
Sabrina dengan malu-malunya ikut gabung bersama mereka. Sabrina dan Dae merasa grogi ketika duduk berhadapan. Sabrina terus tertunduk malu. Sesekali mereka saling adu pandang dan tertunduk lagi.
Sabrina pun balik ke kamarnya karena merasa sangat lelah. Sabrina langsung istirahat. Dae memandangi Sabrina yang beranjak dari tempat duduknya.
"Kok, Aku merasa haus ya.." Pikirnya. Sabrina pun langsung ke dapur untuk mengambil minum.
Setelah itu, Sabrina ingin kembali lagi ke kamarnya. Sabrina kaget ketika berpapasan dengan Dae Hyun. Sabrina langsung mengusap dadanya. Sabrina dan Dae Hyun kembali tertunduk. Dan Sabrina langsung kembali ke kamar.
"Kenapa Dia bisa ke belakang sih, Aku kan jadi salah tingkah.." Ujarnya.
Sabrina merasa sangat gerogi ketika berhadapan langsung dengan Dae Hyun. Mengapa perasaan Sabrina seperti pertama kali ketika melihat Dae Hyun. Sabrina tidak ingin kecewa untuk yang ketiga kalinya.
...**************...
Sabrina kembali lagi untuk menyamar sebagai office girl. Sabrina sedang melakukan pekerjaan layaknya office girl beneran. Ketika Sabrina sedang ngepel, tiba-tiba seseorang menendang tempat air. Air pun menjadi tumpah.
Sabrina melihat dari bawah ke atas kepada orang itu. Ternyata dia adalah senior office girl. Office tersebut, merasa dia yang paling senior. Jadi semua office yang dibawahnya dia harus patuh pada perintahnya.
Karena penyamaran Sabrina tidak ingin diketahui, Akhirnya Sabrina tidak melawannya. Meskipun Sabrina merasa kesal karena kesombongan dia, tetapi Sabrina tahan.
"Cuma office girl saja belagunya minta ampun." Gumamnya.
"Hei, why are you just dumb? little girl.. Clean up fast!" Perintahnya.
Sabrina membereskan air yang tumpah. Dan lagi-lagi, senior office girl itu mengotorinya kembali. Sabrina melihat ke arahnya lagi.
"what are you looking at? do you want to protes?" Ujarnya sambil meletakkan tangannya di kedua pinggang. Lalu melotot ke arahnya Sabrina.
Sabrina pun menunduk dan melanjutkan pekerjaan. Sabrina juga melihat office girl senior itu hanya memerintah yang lain saja. Dan Iya tidak melakukan pekerjaan apapun.
Sabrina merasa ada keuntungan dengan Dia menyamar sebagai office girl. Tidak hanya dapat memantau kecurangan, namun Sabrina juga dapat memantau semua bawahannya.
Sabrina juga kaget, ketika office girl senior itu bersikap manja terhadap seorang manager pengkhianat. Sepertinya manager itu sangat tergila-gila dengan office girl senior itu.
"Pantas saja, lihat saja nanti.. Siapa yang akan nangis." pikirnya.
Sabrina sudah banyak mengumpulkan bukti-bukti kebusukan pengkhianat itu. Tinggal menghitung hari Sabrina akan membongkar semuanya.
"Sabar Sabrina.. Sebentar lagi semuanya akan terbongkar." Pikirnya. Sabrina pun terus membereskan air yang tergenang di lantai, setelah selesai membersihkan.. Sabrina pun membuka sebungkus roti lalu memakannya.
__ADS_1
"Hei, you eat so good.." Sambil mendorong Sabrina dari belakang. Seketika Sabrina langsung keselek. Sabrina pun menghentikan makannya.
"What's wrong sis? Why you push me?" Tanyanya.
" You say what's up? Don't you see? your work is not finished. You see that.." Sambil menunjuk ke arah yang kotor.
"But, it's not part of my job sis. it's your part.." Jawabnya menolak.
"Hei, You are so brave with me.." Sambil menjambak rambut Sabrina. Sabrina memegangi rambutnya karena kesakitan.
"Aw.. Sorry sorry.. Ok-ok.. I will the work. But you let me.." Ucap Sabrina sambil menahan sakit.
Senior office girl itu pun melepaskan rambutnya yang dijambak. Sabrina menghembuskan nafas kasar. Sabrina sambil mengusap dada.
"Are you ok?" Tiba-tiba salah satu office boy menghampiri Sabrina.
"Ok👍" Lalu office boy itu membantu Sabrina untuk berdiri. Office boy itu menjelaskan tentang sikap perempuan itu kepada Sabrina.
"Oh, rupanya dia sok jagoan di kantor ini?" Gumamnya.
Office boy itu kemudian mengambilkan suatu minuman dan makanan kepada Sabrina. Office boy itu berumur lebih muda dari Sabrina. Sabrina melihat office boy itu seperti melihat Yeon. Office itu memang anak yang baik. Sabrina kagum dengan kebaikannya. Office boy itu membantu pekerjaan Sabrina.
"22 old." Jawabnya. Ternyata seumuran Yeon Seok adiknya. Sabrina pun menanyakan tujuan dia kerja di kantornya. Office boy itu ingin membiayai hidup dan sekolah adik-adiknya. Jawaban itu membuat Sabrina merasa salut terhadap office boy itu.
"What's you name?" Tanya Sabrina
"My Name is cakra." Jawabnya.
"Ok, thank you.. Helped me.." Kata Sabrina.
...****************...
Sabrina merasakan lelah dan ingin langsung tidur. Sabrina terkejut ketika membuka pintunya. Sabrina melihat Dae Hyun sedang ngobrol bersama Yeon Seok.
Dae melihat ke arah Sabrina. Dan Sabrina pun juga melihat ke arahnya. Sabrina langsung menundukkan kepalanya karena malu. Yeon Seok mengajak kakaknya untuk bergabung.
"Tapi, kakak baru pulang kerja dek.. Masih bau.." Ucap Sabrina ga pede.
"Ih, kakak.. keringat kakak ga bau kok.. udah sini.. gabung aja.. kakak tetap cantik kok.." Puji Yeon.
__ADS_1
"Dasar kamu tu ya.. paling pintar kalau ngerayu.. siapa sih yang ngajarin?" Ucap Sabrina. Yeon pun melirik ke arah Dae Hyun. Sabrina pun melihat lirikan itu.
"Oh, jadi kamu.. yang ngajarin adik saya merayu orang?" Tuduh langsung Sabrina.
"Eh, bukan tahu.. enak saja.." Jawab Dae Hyun.
"Oh iya kak.. Aku ke belakang dulu ya.. temani tuan chan dulu.." Ujarnya.
"Loh loh.. kamu mau kemana dek?" Tanya Sabrina bingung.
Sabrina pun menemani Dae Hyun. Sabrina dan Dae Hyun saling diam. Sesekali mereka saling lirik. Mereka masih sangat malu-malu.
"Bagaimana hari ini pekerjaannya?" Tanya Dae Hyun memulai pembicaraan.
"Baik kok.." Jawabnya singkat.
"Kamu sendiri?" Sabrina balik bertanya.
"Yah.. lancar juga.." Jawabnya. Sabrina pun jadi salah tingkah. Dan untuk menutupi groginya, Sabrina pun mengambil sebuah apel yang tersedia di meja.
Sabrina mengupas apel itu dengan pisau. Karena grogi, akhirnya tangan Sabrina tidak sengaja terkena pisau.
"Aw.." Mengadu kesakitan. Dan secara reflek Sabrina melepas pisau itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Dae langsung melompat dan mengambil tangan Sabrina. Dae Hyun pun menghisap darah yang di telunjuk Sabrina. Sabrina tertegun ketika Dae Hyun langsung melakukan hal itu.
Dae Hyun juga melirik ke arahnya. Dae Hyun juga memandang sambil menghisap. Memory Sabrina kembali terbuka dengan Dae Hyun. Memory yang sudah di tutup oleh Sabrina.
Dae Hyun pun langsung mengobati luka sayatan pisau itu dengan lembut. Sabrina dan Dae Hyun kembali merasa dag dig dug. Entah mengapa Sabrina merasa senang ketika dekat Dae lagi.
Tiba-tiba HP Dae Hyun berbunyi. Dan Dae Hyun langsung mengangkat telfonnya. Dae Hyun senyum-senyum sendiri ketika berbicara di telfonnya.
"its ok baby.." Jawabnya di akhir telfonnya.
Sabrina pun merasa ciut ketika Dae Hyun memanggil baby dengan lawan bicaranya di telfon. Dae melirik ke arah Sabrina yang cemberut.
"Kamu kenapa?" Tanya Dae.
"Enggak kok.. Aku ga apa kok.." Ujarnya tanpa senyum.
__ADS_1
"Tadi itu, keponakan Aku.. yang masih kecil telfon.. makanya Aku panggil baby." Jawab Dae langsung peka. Sabrina kaget mendengar ucapan Dae. Seolah-olah, Dae Hyun mengerti perasaannya.