
"Ga boleh gitu dong, kamu ga mau sembuh. Kalau kamu sembuh, melisa akan datang lagi.." Ujar Sabrina memberi semangat. Vadim pun akhirnya mau diajak terapi oleh Sabrina.
Sabrina pun menemani Vadim untuk melakukan terapi, Dalam keadaan hamil yang semakin besar, dan semakin kesulitan, tidak membuat Sabrina patah semangat untuk merawat suaminya dan menemani dia untuk proses kesembuhan.
Sabrina selalu memberikan semangat kepada Vadim. Walaupun Vadim tidak pernah menganggapnya.
Sabrina pun membawa Vadim untuk menikmati keindahan taman. Hal ini, bertujuan agar Vadim tidak merasa jenuh. Sabrina menyuruh Vadim untuk tetap tersenyum. Walaupun Sabrina sadar, bahwa Vadim tidak suka dengannya.
"Vadim, kamu boleh tidak suka denganku. Tapi, ini demi kesembuhan kamu. Jika kamu tidak suka aku rawat kamu, jangan pandang Aku sebagai Sabrina yang kamu benci. Tapi, Aku sebagai perawat kamu." Ujarnya.
Vadim hanya mengangguk. Kali ini Vadim mengikuti apa kata Sabrina. Sabrina pun melanjutkan jalan-jalan di taman. Tidak sengaja mereka melihat melisa sedang bersama pria lain.
Vadim pun terkejut Melihat pemandangan itu. Lalu Vadim menghampiri mereka. Vadim melihat lebih dekat dan ternyata benar bahwa perempuan yang bersama laki-laki lain itu adalah melisa.
"Melisa?" Panggil Vadim. Melisa dan pria itu pun menoleh ke arah Vadim.
"Vadim.." Ucap melisa terkejut.
"Sedang apa kau disini? Dan siapa laki-laki ini?" Tanya Vadim. Melisa pun menunduk dan langsung menjawab.
"Vadim, kenalin ini erik. Erik ini adalah tunangan ku. dan sebentar lagi kita akan menikah." Ucap melisa. Dan membuat Vadim terkejut
"Apa maksud kamu? Apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi?" Ucap Vadim.
"Kalau dulu ya, aku mau sama kamu.. Tapi sekarang, karena kamu lumpuh. Aku mundur. Aku lebih berfikir kenyataan ya Vadim, Aku ga mau kalau disuruh merawat kamu. Dan gunanya kamu apa? Kamu ga berguna sekarang." Ucap melisa. Dan melisa pun langsung pergi bersama kekasih barunya.
Vadim pun berusaha mengejar melisa.Vadim mengejar hingga Iya terjatuh. Namun, Melisa tidak mempedulikannya. Sabrina membantu suaminya untuk naik ke kursi roda.
"Vadim, sebaiknya kita pulang dulu ya.. kita istirahat dulu di rumah." Ujarnya.
Sabrina membawa Vadim pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Vadim malah emosi dan tidak terkontrol. Vadim sangat frustasi ditinggal oleh melisa.
"Vadim, kamu tenang Vadim.." Ujarnya berusaha menenangkan Vadim. Vadim terus saja memberontak tidak menghiraukan Sabrina. Sabrina terus berusaha memeluk suaminya agar Iya tenang. Tak lama Vadim pun tenang di pelukan Sabrina.
__ADS_1
Tak lama Vadim pun tertidur, Sabrina dengan lembut mengelus rambut suaminya. Sabrina memandangi wajah suaminya itu dengan penuh kasih sayang. Kemudian, Sabrina menyelimuti suaminya.
Sabrina terus refrensi untuk kesembuhan suaminya. Sabrina yang penyayang, tetap merawat suaminya dengan ketulusan.
"Vadim, sekarang makan dulu ya.. biar cepat sembuh." Ujarnya sambil menyuapi Vadim.
"Aku ga mau, percuma jika Aku sembuh. Kalau orang yang Aku sayangi tidak bersamaku. Lebih baik Aku mati saja." Kata Vadim tidak bersemangat. Sabrina pun merasa jengkel dengan ucapan suaminya.
"Vadim! Mungkin melisa tidak ingin bersamamu lagi. Tapi banyak orang yang mengharapkan kesembuhan mu. Ada mama, papa, Vino, dan juga perusahaan yang membutuhkan pemimpin. Terlebih lagi mama, Dia sedih melihat kamu seperti ini. Please Vadim, jangan kamu lakukan hal konyol." Ucapnya.
"Tapi, Aku sudah memberikan segalanya buat Dia Sabrina, Aku sudah berkorban banyak untuk dia. Semua demi Dia.." Ucap Vadim sambil menahan tangis.
"Jangan pernah ungkit sesuatu yang telah kamu berikan terhadap orang lain Vadim. Vadim, mungkin melisa ingin mencari kebahagiaannya sendiri. Kalau kamu sayang sama Dia, harusnya kamu membiarkan Dia bahagia. Walaupun kebahagiaan itu bukan bersamamu. Ingat Vadim, cinta itu tidak harus memiliki.." Ungkapnya berusaha menghangatkan hati Vadim.
"Sabrina, apa Aku tidak pantas untuk dicintai?" Tanya Vadim lembut.
"Semua orang itu pantas dan berhak untuk dicintai dan mencintai. Tuhan, sudah menuliskan jodoh seseorang itu waktu dia belum lahir. Hanya saja belum dipertemukan. Mungkin melisa belum jodohmu Vadim.. Kamu ikhlas ya.." Ucapnya Sabrina.
"Termasuk Aku yang selalu menyayangimu.." Ucapnya dalam hati.
...****************...
Selama Vadim sakit, semua urusan perusahaan Sabrina yang menghandle. Meskipun dalam keadaan hamil, Sabrina tidak pernah mengeluh ketika mengurus suami sekaligus perusahaan.
Usia kandungan Sabrina sudah memasuki bulan ke 6. Perut Sabrina semakin terlihat. Terkadang Sabrina merasakan nyeri di perutnya. Tapi, Sabrina berusaha untuk tidak mengeluh.
Selama Sabrina mengurus perusahaan, banyak perusahaan asing yang mengajukan kerjasama terhadap perusahaan Vadim Group. Semua karyawan merasa kagum dan senang terhadap Sabrina.
"Tok, tok, tok.." Suara ketokan pintu.
"Ya, silahkan masuk.." Jawabnya.
"Maaf buk, ada yang ingin bertemu dengan Ibu.." Ujar sekertaris.
__ADS_1
"Ok, suruh masuk saja.." Jawabnya.
Orang tersebut langsung masuk ke ruangan Sabrina. Sabrina tersenyum ketika melihat Yeon Seok datang ke kantornya.
"Hai, kakak Aku yang paling cantik.." Sedikit menggombali kakaknya.
"Ada apaan dek?" Ucapnya.
Yeon menunjukkan sesuatu terhadap Sabrina. Yeon memberikan sebuah hadiah untuk kakaknya itu. Sabrina terbelalak ketika Yeon Seok memberikan sebuah hadiah kalung yang sangat cantik untuknya.
"Ya, ampun dek.. Ini buat kakak?" Ucapnya.
"Iya kak ini buat kakak.." Kata Yeon.
"Ini cantik sekali dek.." Ucap Sabrina sambil memegang kalung tersebut.
"Iya kaka.. Ini Aku pesan khusus buat kakak Aku yang tersayang. Kakak, pantas mendapatkan kalung ini. Kebetulan hari ini Aku dan Mr. chan memenangkan tender. Jadi, setelah pulang, Aku mampir dulu ke toko perhiasan. Aku pesan ini buat kakak." Ujarnya.
"Makasih ya sayang.. kakak Terima kalungnya ya.." Ucapnya. Sabrina sambil memasang kalung tersebut di lehernya.
...****************...
Sabrina pulang dari kantor. Sabrina melihat Vadim sedang mengerjakan sesuatu. Sabrina melihat Vadim dari belakang.
"Hei, kamu belum tidur?" Tanya Sabrina.
"Belum, Aku lagi mengerjakan sesuatu." Jawab Vadim.
"Kamu lagi ngapain Vadim?" Tanyanya.
"Aku lagi buat sesuatu untuk memberi kejutan buat mama.." Jawabnya. Terlihat Vadim sedang membuat karya cendramata untuk mamanya.
Sabrina sangat senang melihat Vadim sudah bisa seperti ini. Dan tidak sengaja tangan Vadim terkena tusukan. Vadim mengerang kesakitan. Sabrina pun segera mengambil tangan Vadim. Sabrina menghisap darah yang di jari Vadim yang terluka.
__ADS_1
Secepat mungkin Sabrina mengobati luka Vadim. Sabrina mengobati luka itu dengan hati-hati dan sambil meniupnya. sesekali Vadim mendesis.
"Tahan ya.. sebentar lagi selesai kok.." Ucapnya. Selesai mengobati, Vadim pun langsung menarik tangannya. Vadim merasa risih ketika Sabrina mengobatinya. Vadim berharap melisa yang mengobatinya. Sabrina paham mengapa Vadim seperti itu.