Tiba-tiba Sabrina menahan tangannya.
"Mau kemana sayang?" Tanyanya.
"Sayang, Aku ke kantor dulu ya.. Kamu istirahat disini.." Ucapnya.
"Skip dulu bisa kan, please.. jangan pergi.. Aku mau kamu disini.." Ucapnya manja.
Dae Hyun tersenyum melihat istrinya manja seperti ini. Memang begitu kali ya, kalau orang hamil.
__ADS_1