Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Sabrina kembali


__ADS_3

"Ok! Ya, sudah Aku pergi dulu.." Kata Dae Hyun. Dae Hyun pun langsung pergi dari ruangan Sabrina.


Tiga hari berlalu, Sabrina sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Bisma membantu Sabrina. Sabrina ingin pulang saja ke negaranya.


CEO dari industri musik di negara itu, mengunjungi Sabrina. Dia mengucapkan turut berempati atas apa yang menimpa Sabrina. Sabrina sangat senang dan berterimakasih atas empatinya.


Dan hari ini adalah hari terakhir Sabrina berada di negara itu. Sebelum Sabrina kembali ke negara asalnya, iya ingin bertemu dengan Dae Hyun.


Di acara terakhir, CEO memberikan Sabrina penghargaan karena karyanya benar-benar memukau dan menarik perhatian banyak orang. Semua orang yang datang memberikan tepuk tangan kepada Sabrina. Tak terkecuali Dae Hyun.


Selesai acara, Dae Hyun ingin langsung pulang. Dae Hyun mulai membuka pintu mobilnya.


"Dae.." Panggil Sabrina. Dae menutup kembali pintu mobilnya. Dan melihat ke arah Sabrina yang berjalan semakin mendekat.


"Dae," Sapanya.


"Ada apa?" Tanya nya.


"Dae, boleh kita bicara sebentar?" Ujarnya.


Dae pun menuruti permintaan Sabrina. Mereka mencari tempat yang yang nyaman untuk mereka berbicara.


"Kamu mau bicara apa?" Tanya Dae. Sabrina pun tersenyum lalu mengambil sesuatu di saku celananya.


"Aku mau ngasih ini sama kamu.." Sabrina menyodorkan gelang pemberian Dae Hyun dulu kepadanya. Sabrina mengambil tangan Dae Hyun, lalu meletakkan gelang itu di telapak tangan Dae. Dae Hyun hanya memandanginya.


"Kenapa kamu memberikan ini lagi kepadaku?" Tanyanya heran.


"Kamu masih ingat gak dengan kata-kata kamu dulu? Kalau gelang ini akan kamu pakaikan kepada calon istrimu nanti. Sementara Aku kan bukan siapa-siapa kamu lagi.. Jadi, Aku sudah ga pantas pakai ini.. makanya Aku kembalikan ini sama kamu." Ucapnya sambil tersenyum.


Dae tidak menjawab kata-kata Sabrina. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Dae hanya tertegun menatap wajah Sabrina. Sabrina berusaha tersenyum di depan Dae Hyun.


"Hari ini, hari terakhir Aku disini. Terimakasih sudah mau nolong Aku, nungguin Aku di rumah sakit. Dan kalau boleh Aku berpesan, tolong jaga diri kamu baik-baik. Dan selalu hati-hati. Aku pamit." Ucapnya. Sambil tersenyum lagi. Sabrina pun membalikkan badannya. Matanya berkaca-kaca dan iya berusaha menahan air mata yang jatuh. Iya menangis dan berusaha untuk tidak bersuara. Sabrina pun langsung pergi. Dan mengusap air matanya.


Dae menggenggam gelang itu. Iya memandangi Sabrina yang semakin jauh. Dae Hyun ingin mengejar Sabrina dan memeluknya. Namun, iya tahan. Dae tidak bisa bersamanya.


"Maafin Aku Sabrina, ini semua demi kebaikan kamu. Aku tidak ingin kamu menderita jika bersamaku. Aku ingin kamu bahagia." Ucapnya.


Sabrina pun berlari dan langsung memasuki mobilnya. Sabrina tidak dapat membendung air matanya lagi. Sabrina menangis sepuasnya. Tiba-tiba, Bisma mengetuk pintu mobil. Dan Sabrina langsung menyeka air matanya.

__ADS_1


Bisma membuka pintu mobil itu, lalu masuk.


Bisma memberikan senyum kepada Sabrina. Sabrina membalas senyum Bisma. Bisma melihat mata Sabrina yang sembab.


"Kamu habis nangis?" Tanya Bisma.


"Ah, enggak kok.. Aku cuma kelilipan saja." Ucapnya berbohong.


Bisma hanya mengangguk. Mereka pun langsung berangkat ke Airport. Selama perjalanan ke airport, Sabrina hanya diam saja. Bisma sesekali melirik kearah Sabrina. Tetapi Sabrina malah melihat ke arah kaca. Sabrina sambil melamun. Seperti ada sesuatu yang dipikirkan.


Sabrina sudah tiba di bandara. Berlin dan Angela sudah menunggu Sabrina di bandara. Sabrina segera turun dari pesawat. Dan Sabrina pun melihat tantenya dan Berlin sedang menjemputnya. Sabrina langsung menghampiri mereka.


"Welcome sayang.." Ucap Angela. Angela langsung memeluk Sabrina. Sabrina membalas pelukan tantenya.


"Sabrina, Pasti kamu capek ya.. Mending kita langsung pulang saja ya.." Ucap Berlin.


Akhirnya Sabrina sampai juga di rumahnya, Angela membiarkan Sabrina istirahat terlebih dahulu.


...****************...


"Sabrina, kami sekeluarga mau mengajak kamu camping.. mau enggak?" Berlin menawarkan.


"Camping Tante?" Tanya Sabrina heran.


"Ini kan, acara keluarga tante.. saya enggak pantas ikut camping." Jawabnya.


"Ini Tante yang ngajak loh.. mau ya.." Berlin tetap memaksa.


"Iya sudah, Aku mau Tante.." Ucapnya.


Melisa mendengar percakapan Berlin dan Sabrina. Melisa merasa iri terhadap Sabrina yang selalu beruntung. Melisa pun langsung mengikuti Sabrina.


"Heh, sebenarnya lo itu pakai guna-guna apa sih? sampai-sampai semua orang itu tergila-gila sama kamu?" Melisa sambil sedikit mendorong Sabrina.


"Haduh, rasanya gue ga perlu menjawab pertanyaan goblok kamu deh." Ujarnya. Sabrina pun langsung pergi meninggalkan mereka karena malas mau berdebat dengan mereka.


Secara sengaja Melisa pun langsung mendorong Sabrina dari belakang. Sabrina terkejut dan hampir jatuh. Beruntung saja, seseorang langsung menangkap Sabrina. Sabrina tertegun ketika siapa orang yang menangkapnya. Ternyata orang itu adalah Vadim.


Vadim dan Sabrina saling pandang. Mereka berpandangan sangat lama. Melisa semakin kesal melihat mereka.

__ADS_1


"Vadim?" Ucapnya. Sabrina langsung melepaskan dirinya dari Vadim. Mereka seperti salah tingkah dibuatnya.


"Maaf," Ujarnya.


"Ga apa-apa terimakasih." Sabrina gugup.


Sabrina pun langsung pergi. Vadim pun mengikuti Sabrina. Melisa tertegun karena Vadim mengikuti Sabrina.


"Ayang, mau kemana sih.." Melisa juga membuntuti Vadim.


Sabrina pergi ke perpustakaan untuk membaca buku cerita. Vadim juga ikut membaca buku cerita. Vadim duduk di samping Sabrina.


"Sejak kapan suka baca buku cerita?" Tanya Vadim memulai pembicaraan.


"Gue dari kecil emang suka baca cerita kok.." Jawab Sabrina.


"Terus kamu sendiri, ngapain disini? Bukannya ga suka baca novel?" Ujar Sabrina.


Vadim tidak menjawab. Tetapi, Iya hanya memandangi Sabrina membaca buku saja yang kelihatan serius. Melisa yang melihat mereka merasa semakin kesal. Karena kesalnya, melisa langsung mengambil buku yang dibaca Sabrina. Sabrina terkejut ketika bukunya dirampas Melisa.


"Melisa, kamu apa-apaan sih? Balikin enggak?" Kata Sabrina.


"Kalau Aku ga mau bagaimana?" Ujar Melisa.


"Buku ini gambaran ya, Kamu merebut milik Aku, Aku juga akan rebut milik kamu. Paham?" Ujarnya lagi.


"Oh, gitu ya.. Sekarang saya tanya, Aku yang deketin Vadim, atau Vadim yang deket-deket Aku duluan? Kamu salah merampas buku Aku. Harusnya yang kamu karungin itu Vadim. Kalau kamu mau Vadim tidak ngejar-ngejar Aku lagi, lebih baik kamu ikat saja dia." Jawab Sabrina dengan kesal. Sabrina pun pindah kembali. Karena Melisa tidak ada capeknya mengganggu Sabrina.


Vadim menggelengkan kepala dan juga meninggalkan Melisa. Melisa menahan lengan Vadim.


"Ayang, kamu mau kemana sih? Ngapain sih ngejar-ngejar dia?" Ujar Melisa.


"Kamu itu apaan sih.. Aku ga suka kamu over kayak gini sama Aku." Ujar Vadim. Vadim langsung melepas tangan melisa dan mengejar Sabrina.


"Sabrina, tunggu!" Vadim langsung menarik tangan Sabrina.


"Apaan sih Vadim? Nanti pacar kamu cemburu loh, terus Aku lagi yang dituduh. Aku capek tahu enggak?" Ucap Sabrina.


"Aku mau ngomong sama kamu.. Karena disuruh sama mama.." Jawab Vadim.

__ADS_1


"Mau ngomong apaan?" Tanya Sabrina.


"Aku disuruh mama, untuk membantu kamu menyiapkan acara camping nanti.. Mulai dari tenda, dan alat-alat lainnya." Ujar Vadim. Vadim pun juga mengajak Sabrina untuk pergi ke mall.


__ADS_2