
"Tahan ya.. sebentar lagi selesai kok.." Ucapnya. Selesai mengobati, Vadim pun langsung menarik tangannya. Vadim merasa risih ketika Sabrina mengobatinya. Vadim berharap melisa yang mengobatinya. Sabrina paham mengapa Vadim seperti itu.
"Aku cuma mau mengobati luka kamu aja Vadim, ga lebih. Ya sudah kalau begitu, Aku keluar dulu." Sabrina pun langsung pergi dari kamar Vadim.
...****************...
Tidak terasa usia kandungan Sabrina sudah memasuki usia ke 7. Sabrina merasa bahagia, Sabrina merasakan gerakan janin yang aktif. Ketika calon buah hatinya itu bergerak, Sabrina tersenyum sendiri.
"Kamu sehat-sehat di dalam ya sayang.. Yang kuat ya.." Ucapnya sambil mengelus perutnya.
"ting, tong.." Suara belum rumah berbunyi. Sabrina segera membuka pintu.
"Hai sayang, apa kabar kamu?" Tanya Berlin.
"Mama, papa.. Aku baik ma.. Oh iya kabar mama dan papa bagaimana?" Tanya balik Sabrina.
"Mama dan papa baik sayang.." Ucap Berlin.
"Oh, iya.. keadaan Vadim bagaimana?" Tanya Berlin yang merindukan Vadim.
"Alhamdulillah, perkembangan Vadim sangat pesat sekali. Dan Vadim ada kemajuan ma, pa." Jawab Sabrina membuat Berlin bahagia mendengarnya.
Kini, kondisi Vadim semakin membaik. Ada perkembangan bagi Vadim. Dan kesempatan untuk sembuh sangat dekat. Ini semua karena usaha Sabrina. Sabrina yang selalu setia menemani Vadim terapi.
"Sekarang kita coba tidak menggunakan alat bantu ya pak.." Ucap perawat.
"Ayo, kamu semangat ya.." Sabrina memberikan semangat.
Perlahan Vadim mulai melangkahkan kakinya. Dan Vadim syok, ketika dirinya mulai bisa melangkah. Sabrina juga sangat bahagia melihat suaminya bisa berjalan lagi.
"Aku bisa jalan lagi.. Yes.. Aku bisa jalan lagi.." Ucapnya girang.
"Benarkah ini? Selamat ya Vadim. Kamu hebat." Ucapnya.
Akhirnya Vadim kembali bisa berjalan normal seperti dulu. Vadim sangat bahagia dan secara reflek, Vadim memeluk Sabrina. Sabrina kaget. Baru pertama kali Iya dipeluk oleh suaminya. Setelah menyadari, Vadim langsung melepas pelukannya.
...****************...
Vadim kembali memimpin kantor. Vadim disambut baik oleh para karyawannya.
"Selamat ya pak, kami sangat senang. Akhirnya bapak bisa kembali lagi ke kantor." Ucap salah satu karyawan.
"Terimakasih atas perhatian kalian.." Ucapnya.
__ADS_1
Vadim pun langsung masuk ke ruangannya. Vadim kaget ketika melihat ruangannya bersih dan elegan. Vadim sangat menyukainya.
"Oh iya, Saya mau minta laporan bulan ini. Selama saya sakit, apakah ada masalah di kantor?" Ucap Vadim.
"Tidak ada pak, karena Ibu Sabrina dapat menghandle kantor dengan baik." Ucapnya.
"Sabrina istri saya?" Tanya Vadim.
"Betul pak.. Kami sangat kagum dengan cara kerja Ibu Sabrina. Dia bekerja dengan cerdik." Jawab bagian penting kantor.
Vadim mulai kembali bekerja. Dan tiba-tiba Melisa datang memeluk Vadim. Vadim sangat kaget ketika melisa memeluknya.
"Melisa?" Ucap Vadim. dan melisa segera melepas pelukannya.
"Sayang, Aku kangen sama kamu.." Ucapnya sok manja.
"Bukannya kamu sudah punya tunangan?" Tanya Vadim.
"Aku sudah putus dari dia.. Ternyata Aku masih sayang sama kamu." Ucap Melisa.
Vadim sangat senang mendengar ucapan melisa. Vadim pun langsung memeluk melisa. Vadim meminta agar melisa tidak meninggalkannya lagi.
"Vadim!" Teriak papanya Vadim.
"Plak!" Suara tamparan.
"Apa-apaan kamu? Istri kamu di rumah nunggu kamu. Dia selama ini sudah merawat kamu sampai sembuh. Dia rela mengorbankan dirinya demi kamu. Dia yang selalu berusaha menjaga kamu, dan supaya kamu cepat sembuh. Dia yang selalu ada dan tulus menyayangi kamu." Ujar papanya marah.
"Tapi Aku tidak pernah mencintai Sabrina pa.. Ok, Aku akan ganti semua pengorbanan dia terhadap Aku." Ucap Vadim enteng.
"Enteng sekali kamu berbicara. Ingat Vadim, Wanita yang sangat tulus dan sabar seperti dia, tidak akan datang dia kali. Ingat jangan terus-menerus menyakiti hatinya. Dia sedang hamil." Ucap papanya.
"Suruh siapa dia hamil anak aku? Aku tidak pernah menganggap anak yang dikandung oleh Sabrina adalah anak Aku." Ucap Vadim. Papa Vadim sangat emosi mendengar ucapan Vadim.
"Vadim.. Kamu memang keterlaluan! Argh.." Tiba-tiba papa Vadim terasa sakit di bagian dadanya. Papa Vadim langsung tersungkur dan kejang kemudian tidak sadarkan diri.
"Papa.." Teriak Berlin ketika melihat suaminya drop.
"Vadim, kamu sangat keterlaluan." Ucap Berlin.
Berlin pun langsung menelfon ambulance. Setibanya di rumah sakit, Berlin langsung menghubungi Vino dan Sabrina. Mereka pun segera datang ke rumah sakit.
"Keadaan papa bagaimana ma?" Tanya Sabrina yang panik.
__ADS_1
"Dokter masih menanganinya sayang.." Ucap Berlin sambil menangis. Sabrina pun memeluk mama mertuanya. Dan berusaha menenangkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama papa ma?" Tanya Vino. Berlin menoleh ke arah Vino. Dan Berlin tidak kuasa untuk menjawab.
"Bagaimana papa ma?" Tiba-tiba Vadim datang.
"Plak!" Tamparan dari Berlin terhadap Vadim. Vadim langsung memegang pipinya karena ditampar.
"Ini semua gara-gara kamu Vadim, kalau sampai terjadi apa-apa terhadap papa kamu, mama tidak akan pernah maafin kamu.." Ucap Berlin. Vino dan Sabrina menenangkan mamanya.
"Dengan keluarga Bapak Arya?" Dokter memanggil.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Berlin.
"Maafkan kami Buk, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain. Bapak Arya sudah dipanggil oleh yang maha kuasa." Ucap dokter.
Berlin, Vino dan semua keluarga terkejut mendengar kenyataan pahit yang diucapkan dokter. Mereka semua berlari ke ruangan Arya. Badan Arya sudah tertutup oleh kain. Berlin membuka kain tersebut.
Berlin pun berteriak histeris melihat suaminya yang telah pucat dan dingin. Sabrina ikut menangis melihat semua itu. Vino juga ikut terpukul atas kepergian papanya.
"Sabar ma.. Semua sudah takdir.." Ucap Sabrina.
"Papa... Kenapa papa tinggalin Vino pa.." Vino berteriak dan memeluk papanya.
Berlin tidak dapat berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba dada Berlin merasa sakit dan sesak. Kepalanya pusing. Dan tak lama Berlin pun tidak sadarkan diri.
"Ya tuhan, mama.." Sabrina kaget.
Dokter segera memeriksa keadaan Berlin. Dan ternyata Berlin menyusul suaminya. Vino dan Sabrina tidak dapat berkata-kata lagi. Vino pun jatuh tersungkur ketika melihat orang tuanya sudah tidak bernyawa.
Sabrina juga ikut terpukul melihat semua ini. Selama ini, Berlin dan Arya sangat perhatian padanya. Berlin dan Arya sudah Sabrina anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Sementara Vadim, tetap berdiri kaku. Dia sama sekali tidak menghampiri orang tuanya. Dia terdiam seperti patung.
Vino yang melihat kakaknya itu, langsung menarik kerah bajunya. Vino sangat emosi terhadap kakaknya.
"Puas sekarang? Kakak puas sekarang? Mama sama papa sudah ga ada. Dan itu semua gara-gara kakak.." Ucap Vino dengan nada marah.
"Vino, sabar.." Sabrina berusaha menenangkan Vino.
...****************...
Acara pemakaman pun selesai. Vino masih tertegun melihat malam orang tuanya. Padahal Vino ingin kedua orang tuanya melihat iya menikah. Dan memiliki anak.
__ADS_1