
"Coba sekali lagi lo bilang.. Bisa ga, satu hari aja ga usah fitnah gue.. Kalau lo mau dideketin sama mereka, sama cowok-cowok tajir incaran lo.. Sana deketin sendiri.. Dan kalau mereka ingin mengejar lo.. Jadi perempuan itu yang baik, bukan cuma julidin orang.. Mending lo perbaiki hidup lo.." Sedikit mendorong melisa.
Melisa pun langsung mengadu di depan Vadim. Kebetulan Vadim sedang lewat depan mereka. Melisa memegang lengan Vadim dengan nada manja.
"Vadim, dia mendorong Aku.." Katanya dengan manja. Vadim merasa risih dengan sikap melisa. Vadim pun langsung melepaskan genggaman melisa.
"Wajarlah kalau Sabrina mendorong kamu. Karena kamu sudah membuat dia marah. Kamu sedang memfitnah dia bukan? Aku paling tidak suka jika ada punya cewek tukang fitnah.. paham!" Tegas Vadim.
"Maksud kamu apa vadim?" Melisa pura-pura tidak tahu.
"Lo hapus atau enggak postingan lo, jangan mengaku cewek aku kalau kamu masih suka memfitnah. Atau Aku akan benar-benar tinggalin kamu." Ancam Vadim.
Vadim pun langsung menarik tangan melisa. Dan membawanya ke mobilnya. Melisa merasa kesal dengan semuanya. Melisa menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
"Ih... sebel sebel sebel. Harusnya yang ditarik tangan gue, bukan Dia.." Kata melisa langsung down.
"Makanya, jadi cewek yang baik.. jangan tukang julid apalagi sampai memfitnah orang.. Dan jangan kegenitan juga.. Sebenarnya bukan Sabrina yang kegenitan sama banyak cowok. Sebenarnya lo yang iri.. karena ga ada cowok yang mau sama lo.. Gue tahu kok.. lo deketin kak Vadim itu karena uangnya kan.. Dan lo itu cuma dibuat hiburan saja sama kak Vadim." Kata Vino tiba-tiba. Dan kata-kata Vino tambah membuat Melisa semakin merasa kesal. Melisa benar-benar tersinggung dengan kata-kata Vino.
"Awas aja kalian.. bakal gue balas kalian.." Teriak Melisa. Teman-teman melisa berusaha menenangkan melisa. Dan mereka mengelus pundak melisa.
...****************...
Sabrina menemui Dae Hyung di markasnya. Sabrina membawakan makanan untuk Dae Hyung. Sabrina dengan semangat membawakan makanan kesukaan Dae Hyung. Dengan menenteng sebuah rantang kecil yang berisi makanan. Sabrina berjalan dengan santai dan senang.
Sabrina pun mulai memasuki markas Dae. Teman-teman Dae Hyung pada melihat Sabrina. Mereka mengulas senyum kepada Sabrina. Sabrina pun membalas senyum mereka.
"Oh iya, Dae dimana ya?" Tanya Sabrina kepada teman-temannya.
__ADS_1
"Itu Dae di sana.." Sambil menunjuk ke arah Dae.
Sabrina melihat Dae sedang latihan bela diri. Sabrina tersenyum ketika melihat Dae Hyung. Sabrina pun menghampiri Dae Hyung. Sabrina berdiri di belakang Dae.
"Dae.." Sabrina memanggil. Dae pun menghentikan latihannya dan langsung membalikkan badannya. Dae melihat Sabrina tersenyum kepadanya. Tetapi, Dae tidak membalas senyum Sabrina.
"Ngapain lo kesini." Ujarnya seperti tidak suka dengan kedatangan Sabrina.
"Sayang, Aku bawain makanan kesukaan kamu nih.." Katanya sambil membukakan makanan untuknya.
"Kamu makan ya.." Sabrina sambil ingin menyuapi Dae Hyung. Tetapi Dae Hyung menolak.
"Kenapa Dae, kamu makan ya.. ini makanan kesukaan kamu loh.." Sabrina memaksa. Dae yang tidak bisa dipaksa, dengan emosi Dae malah membuang makanan yang dibawakan Sabrina. Makanan tersebut dilempar ke lantai oleh Dae Hyung. Sabrina hanya memandangi makanan tersebut.
"Aku kan, sudah bilang sama kamu.. Aku mau makanan apapun dari kamu.. kamu itu ngerti ga sih, hah? Dengar enggak apa yang Aku bilang?" Bentak Dae, Dan membuat Sabrina kaget. Dae langsung pergi meninggalkan Sabrina. Sabrina hanya memandangi Dae.
Sabrina harus berusaha kuat. Sabrina pun pamit pulang di hadapan Dae dengan menundukkan kepala. Sabrina tidak ingin menangis di hadapannya. Setelah jauh, Dae memandangi Sabrina.
"Maafin Aku Sabrina.. Aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalah Aku.. Aku ingin kamu aman. Aku lakuin ini, supaya kamu membenciku. Dan tidak berharap lagi dariku.." Kata hati Dae Hyung.
"Dae, kenapa lo ga kejar dia saja.. Awas nyesel nanti loh.." Kata temannya. Dae hanya tersenyum mendengar ucapan temannya. Memang itu yang Dae harapkan. Sabrina bisa hidup bahagia dengan orang yang tepat. Orang yang bisa membuat dia nyaman.
Sabrina pulang dalam keadaan sedih. Iya berjalan sambil melamun. Tanpa disadari Sabrina diikuti oleh seseorang. Mereka adalah komplotan penjahat yang menggunakan teropong. Mereka menghalangi langkah Sabrina.
"Mau kemana cantik? Hahaha.." Mereka menggoda Sabrina.
"Mau apa kalian?" Sabrina sedang tidak mood untuk melawan mereka.
__ADS_1
"Ringkus Dia!" Perintah Sang leader.
Karena emosi menendang kedua penjahat itu. Dan anak buah leader itu terkapar. Leader pun terkejut melihat keberanian Sabrina. Leader itu menyerang Sabrina. Tetapi, Sabrina sangat sulit dikalahkan. Akhirnya Leader memanggil anak buah yang lain.
Sabrina melihat satu persatu dari mereka yang berjumlah 10 orang. Sebenarnya Sabrina agak takut menghadapi mereka. Karena tidak mungkin Sabrina melawan mereka sendirian. Sedangkan mereka dengan jumlah 10 orang berbadan besar semua.
"Dasar pengecut kalian.. Beraninya hanya keroyokan." Kata Sabrina sambil waspada.
"Sudahlah cantik, menyerah saja. kamu tidak akan bisa melawan kami.. Kamu akan kami jadikan wanita pemuas kami.. hahaha.." Kata-kata mereka membuat Sabrina semakin emosi.
"Aku ga pernah takut sama kalian." Ujar Sabrina.
"Semakin berani ni bocah. Serang Dia!" Perintahnya. Mereka pun menyerang Sabrina secara bersamaan. Bahkan dari mereka ada yang membawa senjata tajam. Beruntung Sabrina sangat mahir menghindari rekaman senjata tajam itu.
Karena Sabrina hanya seorang diri, Sabrina pun dapat terkalahkan. Senjata tajam itu dapat melukai kulit mulus Sabrina. Dan juga melukai punggung Sabrina. Dengan sisa tenaga Sabrina, Sabrina pun masih melawan mereka.
"Sabrina?" Vino melihat Sabrina yang dikeroyok oleh beberapa preman. Vino pun segera membantu Sabrina dan tidak lupa menelfon polisi.
Vino juga jago dalam ilmu bela diri. Vino dengan gagahnya mengalahkan mereka satu persatu. Senjata tajam dapat Vino patahkan. Dan tak lama kemudian, Polisi segera datang. Mereka pun akhirnya lari dan segera menaiki mobil.
"Sabrina, kamu tidak apa-apa?" Vino segera menghampiri Sabrina.
"Sabrina, kamu terluka? Kita ke markas bang Dae sebentar ya.. Kita minta obat di sana." Ujar Vino.
"Jangan Vino, ga usah.. Aku ga apa-apa.." Sabrina menolak.
"Sabrina, kamu butuh obat itu.. senjata tajam itu mengandung racun yang sangat mematikan.. kalau kamu tidak segera diobati, akan berakibat fatal bagi kamu.." Ujar Vino.
__ADS_1
Sabrina berusaha menahan Sakit. Namun, Sabrina tidak bisa menahannya. Iya mengerang kesakitan. Dan tidak banyak waktu lagi. Vino membawa Sabrina ke markas Dae Hyung. Karena cuma Dae Hyung yang punya obatnya. Dan tempat itu masih tidak terlalu jauh dari markas Dae.