Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Vadim apes


__ADS_3

"Ih, kenapa ga diangkat sih? Sebel gua kalau kayak gini.. sial." Ucapnya kesal.


"Ok, kali ini Aku kalah. Tapi, lain kali Aku pasti menang. Tunggu saja pembalasanku." Pikirnya.


...****************...


Sabrina sedang mengelus perutnya. Iya berbicara dengan calon bayinya. Karena tidak kerjaan yang ingin dikerjakan, Sabrina membuat baju rajut untuk bayi.


Sabrina memberi nama di baju tersebut. Sabrina memberi nama Vanda. Vadim dan Nanda. Sabrina memberi nama di baju rajut itu karena Iya memiliki harapan. Dia berharap, Vadim akan menerima anaknya.


Sabrina membuat baju rajut itu tanpa sepengetahuan Vadim. Setelah selesai membuat baju rajut itu, Sabrina pun menyimpannya dengan rapih.


Bunyi klakson mobil Vadim pun berbunyi. Sabrina bergegas untuk membuka pintu. Sabrina terkejut, ketika Vadim pulang bersama melisa.


Sebenarnya, hal ini bukan pertama kali Vadim membawa melisa ke rumahnya. Tetapi, tetap saja ada rasa tidak rela di hati Sabrina. Vadim pun sambil merangkul pundak melisa.


Mereka berjalan menuju kamar tanpa mempedulikan Sabrina. Melisa melirik Sabrina dan tersenyum sinis kepadanya. Sabrina pun mengikuti mereka.


"Kamu mau ngapain bawa dia ke kamar?" Kata Sabrina sambil melepaskan pelukan mereka dengan paksa.


"Kenapa? Kamu cemburu? Mau ngadu sama mama? Silahkan saja aduin, Gue gak takut. Lagian, melisa ini memang pacar gue dari dulu. Dia perempuan yang perhatian, baik lagi. Gak kayak kamu.. Istri ga berguna." Ujar Vadim dengan kasar.


"Heh, ngaca dong lo.." Sambil sedikit mendorong.


Sabrina hanya menggelengkan kepala. Sabrina kali ini sangat malas untuk adu debat dengan mereka. Sabrina pun tidur di kamar lain. Sabrina menghela nafas dalam-dalam.


"Tok, tok, tok.." Seseorang sedang mengetuk pintu. Sabrina segera membuka pintu. Sabrina kaget, karena melisa tiba-tiba berdiri di depan pintunya.


"Hai, istri ga dianggap.." Kata melisa. Sabrina langsung saja menutup pintunya kembali. Namun, melisa malah menahannya. Sampai Sabrina tidak dapat menahan.


"Kamu maunya apa sih?" Ujarnya. Melisa pun masuk dengan memaksa. Iya melihat sekeliling kamar yang ditiduri oleh Sabrina.


"Miris banget ya hidup lo? Punya suami, tapi ga dianggap sebagai istri. Kalau gua jadi elo.. Gue udah mundur.. dasar cewek bodoh.." Ujar melisa.


"Sudah, bicaranya? Kalau sudah silahkan kamu keluar dari kamar saya.." Usirnya.


Melisa pun langsung pergi dari kamarnya Sabrina. Segera Sabrina menutup pintu. Sabrina sudah makin kesal dengan melisa.


...****************...

__ADS_1


Sabrina sudah seperti biasa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Meskipun dirinya tidak dianggap. Vadim pun turun dari tangga. Tidak sengaja, Vadim terpeleset dan Vadim jatuh dari tangga. Sabrina terkejut melihat suaminya jatuh dari tangga.


"Vadim.." Sabrina langsung menghampiri suaminya itu.


"Argh.. Kakiku.." Vadim mengerang kesakitan.


"Vadim.. Biar saya bawa kamu ke rumah sakit ya.." Ucap Sabrina. Sabrina segera memanggil sopir untuk membawa Vadim ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Sabrina menunggu dokter yang sedang menangani Vadim. Tak lama, dokter pun selesai menangani Vadim.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Sabrina.


"Suami Ibu mengalami kelumpuhan permanen, mohon bersabar.." Ujar dokter.


Sabrina syok mendengar pernyataan dokter. Sabrina pun melihat keadaan suaminya. Sabrina menatap wajah suaminya yang belum sadar.


"Vadim, aku harap kamu bisa tabah menerima kenyataan. Aku akan selalu ada di samping kamu.." Ucap Sabrina sambil memegang tangan Vadim.


Tak lama Berlin pun datang. Berlin melihat kondisi Vadim. Sabrina pun mengatakan keadaan Vadim yang sesungguhnya. Berlin menangis mendengar nasib Vadim.


"Ma, jangan khawatir ya.. Aku akan berusaha supaya Vadim segera sembuh. Aku akan merawat dia.." Ucap Sabrina.


Tak lama pun Vadim sadar. Iya membuka matanya secara perlahan. Awalnya terlihat samar, tapi lama-lama berangsur jelas. Vadim terlihat bingung melihat sekelilingnya.


"Aku dimana?" Tanyanya bingung.


"Kamu ada di rumah sakit Vadim, kamu terjatuh dari tangga." Jawab Sabrina. Vadim pun teringat kejadian yang menimpa dirinya.


Vadim ingin menggerakkan kakinya. Namun, Vadim merasa ada yang aneh terhadap kakinya. Vadim merasa heran.


"Kenapa kakiku tidak dapat digerakkan?" Tanya Vadim bingung. Berlin dan Sabrina tidak kuasa untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kenapa kalian diam? Jawab pertanyaan Aku." Ucapnya.


"Maaf Vadim, kamu mengalami lumpuh permanen." Jawab Sabrina. Vadim pun merasa syok ketika mendengar pernyataan dari Sabrina. Vadim pun mengamuk. Iya memukul dirinya sendiri. Berlin semakin tidak tega melihat anaknya seperti itu.


Sabrina berusaha menenangkan Vadim, tapi Vadim tetap saja mengamuk. Sabrina berusaha sekuat tenaga untuk merangkul Vadim agar tenang.


"Tenang Vadim, Kamu ****tenang****. Aku disini bersamamu." Ucap Sabrina sambil memeluk Vadim. Vadim pun mulai tenang di pelukan Sabrina.

__ADS_1


"Vadim, kamu tenang ya.. Aku janji akan membantu kamu supaya cepat sembuh.. Asalkan kamu semangat." Ucapnya sambil memegang kedua pipi vadim.


Selama di rumah sakit, Sabrina merawat suaminya dengan penuh ketulusan. Tetapi, ketulusan Sabrina masih tidak ada artinya di mata Vadim.


"Aku butuh Melisa di sini. Kamu bisa telfon dia enggak?" Ucap Vadim.


"Oh, iya bisa kok.. Bentar Aku hubungi dia dulu." Sabrina pun menghubungi melisa.


Melisa pun langsung datang ke rumah sakit. Melisa melihat keadaan Vadim. Melisa syok melihat Vadim berada di rumah sakit.


"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya melisa.


"Sekarang Aku lumpuh permanen. Aku tidak dapat ngapa-ngapain sekarang." Ujar Vadim.


"Apa? Lumpuh permanen?" Melisa syok.


"Waduh, kalau lumpuh begini berarti sudah ga ada gunanya lagi dong.." Gumam Melisa.


"Sayang, Aku butuh kamu disini. Kamu jangan pergi ya?" Ucap Vadim memelas.


"Aduh gimana ya? Sorry Vadim, Aku lagi banyak urusan. Maaf ya.. bye bye.." Kata Melisa langsung pergi. Sabrina hanya geleng-geleng kepala.


Sabrina sudah menduga bahwa melisa akan pergi ketika tahu Vadim lumpuh. Hanya saja Sabrina tidak ingin mengungkap. Biar saja Vadim tahu sendiri siapa melisa.


"Kenapa melisa langsung pergi begitu saja? Apa melisa tidak ingin menerimaku lagi?" Ujar Vadim merasa sensi.


"Jangan negatif thinking dulu Vadim, siapa tahu melisa memang lagi ada urusan." Ujar Sabrina. Tidak ingin membuat Vadim kecewa. Meskipun dalam hati iya ingin tertawa.


Setiap hari dan setiap waktu, Sabrina selalu merawat Vadim. Satu minggu pun telah berlalu. Melisa tidak pernah mengunjungi Vadim lagi. Vadim sangat galau, tetapi Sabrina terus menyemangatinya.


Dan Vadim pun telah pulang dari rumah sakit. Vadim tetap menggunakan kursi roda. Vadim masih mengharapkan melisa. Sedangkan melisa tidak lagi memberinya kabar.


...****************...


"Vadim, sekarang kita terapi ya.." Ujarnya.


"Aku ga mau." Ucapnya.


"Ga boleh gitu dong, kamu ga mau sembuh. Kalau kamu sembuh, melisa akan datang lagi.." Ujar Sabrina memberi semangat. Vadim pun akhirnya mau diajak terapi oleh Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2