
Entah rasanya malas sekali jika Aku harus berbicara dengan suamiku. Kali ini Aku enggan untuk memenuhi segala keperluannya.
Aku lebih memilih duduk santai di ruang tamu. Aku lihat suamiku tergesa-gesa. Seperti orang panik. Entah Dia mau kemana. Rasanya Aku tidak ingin lagi peduli dengannya.
...****************...
Malam hari, suamiku datang bersama mertuaku dengan membawa seorang bayi laki-laki. Aku sudah tidak kaget lagi dengan itu. Aku sudah mengira bahwa itu adalah bayi suamiku dengan selingkuhannya.
"Angel, apakah kamu tahu bayi ini?" Tanya mertuaku. Aku hanya mengangguk samar.
"Aku minta pengertian dari kamu ya.. Aku mau kamu mengurus anak ini. Lagian kan ini adalah anak suami kamu.. Berarti anak kamu juga." Ucapnya.
"Terus?" Tanyaku.
"Ya.. kamu kan mandul. Jadi, kamu harus bersyukur karena suamimu memiliki keturunan. Jadi urus saja bayi ini. Terima saja kenyataannya. ya.." Ucapnya mertuaku asal.
Aku hanya tersenyum sinis mendengar perkataannya. Aku berdecak kesal sembari menggelengkan kepala.
"Dasar, Ibu dan anak ga tahu malu. Bayi ini kan punya Ibu.. Kenapa ga Ibunya saja yang mengurusnya. Lagian ini bukan anak Aku.." Ucapku ketus.
"Ibu dari bayi ini meninggal dunia" Jawabnya.
"Itu resiko kalian. Kalian yang kesulitan, kenapa Aku yang harus direpotkan.." Jawabku dengan senyuman sinis.
"Tapi ini anak suami kamu. Kamu harus tahu diri dong.." Ucap mertuaku.
"Heh bu! Dia memang anak suamiku tapi bukan anakku. Kalian selalu bilang ingin anak dari darah daging suamiku sendiri. Aku juga sama, ingin anak dari rahim Aku sendiri. Lagian, yang ga tahu diri itu kalian. Kalian sudah menyimpan wanita murahan itu tanpa sepengetahuan Aku. Dan kamu Ibu mertua, kamu malah menyuruh anakmu untuk menikah lagi tanpa sepengetahuan Aku. Sekarang juga.. Kalian enyah dari rumahku. Dari kemarin Aku sudah sabar menghadapi kelakuan kalian." Ucapku penuh amarah.
Suami dan mertuaku terlihat sangat gugup.
"Kamu ga bisa seenaknya ngusir kami dari sini. Kamu ga punya hak!" Ucap Ibu mertua.
__ADS_1
"Berani sekali mulutmu berbicara seperti itu! Ini rumah pemberian orang tua Aku. Kalian cuma numpang disini! Dan rumah ini, atas nama Aku. Dan kamu Ibu mertua! Kamu siapa? Berbicara sepeti itu dengan tuan rumah. Jangan sampai kesabaran saya habis, Sekarang juga.. pergi kalian!" Usirku sembari menunjuk ke arah luar.
Seketika Ibu mertuaku diam. Sementara suamiku tidak berani membuka suara. Dia hanya diam saja.
"Aku mohon, jangan usir kami dari sini. Kamu tahu kan, kita sudah tidak punya rumah lagi. Rumah kami sudah dijual.. kami harus tinggal dimana?" Ucap suamiku sembari bertekuk lutut di hadapanku.
"Memangnya Aku peduli dengan kalian? Itu urusan kalian. Mau tinggal di kolom jembatan kek.. mau tinggal di kandang ayam kek.. itu bukan urusan Aku.." Ucapku tidak peduli.
Aku segara ingin melangkahkan kaki Aku dan segera menutup pintu. Tapi, suamiku malah menahan kaki Aku. Dia mewanti-wanti ingin tinggal di rumahku. Aku pun tersenyum sinis terhadap mereka yang seperti pengemis.
Ada rasa puas dalam hatiku melihat mereka bertekuk lutut dihadapan ku. Lalu, muncullah dalam pikiranku yang akan membuat memilih hal yang sulit.
"Ok! Saya kasih dua pilihan sama kalian. Kalian boleh tinggal disini, asalkan buang bayi itu. Melihat wajahnya saja Aku muak. Apalagi harus merawatnya." Ucapku ingin tertawa dalam hati.
"Tapi, Aku tidak bisa meninggalkan bayi ini sendirian. Apalagi, dia adalah darah daging ku." Ucap Suamiku.
"Sama, saya juga tidak ingin ada bayi itu disini. Kalau kalian tidak bisa ninggalin bayi itu, ya sudah pergi saja kalian." Usirku lagi.
"Ya, saya tahu.. Bayi itu memang tidak salah apa-apa. Sekarang saya tanya balik sama kalian. Apakah kalian pernah memikirkan perasaan Aku? Selama ini, kalian cuma memikirkan ego kalian saja kan? Sekarang giliran Aku, untuk memikirkan egoku sendiri. Saya ga mau menunggu keputusan lama-lama. Buang bayi itu, atau kalian pergi dari sini." Ucapku membuat mereka terhenyak.
Saya yakin, keputusanku akan membuat mereka bimbang. Biar mereka tahu rasa dan tidak lagi semena-mena terhadapku.
"Baiklah! Kami akan memberikan bayi ini ke panti asuhan. Tapi, jangan mengusir kami. Karena kami ga punya tempat tinggal lagi.." Ucapnya.
Sungguh hatiku tertawa terpingkal-pingkal. Mereka benar-benar tidak punya hati, egois. Darah daging sendiri saja rela mereka korbankan. Dasar manusia pemalas.
"Tapi, apa boleh.. bayi ini tinggal disini semalam saja. Karena disini kondisinya sedang hujan. Kasian dia juga kalau harus kehujanan.." pintanya memelas.
Aku menghela nafas kasar. Bagaimanapun aku juga seorang wanita. Hati kecilku tergerak. Aku juga kasihan dengan bayi itu kalau harus kehujanan.
"Ok. Bayi itu boleh menginap disini semalam. Tapi, besok Bayi ini harus enyah dari rumahku. Aku tidak ingin melihat berada di sini." Ucapku memberikan peringatan.
__ADS_1
"Iyah.. Kami mengerti. Terimakasih angel," Ucap mereka mengangguk cepat.
...****************...
Tepat pukul 9.00 mereka sudah bersiap ingin membawa bayi itu ke panti asuhan. Tiba-tiba Seseorang sedang memencet bel rumah. Aku segera membuka pintu.
Dan ternyata, yang datang adalah kakakku bersama istri dan Sabrina kecil. Melihat Sabrina, hatiku langsung terasa senang. Seketika rasa kesal dan kecewa ku hilang melihat Sabrina kecil.
Sontak saja Aku langsung menggendongnya. Usianya sudah 5 tahun. Mertuaku heran melihat Aku sangat antusias melihat Sabrina kecil.
"Ini bayinya siapa? Dan kalian mau kemana?" Tanya mas amir kepada ibu mertua dan suamiku.
Sebelum mereka menjawab, Aku sudah menjawab duluan. Aku menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Ada rasa kecewa di hati kakakku. terlihat dari raut wajahnya. Kakakku menundukkan kepalanya lalu mendongak.
"Angel, mas tahu.. kamu kecewa dan sakit hati. Mas juga tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalahmu. Tapi, kalau boleh, biarkan mas dan istri mas yang akan merawat bayi itu." Pinta kakakku. Seketika mataku terbelalak.
"Kenapa harus bayi ini mas?" Tanyaku.
"Angel, mas tidak mau jika kamu buruk di mata orang lain. Orang lain tidak akan pernah mengerti akan perasaan kamu. Jadi mas ingin, nama kamu tetap baik. Dan lagian mas juga ingin memiliki anak laki-laki. Mas tidak masalah jika anak itu adalah hasil adopsi."Jawaban kakakku sungguh membuat Aku terharu. Iya rela kerepotan hanya demi Aku.
"Itu terserah mas saja. kalau mas mau mengadopsi bayi itu, silahkan saja. Aku juga tidak ingin ikut campur urusan mas dan keluarga mas.." Ucapku.
"Harusnya kalian bersyukur, karena kakakku masih ingin berbaik hati, dan mau mengurus anak itu." Ucapku kepada Ibu mertua dan suamiku. Mereka tidak menjawab perkataanku. mereka hanya tertunduk malu.
"Tapi mas.. Jangan paksa Aku untuk menyukai anak itu. Sungguh Aku sangat muak dengannya." Ucapku.
Kakakku mengangguk samar. Iya mengerti perasaanku.
Bayi itu diberi nama yeon.
Itulah penyebabnya Aku membencinya sampai sekarang.
__ADS_1