
Sabrina pun tertidur di sofa ruang tengah. Meskipun tidur di sofa, tetapi Sabrina merasa nyaman. Sabrina tetap bersyukur karena masih bisa tidur dengan tenang.
...****************...
Sabrina melihat persediaan susu untuk ibu hamil habis. Sabrina pun pergi ke supermarket sendirian. Kandungan Sabrina semakin hari semakin membesar. Sabrina semakin merasa kesulitan. Namun, Sabrina tidak pernah mengeluh.
"Buk!" Tidak sengaja bertabrakan dengan melisa.
"Ups, sorry.. Duh, bertemu dengan Ibu hamil yang ga pernah dianggap oleh suami.. Kasian banget ya hidup loh. Lo yang hamil, gue yang dimanjain. Hahaha.. ini namanya laba buat gue, rugi buat lo.." Kata melisa. Sabrina hanya menggelengkan kepala.
Sabrina malas berdebat dengan perempuan satu itu. Sabrina pun tidak mengubris perkataannya. Sabrina langsung pergi begitu saja. Melisa masih mengikuti Sabrina dan mengganggunya.
"Kenapa langsung pergi? Ga bisa menjawab ya.. Hahaha.. berarti benar kan, kata-kata
gue?" Ujar Melisa sambil ngoceh ga jelas.
Sabrina masih dalam mode off. Iya tidak menghiraukan melisa. Dan akhirnya melisa merasa kesal sendiri.
"Heh, lu dengar gak apa yang gue bilang?" sedikit mendorong dada Sabrina. Sabrina melirik melirik ke arah dadanya. Lalu mengusap bekas tangan melisa. Melisa yang dibuat semakin kesal.
"Cek, memangnya harus ya.. dengerin omongan yang ga bermutu?" Katanya sambil tersenyum sinis.
"Gue cuma mau, lo itu ngaca. Vadim itu ga cinta sama lo.. Dia ga mau sama lo.. punya anak dari lo aja dia ga mau.." Ujar Melisa dengan nada tinggi.
"Hahaha.. Siapa bilang, Vadim ga mau sama gue.. lah kalau dia ga mau, ngapain dia menghamili gue? Harusnya dia sudah membuang gue dari dulu. Lo tahu enggak kita nikah itu karena apa? Ga tahu kan lo.. mending lo tanya sama vadim, kita itu menikah karena apa. Jangan-jangan, kamu cuma dibuat pelampiasan doang sama Vadim. Mikir dong," Kata Sabrina dengan santai dan senyum.
"Tapi, Vadim bilang dia ga pernah cinta sama lo.. Dia terpaksa.." Ujar melisa dengan emosi. Dalam hati Sabrina tertawa terpingkal-pingkal
melihat melisa emosi.
"Itu kan cuma kata dia.. Kasihan banget ya lo.. ingat, kata-kata manis laki-laki itu banyak yang hoax Sayang.. jadi jangan tertipu. Pernikahan ini ga akan terjadi, kalau Vadim yang tidak berbuat. Mengerti kan sekarang?" Ucap Sabrina semakin membuat melisa mendidih.
__ADS_1
Sabrina pun langsung pergi meninggalkan Melisa. Sabrina langsung ke kasir dan membayar belanjaannya. Sabrina langsung ke mobil. Sabrina yang sedari tadi menahan tawa, akhirnya tertawanya lepas juga.
Sabrina sangat santai dalam menghadapi melisa. Iya tidak perlu menguras tenaga dalam menghadapi perempuan seperti melisa.
Seketika Sabrina langsung rem mendadak. Sabrina pun turun dari mobilnya dan langsung melihat ke depan. Sabrina kaget ketika melihat seorang pria yang hampir tertabrak.
"Yeon seok?" Setelah pria itu menoleh ke arahnya. Sabrina langsung memeluk adik kesayangannya itu. Begitupun dengan Yeon Seok membalas pelukan kakaknya.
"Kakak, akhirnya kita bertemu lagi.. Aku kangen sama kakak.." Ungkapan Yeon Seok.
"Sama dek, kakak juga kangen kamu.." Ujar Sabrina. Yeon Seok melihat perut Sabrina yang buncit.
"Loh, kak.. kakak kok gemukan?" Tanya Yeon Seok. Sabrina terlebih dahulu membawa Yeon Seok ke rumahnya.
...*************...
"Jadi, kakak sudah menikah dengan Vadim? dan kakak sudah hamil?" Yeon Seok kaget.
"Iya dek.." Jawab Sabrina.
"Oh, iya dek.. kamu ngapain ada di kota?" Tanya Sabrina.
"Kak, Yeon sudah lulus kuliah di luar negeri. Dan Yeon bekerjasama dengan perusahaan SHINING STAR kak." Kata Yeon.
"Shining Star? Perusahaan apa itu kakak baru dengar." Tanya Sabrina.
"Ini perusahaan di luar negeri kak.. yang punya perusahaan ini adalah CEO Chan." Ujar Yeon Seok lagi. Sabrina hanya mengangguk.
"Kakak bangga sama kamu Yeon.. tetap semangat ya.. maaf kakak ga bisa ada di samping kamu, ketika kamu sedang berjuang." Kata Sabrina sedih.
"Hei, jangan sedih dong kak.. kakak selalu memotivasi Aku kok.. Aku selalu ingat dengan kata-kata kakak.. Aku kesini memang sengaja ingin bertemu dengan kakak.. Suatu saat Aku akan membawa kakak ke luar negeri." Ucap Yeon Seok. Sabrina pun memeluk Yeon Seok.
__ADS_1
Sabrina tidak bisa menahan kerinduan terhadap adiknya. Disaat-saat seperti ini, Sabrina merindukan adiknya. Yeon Seok tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan kakaknya.
"Yeon, pamit dulu ya kak.. Yeon mau kembali ke hotel.." Kata Yeon. Padahal Sabrina masih kangen terhadap adiknya. Namun, Sabrina tidak dapat menghalangi adiknya itu.
"Ya, sudah.. kamu hati-hati ya.. kalau perlu sesuatu kamu hubungi kakak saja ya.." Ucap Sabrina sambil menepuk pundak kakaknya.
Sabrina hanya memandangi kepergian Yeon Seok. Sabrina masih merasakan rindu terhadapnya. Yeon adalah anak yang baik, yang selalu membuat Sabrina tersenyum.
Waktu jam makan siang telah tiba. Sabrina mengantarkan makanan untuk suaminya. Sabrina pun mulai memasuki ruangan Vadim. Vadim seketika moodnya langsung hilang ketika melihat Sabrina.
"Aku bawain makan siang buat kamu.. Kamu makan ya.. ingat, jangan lupa makan.." Ucap Sabrina.
Vadim pun langsung mengambil makanan dari Sabrina. Sabrina pun langsung keluar dari ruangan. Karena Sabrina tahu Vadim tidak suka melihat wajah Sabrina.
Tiba-tiba Sabrina melihat melisa datang dan menuju ke ruangan Vadim. Melisa ingin masuk ke ruangan Vadim. Namun, Sabrina menghalangi melisa masuk.
"Lo itu apa-apaan sih?" Ujar melisa yang emosi.
"Mau kemana kamu?" Sabrina pura-pura tidak tahu.
"Ya, mau nyamperin pacar Aku lah.." Jawab melisa enteng.
"Oh, mau nyamperin? Jangan ganggu Dia, Dia sedang makan. Mendingan kamu pergi dari sini." Usir Sabrina.
"Heh, siapa lo? Berani mengusir pacar seorang Vadim?" Kata melisa dengan pede.
"Lo gak tahu siapa saya? Kamu itu, cuma pacar ya, jadi gak ada hak apapun atas Vadim. Dan Aku juga berhak mengusir siapapun di kantor ini. Termasuk kamu.. Saya lebih berhak atas Vadim. Karena saya istri sahnya dia. Kamu pergi sekarang, atau Aku panggil satpam buat ngusir kamu." Ucap Sabrina dengan tegas.
Melisa pun terpaksa keluar dari kantor Vadim. Semua orang kantor mentertawakan melisa. Mereka terlihat senang ketika melisa diusir oleh Sabrina.
"Rasain tuh pelakor.. Jadi orang belagu banget.. makanya, ga usah kebanyakan tingkah deh.." Ucap salah satu karyawan kantor.
__ADS_1
Melisa merasa malu ketika dikatakan pelakor oleh orang lain yang tak lain adalah karyawan Vadim. Melisa pun menelfon Vadim dan ingin mengadu kepadanya. Namun sialnya, Vadim tidak mengangkat telfon dari melisa.
"Ih, kenapa ga diangkat sih? Sebel gua kalau kayak gini.. sial." Ucapnya kesal.