
Setelah selesai, Dae pun memutuskan telponnya.
Dae kembali menghampiri istrinya di tempat tidur. Sambil menatap sang istri, Iya sambil menghela nafas panjang.
"Ada apa sayang?" Tanya Sabrina.
Dae Hyun hanya menundukkan kepala tak berani menatap wajah istrinya.
"Sayang, memangnya siapa sih yang telfon? Mukanya kok lesu gitu? Ada masalah?" Tanya istrinya sekali lagi.
"Sayang, Aku harus ke hongkong besok. Soalnya Aku harus menyelesaikan pekerjaan di sana." Ucapnya lagi.
"Terus?" Tanyanya.
"Aku, kepikiran sama kamu sayang.. Terus kamu gimana? Apalagi kondisi kamu masih seperti ini.." Jawabnya.
Sabrina tersenyum mendengar ucapan suaminya. Kemudian Iya meraih tangan suaminya dan tersenyum.
"Sayang, kalau memang kamu harus pergi, ada sesuatu kerjaan ya ga apa-apa.. Aku baik-baik aja kok disini." ucapnya tulus.
"Terus yang mau ngurus kamu siapa sayang? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu.." Ucapnya penuh khawatir.
"Kan ada pembantu disini yang akan jagain Aku.. Jadi kamu ga perlu khawatir sayang.." Ucapnya.
Meskipun ada pembantu dan bodyguard, tetap saja Dae merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
Sementara Sabrina, sebenarnya Iya tidak ingin ditinggal oleh suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi, Iya tidak dapat berbuat apa-apa.
...****************...
Dae pun akan berangkat ke bandara pagi ini. Sabrina mengantar suaminya itu ke sana.
"Sayang, Aku berangkat dulu ya.." Ucap Dae Hyun.
"Iya sayang, Hati-hati di sana ya.. kalau urusannya sudah selesai cepat kembali." Ucapnya lagi.
Dae mengulas senyum, sembari mengecup kening sang istri. Sabrina sangat bahagia ketika suaminya mengecup keningnya. Dan Dae pun juga mengelus perut istrinya yang mulai membuncit.
Dae berjalan menuju pesawat yang akan Iya tumpangi. Sabrina melambaikan tangan kepada suaminya. Begitupun dengan suaminya.
Sabrina memandangi suaminya yang semakin menjauh. Setelah Dae diperkirakan duduk dalam pesawat, Sabrina pun mulai meninggalkan tempat.
Saat Sabrina ingin kembali, tak sengaja iya berpapasan dengan yeon. Seketika Sabrina terkejut dan langkahnya berhenti.
"Yeon, apa kabar kamu dek?" Ucapnya.
Yeon sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sabrina, Iya langsung pergi begitu saja dengan memasang wajah datar.
Yeon pergi dengan membawa koper. wajah Sabrina hanya mengikuti kepergian Yeon. Sabrina pun berjalan di belakang Yeon mengikutinya.
__ADS_1
"Yeon tunggu!" Ujarnya sembari menarik pundak Yeon.
"Yeon, sebenci itukah kamu dengan kakak?" Tanyanya.
"Lepasin Aku kak.. Aku bukan adik kakak lagi. kakak Aku adalah bang bisma. Bukan kakak." Ucapnya membuat hati Sabrina teriris.
Yeon tidak peduli dengan perasaan Sabrina. Iya pun langsung pergi begitu saja. Sabrina tidak putus asa iya terus mengejar Yeon.
"Tunggu Dek, kakak bisa jelasin semuanya." Teriaknya.
Seketika langkah Yeon terhenti. Dan Iya pun berbalik badan.
"Mau jelasin apa lagi kak? jelas-jelas kan kakak sudah bohong sama Aku?" Ujarnya.
"Dek, kakak tahu kakak salah.. tapi, kamu jangan percaya begitu saja dengan Bisma, Dia itu cuma mau menipu kamu saja. kakak ga mau kamu dia mencelakai kamu.." ucapnya mengingatkan.
"Halah, ga usah omong kosong kak.." ucapnya.
Yeon langsung pergi begitu saja. Iya tidak menghiraukan perkataan Sabrina. Sabrina hanya bisa pasrah dengan semuanya.
Sabrina harus mencari cara agar kedok Bisma dapat terungkap.
...****************...
Di rumah, Sabrina melupakan rencananya sejenak. Iya ingin istirahat dahulu sejenak.
Sabrina mengelus perutnya yang berusia 12 minggu itu.
"Hai sayang, besok waktunya kamu chek up kan?" Tanya Suaminya memastikan.
"Iya sayang.." Jawabnya.
"Besok jangan lupa untuk chek up nya loh. Oh iya, besok biar kamu diantarkan oleh bodyguard handal kita ya.. Biar kamu lebih aman." Ucap Dae.
"Iya, iya sayang.. makasih ya.. udah perhatian.." Ucapnya.
Dae Hyun baru saja sampai di bandara hongkong. Tapi iya sudah kepikiran kepada istrinya yang tengah mengandung.
...****************...
Sabrina tidak lupa dengan pesan suaminya kemarin. Agar tidak khawatir, iya mengikuti pesan suaminya itu. Iya chek up di rumah sakit dengan diantar oleh bodyguard.
"Bagaimana dok hasilnya?" Tanya Sabrina penasaran.
"Hasilnya bagus, janin Ibu Sabrina juga baik-baik saja tidak ada masalah. Tapi, Ibu harus tetap minum vitamin yang telah diberikan." Saran dokter.
"Baik, terimakasih atas perhatiannya dok.." Ucapnya.
Sabrina pun pamit kepada dokter tersebut. Sabrina berjalan keluar menuju mobil. Tak sengaja iya berpapasan dengan seseorang yang iya kenal.
__ADS_1
"Sabrina.." Sapa orang tersebut.
"Vadim?" Sabrina juga menyapanya.
"Kamu ngapain disini? Kamu sedang sakit?" Tanyanya.
"Enggak kok.. Aku cuma chek up saja. Kalau kamu disini ngapain? Kamu mau chek up juga?" Tanya balik Sabrina.
"Engga kok.. Aku kesini cuma mau jenguk teman." Ucapnya.
"Oh, gitu ya.. ya sudah kalau begitu Aku balik duluan ya..?" pamitnya.
Sabrina pun berlalu meninggalkan Vadim. Sementara Vadim, masih memandangi Sabrina yang semakin menjauh.
Sabrina mulai masuk ke dalam mobil. Dae pun menelepon Sabrina. Iya menanyakan hasil pemeriksaan kepada istrinya.
"Bayi kita sehat sayang.. itu kata dokter.." Ucap Sabrina di telfon.
"Syukurlah kalau begitu.. maaf ya sayang, Aku ga bisa temenin kamu chek up.." Jawabnya di sebrang telfon.
"Ga apa-apa sayang.." Jawab Sabrina.
Tak lama, Sabrina mengakhiri telfonnya. Tiba-tiba, Iya jadi menginginkan sesuatu. Sabrina meminta supir sekaligus seorang bodyguard untuk berhenti di sebuah restoran kecil.
Supir mengikuti perintah majikannya. Sabrina mulai turun dari mobil. Sabrina pun pergi ke restoran itu.
Sabrina memesan sebuah makanan yang dia inginkan. Mungkin Sabrina sedang ngidam makanan tersebut. Tanpa sengaja, Sabrina melihat seseorang yang iya kenal.
Orang tersebut sangat lah jauh posisinya sehingga mata Sabrina menjadi samar-samar melihatnya. Sabrina lebih mendekat ke arah mereka.
Ternyata benar, Sabrina tidak salah melihat. Iya melihat Bisma. Sabrina mencoba untuk duduk lebih dekat dengannya.
Agar tidak ketahuan, Sabrina menutupi wajahnya dengan buku. Sabrina mencoba mendengarkan percakapan mereka dengan seksama.
"Sekarang Yeon sudah percaya kalau Dia adalah adik saya." Ucap Bisma.
"Bagus! Sekarang tinggal rencana selanjutnya. Aku memang benci terhadap anak itu." Ucap perempuan yang sedang bersama Bisma.
Sabrina jadi mengernyitkan dahi. Iya heran rencana apa yang telah mereka rangkai. Tidak lupa Sabrina merekam percakapan mereka secara diam-diam.
Mereka pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Sabrina semakin menutupi wajahnya dengan buku tersebut agar tidak ketahuan.
"Yeon sekarang dalam bahaya. Aku harus segera menghentikan rencana licik mereka." Gumamnya dalam hati.
Sabrina segera mengambil makanan yang Iya pesan. Iya segera menuju ke mobil. Sabrina pun kembali ke rumah terlebih dahulu.
Sesampainya di sana, Sabrina menyuruh salah satu anak buahnya yang paling handal dalam pekerjaan detektif.
Sabrina menyodorkan sebuah foto kepada suruhannya. Iya menyuruh untuk menyelidiki orang yang ada di foto tersebut.
__ADS_1
"Baik Buk, perintah Ibu akan saya laksanakan."