
Sabrina juga setuju dengan acara traveling ini. Yeon pun sangat senang akhirnya kakaknya setuju juga. Dan tak lama tamu yang satu juga datang.
Yeon sangat gugup untuk menjelaskan ketika Tuan Chan memerintahkan. Sabrina yang mengerti bagaimana adiknya, akhirnya membantunya untuk angkat bicara.
Sabrina mewakili Yeon untuk menjelaskan hal-hal penting yang harus dijelaskan. Sabrina yang ramah, membuat tamu Tuan Chan alias Dae Hyun merasa sangat kagum.
"Tap, tap, tap." Suara tepuk tangan.
"This is very amazing. your sister is very intelligent." Puji tamu Tuan Chan.
Tidak hanya tamu Tuan Chan, bahkan tuan Chan sendiri juga kagum dengan Sabrina secara diam-diam. Tuan Chan alias Dae Hyun, memperhatikan Sabrina ternyata semakin cantik.
Sudah sekian lama tidak bertemu, Dae tidak melihat perubahan pada diri Sabrina. Sabrina masih tetap Sabrina yang dulu. Dae merasa salting ketika dirinya tidak sengaja dilirik Sabrina.
...****************...
"Apakah Sabrina yang pernah mengalami depresi berat itu?" Tanya Dae penasaran.
"Benar Tuan Chan.. Seperti yang Aku ceritakan. Dan saya berjanji pada saat itu, setelah kakak saya sembuh saya akan bawa pergi kakak saya ke luar negeri. Dan saya pun menepati omongan saya. Saya membawa kakak saya kesini. Agar laki-laki itu tidak lagi mengganggunya. Dan saya berharap, suatu saat ada laki-laki yang tulus mencintainya." Ujar Yeon dengan jujurnya.
Mendengar cerita dari Yeon, Dae merasa terenyuh. Iya tidak menyangka bahwa Sabrina pernah mengalami depresi berat. Dan kehidupan yang sangat miris. Dae penasaran tentang mantan suami Sabrina.
Mereka berbincang-bincang sambil menunggu Sabrina untuk pergi traveling. Tak lama Sabrina pun keluar. Dae menoleh sebentar ke arah Sabrina. Dae pun terkejut dengan penampilan Sabrina.
Sabrina merasa canggung ketika Dae menatapnya seperti itu. Sabrina pun menundukkan kepala. Sabrina tidak berani menatapnya.
"Yuk berangkat." Ajaknya.
Mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil khusus traveling. Mereka traveling ke sebuah pegunungan dan menginap di sebuah villa.
Sabrina sangat suka dengan tempat itu. Yeon memang pandai memilih tempat yang nyaman dan juga asyik. Saking girangnya, Sabrina sampai berlari dan muter-muter.
Diam-diam Dae Hyun mengabadikan momen Sabrina seperti itu. Dae yang melihatnya pun tersenyum. Ternyata memang benar-benar tidak ada perubahan dari dirinya.
Selama liburan, mereka benar-benar menikmati acara traveling itu dengan asyik. Di malam hari, Mereka mengadakan acara bakar-bakar.
Sabrina mulai mengantuk. Dan tidak sengaja Sabrina malah menyandarkan kepalanya ke bahu Dae Hyun. Dae Hyun merasa terkejut dibuatnya. Dae Hyun pun membiarkan Sabrina bersandar di bahunya.
Dan hari sudah mulai larut malam. Dae Hyun dan Yeon membangunkan Sabrina. Namun, karena sudah terlalu pulas, Dae menjadi tidak tega untuk membangunkannya.
Dae pun menggendong Sabrina untuk menuju tempat tidurnya. Dae memandang wajah Sabrina dengan seksama.
__ADS_1
"Sabrina, ternyata kamu tetap polos.. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mu. Apakah ini yang dikatakan jodoh?" Ujarnya. Dae Hyun pun menyelimuti tubuh Sabrina. Dae ingin pergi dari kamarnya. Sabrina malah menahan tangan Dae.
"Jangan pergi, jangan tinggalin Aku lagi." Ucapnya dalam igauannya.
Dae pun tersenyum mendengar Sabrina mengigau. Ternyata Sabrina lucu juga ketika mengigau. Dae pun melepaskan tangannya secara perlahan.
"Selamat bermimpi indah.." Ujarnya. Dan Dae Hyun pun pergi dari kamar Sabrina.
...****************...
Pagi-pagi, mereka melakukan traveling lagi. Mereka menjelajahi hutan dan mendaki gunung. Sungguh suatu traveling yang sangat menyenangkan.
Di suatu kesempatan, Dae Hyun mendekati Sabrina. Sabrina yang lagi asyik dengan dunia onlinenya tidak menyadari kehadiran Dae Hyun. Dae Hyun pun duduk di sampingnya.
"Sabrina." Sapanya. Seketika, Sabrina menoleh ke arahnya. Sabrina segera menutup ponselnya.
"Iya?" Jawabnya.
"Kita sudah berapa lama tidak bertemu?" Tanyanya basa-basi. Seperti tidak ada topik lain.
"Aku ga tahu." Jawabnya. Sabrina yang masih merasa canggung itu, memalingkan wajahnya ketika berbicara dengannya.
"Sabrina, ternyata kamu tidak berubah ya.. masih sama seperti yang dulu. Pemalu." Ujarnya.
"Iya. Oh iya, apa kamu tidak ingin menikah lagi?" Tanya Dae.
"Aku, belum kepikiran sampai situ." Jawabnya. Dan Dae mengangguk paham.
...****************...
Mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Selama perjalanan pulang, tidak ada satu kata pun dari mereka yang terucap.
Sabrina yang duduk di sebelah kaca mobil, malah melihat pemandangan yang ada di luar. Sabrina seperti menikmati suatu perjalanan yang sangat menyenangkan.
Dae Hyun sesekali melirik Sabrina. Sabrina memang tidak pernah berubah, tetapi hatinya seperti masih tertutup untuk pria mana pun. Sabrina sepertinya masih trauma dengan masa lalunya yang sangat menyakitkan.
Sesampainya di rumah, Sabrina langsung istirahat. Sebelum Sabrina istirahat, Yeon masuk ke kamar Sabrina. Sabrina pun melihat ke arah Yeon.
"Ada apa dek?" Tanya Sabrina.
"Kak, Aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Yeon.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanyanya lagi.
"Kak, apa kakak menutup hati kakak untuk orang lain?" Tanya Yeon.
"Maksud kamu?" Sabrina tidak mengerti.
"Kakak, tuan Chan itu sangat baik loh. Apa kakak tidak membuka hati kakak untuk dia?" Tanyanya serius.
"Tuan Chan memang baik dan perhatian. Tapi, kakak belum terpikirkan apapun." Jawabnya.
Yeon belum tahu tentang hubungan Sabrina dengan Dae Hyun atau yang akrab dipanggil tuan Chan. Bagaimana mungkin Sabrina membuka hati lagi untuknya, sementara Sabrina masih sangat trauma dalam masalah percintaan.
Pengalaman yang kemarin cukup dijadikan sebuah cambuk oleh Sabrina. Sabrina belum siap untuk menerima siapapun laki-laki. Cukup yang kemarin saja.
"Kak, Aku ingin lihat kakak bahagia. Karena kan, Aku ga mungkin ada di dekat kakak terus.." Kata Yeon membuat Sabrina sedikit terkejut.
"Apa maksud Yeon? Kenapa kamu bicara seperti itu? Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Sabrina.
"Aku ga kemana-mana kok kakak.. Ya kan, benar.. Aku ga selamanya ada di dekat kakak, misalnya kalau Aku sudah mempunyai kekasih, kan Aku pasti bersama kekasihku." Ujarnya.
"Oh, kalau itu kamu tenang saja dek.. ga usah khawatirkan kakak.. Nanti kalau sudah waktunya pasti akan nikah juga kok.. Hanya saja sekarang ini kakak belum siap.." Ujarnya.
...****************...
"Tok, tok, tok.." Seseorang mengetuk pintu.
"Masuk.." Jawab Sabrina.
"Maaf ada yang ingin bertemu dengan Ibu.." Ujar sekertaris.
"Suruh saja tunggu Di ruang tunggu." Jawabnya.
Sabrina pun segera menemui orang itu. Orang tersebut berdiri dan menghadap ke belakang. Sabrina berjalan mendekat ke arah orang tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya. Dan orang itu pun membalikkan badan.
"Yeon.. Ih, apaan coba gaya kayak gini?" Ujarnya. Ternyata orang tersebut adalah Yeon Seok adiknya. Tampil dengan gaya yang berbeda.
"Bagaimana kak? Aku handsome gak?" Tanyanya percaya diri..
"Hahaha.. apaan sih.. handsome dari mana? yang ada kayak bapak-bapak. Ngapain kesini? Ga kerja?" Ujarnya lagi.
__ADS_1
"Enggak ngapa-ngapain kok.. cuma mau lihat kakak saja.." Ucapnya.