Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Khilaf


__ADS_3

"Aku disuruh mama, untuk membantu kamu menyiapkan acara camping nanti.. Mulai dari tenda, dan alat-alat lainnya." Ujar Vadim. Vadim pun juga mengajak Sabrina untuk pergi ke mall.


...****************...


Sabrina mempersiapkan untuk acara camping keluarga. Tak lama, suara klakson mobil terdengar sangat keras. Angela membukakan pintu rumahnya. Angela merasa senang, Angela mempersilahkan Vadim masuk.


"Vadim, tunggu sebentar ya.. Tante panggilkan Sabrina dulu.." Ujar Angela.


"Aku sudah siap kok tante.." Sabrina tiba-tiba muncul.


"Ya, sudah.. Tante ga perlu capek-capek ke kamar Sabrina kalau begitu.. Oh iya, Tante sudah siapkan bekal untuk kalian." Ujarnya sambil menyodorkan bekal.


"Terimakasih Tante.." Ucap Vadim.


Vadim dan Sabrina pun mulai berangkat. Vadim membukakan pintu mobil untuk Sabrina. Sabrina tersenyum dan mengucapkan Terimakasih kepadanya.


Kali ini, Sabrina akan melakukan camping. Sabrina mengambil kesempatan kegiatan ini, agar dapat melupakan Dae dengan cepat. Sabrina akan melakukan kegiatan yang sangat menyibukkan dirinya.


Vadim dan Sabrina telah tiba di hutan kota. Vadim dan yang lain, pun mulai mendirikan tenda. Sabrina sangat kesulitan ketika mendirikan tenda. Vadim dan Vino segera membantunya.


Tidak terasa hari sudah mulai malam. Mereka membuat api unggun. Mereka duduk di dekat api unggun supaya terasa hangat. Dalam waktu senggang, Sabrina pun memainkan gitar. Berlin, Vadim dan yang lain menikmati permainan gitar Sabrina.


*Bulan hanya satu, meskipun jauh Kita memandang bulan yang sama. Kita berada di naungan langit yang satu. Tetapi apalah dayaku jika tidak dapat menemukanmu.


Dunia itu sempit, namun terasa luas bagiku. Karena hatimu sulit untuk Aku temui. Kita berada di dunia yang sama. Tetapi, apa daya kita tidak dapat bertemu kembali.


Sayang, Aku mencintaimu dari hatiku. Aku menyayangimu dari jauh. Tetapi apa dayaku jika hatiku dan hatimu tidak dapat menyatu.


Aku sakit bukan karena Aku tak bisa menggapai mu..


Tapi Aku sakit ketika dirimu tak bisa seperti yang dulu..


sayang*...


lirik lagu Sabrina sungguh membuat yang mendengarkan ikut nyesek. Terlebih lagi dengan Berlin. Berlin menjadi mewek mendengar lagu Sabrina yang dinyanyikan.


"Hiks, hiks, hiks.." Berlin menangis. Seketika Sabrina berhenti bermain gitar. Semua orang fokus terhadap Berlin.

__ADS_1


"Kenapa ma? kok nangis?" Tanya pak Arya kepada istrinya. Berlin semakin menjadi nangisnya.


"Ma, mama kenapa nangis?" Tanya Vadim.


"Lagu Sabrina nyesek banget pa.. Mama teringat mantan pacar mama yang mutusin mama dulu.. Oh my god.. mana pacar mama ganteng benget pa.." Ujar Berlin sambil mewek.


Pak Arya langsung sewot mendengar alasan Berlin. Vadim dan Vino pun tertawa geli. Sementara Sabrina ingin meminta maaf ga jadi karena mereka sangat kocak.


"Mama lebay ya.." Ujar pak Arya.


"Ih, papa.. bukannya menghibur mama.. mama lagi sedih nih.." Ucap Berlin semakin mewek.


"Papa bersyukur banget, pacar mama ninggalin mama dulu.. Papa ga sedih, malah senang ma.." Ucap papanya jengkel. Berlin pun memukul lengan pak Arya.


Vadim dan Vino merasa malu terhadap Sabrina atas kelakuan orang tua mereka. Sabrina hanya bengong saja melihat keduanya. Sabrina mulai menggaruk kepala yang tidak gatal karena heran.


Semuanya telah beristirahat, Kecuali Sabrina masih menikmati hangatnya api unggun. Vadim ternyata tidak dapat tidur. Karena Vadim tidak biasa tidur di tempat seperti itu. Vadim pun keluar dari tenda.


"Belum tidur?" Tanya Vadim yang mendapati Sabrina masih duduk di depan api unggun.


"Menggelengkan kepala saja."


"Aku belum ngantuk." Jawabnya singkat.


Vadim pun langsung menarik tangan Sabrina. Sabrina kaget karena Vadim tiba-tiba menarik tangannya. Vadim dan Sabrina pergi ke suatu tempat dimana tempat itu sangat sepi namun luas.


"Coba kamu lihat bintang-bintang itu?" Sambil menunjuk ke langit. Sabrina melihat langit-langit yang dipenuhi banyak bintang.


"Mereka itu, sangat jauh Sabrina.. Bahkan jauhnya tidak dapat dihitung dengan umur manusia untuk bisa sampai ke sana." Ujarnya.


"Maksudnya?" Sabrina tidak paham.


"Sabrina, bintang itu sangat jauh.. namun Dia tetap akan bersinar. Artinya, meskipun orang yang kita sayang itu jauh dari kita.. Dia akan tetap bahagia ketika melihat kita bahagia. Dia hanya menginginkan kita untuk terus tersenyum." Ucap Vadim. Sabrina pun paham apa yang dimaksud oleh Vadim.


"Terimakasih Vadim.. Aku paham sekarang.." Sambil tersenyum. Mereka pun akhirnya kembali ke tenda untuk istirahat.


...****************...

__ADS_1


Mereka melakukan penjelajahan. mereka mendaki Bukit, melewati sungai dan lain-lain. Sabrina sangat menyukai petualangan ini. Karena perjalanannya sangat seru.


Vadim dan Sabrina tertinggal oleh kelompoknya. Mereka akhirnya menyadari kalau mereka hanya tinggal berdua. Vadim dan Sabrina sangat kebingungan mencari yang lain.


"Vadim, kita sekarang ada dimana?" Sabrina bingung.


"Aku juga ga tahu Sabrina.." Jawab Vadim juga bingung.


Hari sudah semakin gelap, mereka terus menyusuri hutan. Namun mereka semakin tersesat. Mereka menemukan sebuah gua. Akhirnya mereka beristirahat di gua itu.


Mereka membuat api unggun. Sepertinya Sabrina merasa ketakutan di gua itu. Vadim pun mendekatinya. Iya memandang Sabrina dan tersenyum.


"Jangan takut, Aku disini." Ujarnya. Bola mata Sabrina bergerak ke kanan dan kiri. Vadim dan Sabrina saling tatap-tatapan. Vadim pun mulai mendaratkan bibirnya ke bibir Sabrina.


Entah apa yang telah merasuki Sabrina, Sabrina hanya pasrah saja apa yang dilakukan oleh Vadim kepadanya. Vadim pun mulai membaringkan Sabrina. Dan.


...****************...


Hari sudah mulai pagi. Sabrina terbangun dari tidurnya. Dan dirinya menjadi dapati Vadim sedang memeluk dirinya. Dalam keadaan baju setengah terbuka. Sabrina terkejut dan langsung terbangun.


"Apa yang telah terjadi kepadaku?" Sabrina tidak sadar dengan apa yang terjadi semalam bersama Vadim. Tak lama kemudian, Vadim juga terbangun. Iya mengucek matanya.


"Vadim, apa yang sudah kamu lakukan sama Aku?" Tanya Sabrina panik.


"Maafin Aku Sabrina, Aku khilaf." Ujarnya.


"Kamu jahat Vadim.. hiks hiks hiks.." Ujarnya sambil menangis. Vadim merangkul Sabrina lalu minta maaf.


"Woi! apa yang kalian lakukan disitu?" Suara seseorang berteriak dan membuat mereka kaget. Sabrina dan Vadim menoleh ke arahnya.


Ternyata Dia tidak sendirian. Dia bersama para temannya yang lain. Ternyata mereka adalah salah satu warga yang ada di situ. Sabrina dan Vadim gelagapan.


"Kalian sudah berbuat mesum disini.. Sebaiknya kalian ikut kami ke RT." para warga langsung membawa mereka berdua ke ketua RT. Mereka belum sempat menjelaskan langsung dibawa begitu saja.


Sesampainya di kantor RT, mereka diintrogasi satu persatu. Sabrina tidak tahu harus jawab apa. Karena iya memang tidak tahu apa yang terjadi. Vadim meminta ijin terlebih dahulu untuk menghubungi keluarganya.


Keluarga Vadim segera datang. Mereka melihat Sabrina dan Vadim sudah dikelilingi para warga di kantor RT.

__ADS_1


"Vadim, sebenarnya ada apa ini?" Tanya papanya heran.


"Maafin Vadim pa, Vadim telah..." Vadim pun menjelaskan apa yang telah terjadi. Berlin dan papanya pun syok mendengar cerita Vadim. Terlebih lagi dengan Vino.


__ADS_2