Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Perhatian Sabrina


__ADS_3

"Heh, kurang ajar banget kamu." Melisa semakin berani dan sambil ingin melayangkan sebuah tamparan kepada Sabrina. Namun, Sabrina menangkap tangan Sabrina. Sabrina pun melintir tangan Melisa ke belakang. Melisa merasa kesakitan dan dengan emosi, Sabrina pun mendorong melisa hingga tersungkur ke lantai.


Vadim sangat kaget karena Sabrina sekasar itu. Vadim pun ingin membalas Sabrina, Iya juga melayangkan pukulan kepada Sabrina. Sabrina tidak mau kalah. Iya juga menangkap tangan Vadim dan balik menampar Vadim. Sabrina pun menendang Adik junior Vadim. Vadim merasa kesakitan.


"Dengar ya, kalian mau ngapain aja terserah.. Tapi, jangan pernah menjadikan Aku sebagai babu kalian.. Aku disini sebagai ratu bukan babu." Sabrina membentak. Vadim dan melisa masih tertegun.Sabrina pun pergi ke kamar.


"Gila, galak banget istrimu sayang? Sumpah kalau gue jadi elo..udah gue buang dia." Ujar Melisa.


Vadim hanya diam saja tidak menjawab kata-kata Melisa. Vadim tidak mungkin membuang Sabrina begitu saja. Karena bisa berakibat fatal kalau sampai mereka berpisah. Jika sampai Sabrina pergi dari Vadim, maka Vadim akan dicabut dari ahli waris keturunan Berlin.


Terlebih lagi Sabrina sedang mengandung cucu Berlin. Jadi sangat ga mungkin baginya untuk mencampakkan.


Di kamar, Sabrina mengusap dadanya. Iya berusaha untuk bersabar. Sebenarnya Sabrina merasa sedih dan kecewa karena kelakuan Vadim. Tetapi, Sabrina berfikir. Mengapa Sabrina harus merasakan kecewa, dan terluka. Karena pada dasarnya Vadim memang tidak pernah mencintainya.


Mereka memanglah menikah secara terpaksa. Tetapi, apakah salah bagi seorang Sabrina merasakan cemburu. Apakah salah bagi dirinya jika iya ingin diperhatikan oleh suaminya sendiri.


Sabrina memanglah wanita yang kuat, tangguh dan tidak lemah. Tetapi iya tetaplah wanita yang memiliki hati yang rapuh. Iya juga merasakan kecewa karena cinta.


"Ya, Tuhan.. Apakah Aku tidak pantas untuk bahagia? Mengapa engkau selalu pertemukan Aku dengan orang-orang yang tidak menyayangiku dengan tulus?" Lirihnya sambil mengusap air mata.


...****************...


Meskipun dalam keadaan hamil, Sabrina tetap memperhatikan suaminya. Mulai dari memasak untuknya, menyiapkan baju kantor, Vadim selalu mendapat pujian orang-orang kantor karena selalu rapi penampilan.


Itu semua karena Sabrina yang selalu perhatian. Namun, perhatian Sabrina tidak pernah ada artinya di mata Vadim.


"Vadim, sarapan dulu ya.. Aku tahu kok, kamu ga suka sarapan sama Aku kan.. ga apa-apa kok.. Aku bisa makan belakangan." Ujar Sabrina. Baru kali ini Vadim sarapan terlebih dahulu di rumahnya.

__ADS_1


"Ok, Aku sarapan di sini saja. Tapi dengan catatan Aku tidak mau dekat-dekat dengan kamu.. Mending kamu menjauh, sebelum selera makan Aku hilang." Pinta Vadim. Sabrina hanya mengangguk dan langsung pindah ke belakang.


Sabrina memandangi Vadim sarapan dengan lahap. Meskipun Iya tidak ikut makan bersamanya. Sabrina merasa senang dan bahagia. Karena Vadim makan dengan lahap.


Sepertinya, Vadim sangat menyukai dan menikmati masakan Sabrina.


"Masakan kamu enak.. Besok masak kayak gini lagi.. tapi tetep, Aku ga mau melihat wajah kamu ketika Aku makan. Paham?" Kata Vadim kepada Sabrina yang menghampirinya pas selesai makan. Sabrina pun mengangguk mengerti. Sabrina segera membereskan piring yang kotor bekas Vadim.


"Ting.. tong.." Suara bel rumah berbunyi. Sabrina segera membukakan pintunya.


"Mama?" Sapa Sabrina. Berlin langsung masuk. Dan Sabrina ingin membuatkan minuman untuknya. Namun, Berlin melarangnya.


"Sayang, kamu kan lagi hamil.. Jangan capek-capek ya.. Oh iya, sekarang kan waktunya kamu kontrol.. Vadim mana?" Perhatian Berlin.


"Vadim, sudah berangkat ma.." Jawab Sabrina.


"Kebiasaan banget itu anak.. Harusnya Dia nganterin kamu dulu ke rumah sakit.. baru pergi kantor.." Ucap Berlin ngomel-ngomel.


"Sabrina, menurut mama Vadim itu beruntung punya istri seperti kamu.. Perhatian, sabar, dan juga jadi bodyguard buat Vadim lagi.. Mama cuma berharap Vadim itu membuka matanya lebar-lebar untuk kamu.. Biar dia bisa melihat seperti apa baiknya kamu untuknya." Ujar Berlin.


"Ma, Aku yakin kok.. nanti ada saatnya Vadim itu akan terbuka mata hatinya.. kita harus sabar. Ini ujian bagi Sabrina.." Ucap Sabrina membuat hati Berlin menjadi adem.


Berlin tersenyum bangga terhadap Sabrina. Berlin merasa beruntung punya menantu sepertinya. Karena Sabrina dapat menerima segala kekurangan Vadim. Berlin sangat takut, jika Vadim akan kehilangan sosok istri seperti Sabrina. Jika Vadim terus-terusan bersikap seperti itu kepadanya.


"Sayang, biar mama antar kamu chek up ya.. Mama ingin lihat perkembangan calon cucu mama.." Ucapnya. Sabrina mengangguk.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter mulai memeriksa kandungan Sabrina. Dokter menunjukkan penampakan janin di rahim Sabrina lewat USG. Berlin merasa sangat bahagia ketika melihat calon cucunya.

__ADS_1


"Janinnya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, Ibu Sabrina tetap harus istirahat." Ucapnya.


"Terimakasih dokter.." Ucap Berlin senang.


"Sayang, pokoknya kamu tetap ga boleh terlalu capek. Oh iya, kamu ngidam apa? Biar mama belikan sayang.." Ucap Berlin memberi perhatian.


"Enggak kok ma.. Aku ga ngidam apa-apa.. biasa aja ma.." Ucap Sabrina.


"Masak si, ibu hamil ga ngidam apa-apa?" Tanya Berlin tidak percaya.


"Beneran kok ma.. Aku ga ngidam apa-apa.." Jawabannya meyakinkan.


Berlin pun mengantar Sabrina pulang. Sesampainya di rumah, Berlin tidak ingin cepat pulang. Berlin masih ingin bersama Sabrina. Berlin merasa nyaman dan asyik ketika ngobrol dengan menantunya.


...****************...


Vadim pulang dengan keadaan babak belur. Sabrina pun kaget melihat Vadim wajahnya penuh lebam. kedua bodyguard Vadim merapat Vadim.


"Ya, ampun.. suamiku kenapa pak?" Tanya Sabrina heran.


"Kami menemui pak Vadim di bar buk, pak Vadim berantem dengan orang-orang ga dikenal. Dan kami menemukan pak Vadim sudah terkapar." Ucap Bodyguard Vadim.


"Cepat bawa Vadim ke kamar ya pak.." Kata Sabrina. Bodyguard pun membawa Vadim ke kamarnya.


Sabrina membuka sepatu Vadim. Dan menggantikan baju suaminya. Sabrina pun mengompres wajah Vadim yang lebam dengan air es. Sabrina juga mengobati luka Vadim.


Vadim pun menggigil, Sabrina memegang wajah Vadim. kulit Vadim demam. Sabrina pun mengecek suhu tubuh Vadim. Sabrina kaget, ketika suhu tubuhnya naik.

__ADS_1


Sabrina segera memberikan pertolongan pertama. Sabrina mengompres Vadim dengan air hangat. Sabrina rela menunggu Vadim sampai mendingan. Sabrina rela tidur dengan posisi duduk di samping Vadim.


Meskipun dalam keadaan hamil, iya rela menunggu suaminya yang sakit. Hingga pagi pun menyapa. Vadim pun agak mendingan, panasnya sudah turun. Vadim mulai sadar dan melihat Sabrina tertidur di sampingnya dengan posisi duduk.


__ADS_2