Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Kepergian Sabrina


__ADS_3

Yang selalu ada ketika dirinya sedang terpuruk adalah Sabrina. Vadim baru sadar dan menyesali perbuatannya terhadap Sabrina. Iya menyesali, kenapa selama ini gantinya tertutup dan tidak melihat ketulusan Sabrina. Dia juga menyesal bahwa Iya telah menyia-nyiakan Sabrina. Istri yang sangat baik dan tangguh.


...****************...


Keadaan Sabrina sudah sangat baik. Dan dinyatakan sembuh. Sabrina pun boleh pulang dan yeon menjemput Sabrina. Sabrina tersenyum ketika melihat yeon menjemputnya.


"Kak, sekarang kita pulang ke rumah baru kita ya kak?" Ajak Yeon seok. Sabrina hanya mengangguk tersenyum.


Yeon pun membawa Sabrina ke rumah barunya. Sesampainya di sana, Sabrina melihat sekeliling rumah baru Yeon seok. Sabrina melihat rumah Yeon yang begitu besar.


"Ini rumah kamu sekarang dek?" Tanyanya tertegun.


"Iya kak.. Ini rumah Aku sekarang." Ucap Yeon Seok.


"Sekarang kamu menjadi orang sukses ya dek.. kakak bangga sama kamu." Ujarnya memuji adiknya.


"Kakak berjanji sama Aku ya.. kalau kakak tidak akan sedih lagi. Dan kakak akan menjadi wanita yang kuat yang pernah aku kenal." Ujar Yeon sambil menggenggam kedua tangan Sabrina.


"Hem.. iya sayang, kakak janji." Ucapnya sambil tersenyum. Yeon dan Sabrina pun berpelukan.


Sesuai janji Yeon, Yeon akan membawa Sabrina ke luar negeri. Yeon akan mengajak Sabrina untuk tinggal di sana dan memulai kehidupan baru.


Sabrina pun menuruti permintaan adiknya. Dan Sabrina juga ingin memulai kehidupan baru. Dan Iya ingin meninggalkan kehidupan yang kelam. Sabrina ingin mengubur masa lalu yang begitu menyakitkan dalam-dalam.


Masa lalunya cukup menjadi sebuah pelajaran berharga baginya. Dan Sabrina pun sudah ikhlas dengan semua yang pernah menimpa dirinya.


"Dek, kamu temenin kakak ke makam anak kakak ya.. Juga kakak ingin berziarah ke makam mama berlin dan papa Arya." Ujarnya.


"Siap kakak.." Jawab Yeon sambil memberi hormat layaknya komandan. Mereka pun berziarah ke makam anak Sabrina. Kebetulan makam anak Sabrina bersebelahan dengan makam kakek dan neneknya.


"Nanda sayang, mama datang untuk menjenguk kamu.. Maafin mama ya, karena baru sekarang mama mengunjungi kamu.. Nanda sayang, pasti kamu sudah bertemu dengan opa dan oma ya di sana? Baik-baik di sana ya.. mama sayang nanda." Ucapnya sambil mencium nisan anaknya. Kemudian, Sabrina pun beralih ke makam berlin dan Arya.

__ADS_1


"Ma, pa.. apa kabar kalian di sana? Maaf ya, Sabrina sudah lama tidak mengunjungi kalian. Sabrina cuma mau ngucapin terimakasih banyak karena sudah menyayangi Sabrina dengan tulus. Ma, pa.. titip Nanda ya.. semoga kalian tenang di sana.. Sabrina pamit ya ma, pa.." Ucapnya. Kemudian, Sabrina pun menaburkan bunga ke makam mereka.


Sabrina pun melihat sosok Berlin dan Arya serta anak kecil. Mereka terlihat mengulas senyum kepada Sabrina. Sabrina pun membalas senyum mereka. Mereka melambaikan tangan kepada Sabrina. Sabrina juga membalas lambaian tangan mereka.


Kemudian, selesai dari makam, Sabrina pun pulang yang ditemani oleh Yeon seok. Yeon memegang tangan kakaknya dan menyuruhnya untuk tersenyum. Dan tidak boleh sedih lagi.


...****************...


Rumah tangga Vadim kini makin hari semakin ga jelas. Melisa semakin menjadi-jadi dengan kegilaannya. Vadim pun merasa tertekan dengan tingkah melisa.


"Melisa, bisa ga sih.. kamu gak menghamburkan uang terus?" Ucap Vadim.


"Terus emangnya kenapa? pelit banget jadi suami.." Ucap melisa dengan nada tinggi.


"Dulu Sabrina tidak seperti kamu.." Ucapnya lagi.


"Sabrina dan Sabrina lagi. Sudah saya bilang, Saya itu beda dengan dia. Paham gak sih?" Ucapnya dengan kesal.


Malah Vadim tidak menahan kepergian melisa. Vadim sudah sangat kesal terhadap Melisa.


Vadim pun tidak memikirkan kepergian melisa. Vadim malah ingin pergi ke rumah sakit jiwa untuk menemui mantan istrinya. Sesampainya di sana, Vadim tidak mendapati Sabrina.


"Sus, pasien yang bernama Sabrina kemana ya? kok ga ada?" Tanya Vadim.


"Maaf anda siapanya?" Jawabnya.


"Saya, temannya. " Jawabannya.


"Suami? Bak Sabrina sudah pulang pak.. Bak Sabrina sudah sembuh." Jawab Suster itu. Vadim terkejut bercampur senang mendengar ucapan suster.


"Sembuh? Suster tahu alamatnya tidak?" Tanya Vadim.

__ADS_1


Suster pun memberikan alamat rumah Yeon kepada Sabrina. Vadim pun berterimakasih kepada suster karena telah memberikan informasi kepadanya.


Vadim segera menuju tempat tinggal Sabrina yang baru. Sesampainya di sana, Vadim pun mengetuk pintu. Dan ternyata yang membuka pintu adalah orang lain.


"Maaf, apakah Sabrina ada di sini?" Tanya Vadim yang mengira orang itu adalah pembantunya.


"Sabrina pemilik rumah ini mas? Wah Dia sudah pergi dari sini sebulan yang lalu." Jawab orang itu.


"Kira-kira ibu tahu dia pergi kemana?" Tanya Vadim.


"Wah, kalau itu saya kurang tahu mas, setahu saya, mbak sabrina pergi bersama adiknya. Mereka pergi ke luar negeri untuk menetap di sana." Jawab orang itu.


Vadim pun terkejut mendengar Sabrina telah pergi jauh. Kini rasa menyesal pun sudah percuma. Sabrina tidak akan kembali lagi kepadanya. Vadim seperti merasa sesak di dadanya. Iya seperti merasakan patah hati.


Benar kata orang, penyesalan itu akan datang belakangan. Dan benar kata orang, seseorang itu akan terasa sangat berarti ketika dia sudah pergi. Vadim pun langsung pulang ke rumahnya.


Sesampainya di sana, Vadim masuk ke kamarnya. Iya melihat foto janin itu lagi. Dan tidak sengaja di laci, Vadim melihat sebuah baju rajut untuk bayi. Vadim pun melihat baju bayi itu.


Vadim juga melihat di baju itu juga tertera nama Vanda. ( Vadim dan Nanda). Vadim tersenyum melihat rajutan itu. Dan disitu juga, Vadim melihat sebuah buku diary Sabrina yang sudah lusuh. Vadim pun mulai membuka buku diary itu.


*Vanda, Vadim dan Nanda. Aku sangat berharap suatu saat, Vadim akan menyayangi anakku dengan tulus. Karena anak ini adalah anaknya juga.


Vadim suamiku sayang, Aku mencintaimu. Aku berharap kamu akan menyayangiku juga dengan tulus. Walaupun rasanya itu tidaklah mungkin Aku dapat.


Mungkin dengan kehadiran anak kita nanti, keluarga kita menjadi keluarga yang utuh ya.. Kita menjadi keluarga yang sesungguhnya*.


Setelah membaca itu, Vadim pun meneteskan air mata. Iya merasa bersalah terhadap Sabrina. Dan Vadim pun teringat kata-kata ayahnya. Bahwa ketulusan seseorang itu, tidak akan datang dia kali.


Sekarang kata-kata itu menjadi kenyataan. Vadim hanya bisa menyesali semuanya. Dan Vadim merasa semakin sesak, ketika melihat sebuah kado yang tersembunyi. Ternyata kado tersebut adalah untuk dirinya. Sabrina memberikan sebuah jam tangan yang iya dambakan selama ini. Vadim semakin menangis.


"Sabrina, dimana kamu sekarang? Apakah kamu masih mencintaiku? Ah, rasanya tidak mungkin.. Aku sudah terlalu sering menyakitimu. Aku memang laki-laki brengsek. Maafin Aku Sabrina." Ucapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2