
"Biar Aku antar kamu.." Anaknya. Dae Hyun pun mengantar Sabrina sampai depan hotel. Sebenarnya Sabrina merasa senang karena Dae mengantarnya sampai hotel.
Sabrina pun langsung turun sendiri dari mobil. Sebelum turun, Sabrina tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Dae. Dae tidak seperti dulu lagi. Biasanya Dae membukakan pintu mobil untuk Sabrina. Sekarang Sabrina membukanya sendiri.
Mobil Dae langsung jalan tanpa menunggu Sabrina masuk dulu. Sabrina melihat mobil Dae yang semakin menjauh.
"Aku yakin Dae, kamu masih ada perasaan kepadaku." Ujar Sabrina.
Sabrina bertemu dengan Bisma. Sabrina pura-pura tidak tahu. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sabrina mengulas senyum kepada Bisma.
"Kamu sudah pulang duluan? Pantesan Aku cari-cari tidak ada.." Ujarnya.
"Iya, maaf Sabrina Aku ninggalin kamu.. soalnya tiba-tiba saja Aku ada urusan mendadak." Jawabnya.
"Iya, tidak apa-apa kok.. Oh iya, itu wajah kamu kenapa?" Sabrina pura-pura tidak tahu.
"Oh, ini. Tadi Aku jatuh.." Sambil meraba wajahnya.
"Oh, ya sudah. Lain kali hati-hati. Aku masuk kamar dulu ya?" Pamit Sabrina sambil tersenyum.
Bisma membalas senyum Sabrina. Dan memandangi nya sampai iya masuk ke kamarnya.
Sabrina merebahkan dirinya di atas kasur. Sabrina merenung sejenak. Bagaimana bisa Iya melupakan Dae Hyun, sementara ketika Sabrina berusaha ingin melupakan Dae Hyun, malah dipertemukan kembali dengannya.
Tapi ini masalah pekerjaan, Sabrina harus tetap profesional dalam bekerja. Toh waktunya dia tinggal 2 hari lagi di negara itu. Sabrina harus tetap fokus pada pekerjaan. Ini demi mengharumkan nama kampus A.N.
"Ini adalah ujian, Aku harus bisa melupakan Dae.. Iyah harus." Tekatnya.
...****************...
Pagi-pagi buta, Sabrina terbangun dari tidurnya. Iya merasakan sesak kembali di dadanya. Sabrina tetap menahan rasa sakit yang ada di dadanya.
"Sabrina, apa kamu sudah siap?" Panggil Bisma. Bisma mengetuk pintu kamar Sabrina. Tak lama Sabrina membuka pintunya.
"Yuk.." Anaknya.
"Sabrina, apa kamu sakit? wajah kamu kelihatan pucat sekali." Sambil memperhatikan wajah Sabrina.
"Aku cuma kelelahan saja.." Ujarnya berbohong.
__ADS_1
"Ya, sudah kita berangkat yuk.." Ujarnya.
Mereka pun berangkat di acara meeting. Rasa sesak di dada Sabrina semakin terasa. Tangan Sabrina terasa gemetar. Sabrina berusaha untuk menutupi rasa sakitnya.
Sesampainya di sana, Sabrina bertemu kembali dengan Dae Hyun. Sabrina mengulas senyum kepadanya. Sabrina pun masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Bisma.
Acara meeting pun dimulai. Mereka membahas tentang produksi musik. CEO dari perusahaan industri musik pun mulai menjelaskan tentang musik-musik yang akan diproduksi.
"Excuseme, I to go to toilet.." Sabrina meminta ijin.
Sabrina langsung ke kamar mandi. Sabrina semakin tidak dapat menahan rasa sakit di dadanya. Sabrina berusaha mengatur nafasnya. Setelah tenang, Sabrina pun kembali lagi ke acara meeting. Wajah Sabrina terlihat pucat.
"Sabrina sebaiknya kamu minum dulu.. wajah kamu pucat.." Sambil menyodorkan minuman.
Sabrina pun langsung meminumnya.
Sabrina menjadi batuk-batuk, dan lehernya terasa seperti tercekik. Sabrina pun langsung terjatuh. Semua orang panik melihat Sabrina.
"Sabrina," Bisma langsung menghampiri Sabrina. Bisma merasa panik. Mata Sabrina melotot, dan Sabrina pun kejang.
Dae Hyun langsung berlari menghampiri Sabrina. Dae Hyun langsung mendorong Bisma. Dan menggotong Sabrina. Dae Hyun membawa Sabrina ke rumah sakit dengan mobilnya.
Dokter langsung menangani Sabrina. Dae menunggu dengan panik. Setelah memeriksa Sabrina, Dokter pun keluar. Dae langsung menghampiri dokter. Dae menanyakan keadaan Sabrina.
Dokter mengatakan bahwa racun yang ada di tubuh Sabrina sudah menjalar ke paru-paru. Dan dokter harus segera melakukan tindakan. Dae hanya pasrah saja.
"Please, do your best.." Ujarnya berharap kepada dokter.
Dokter segera memindahkan Sabrina ke ruang operasi. Dokter melakukan tindakan untuk menyedot cairan racun yang ada di paru-parunya. Dae menunggu dengan tidak sabar.
Dae kemudian teringat kepada Bisma. Dae merasa benar-benar marah terhadap Bisma. Dae pun langsung pergi ke suatu tempat. Dae langsung menyalakan mobilnya.
Dae Hyun langsung mendatangi hotel yang ditempati oleh Bisma. Dae langsung menuju kamar hotel Bisma. Dae mengetuk pintu kamar Bisma. Tak lama kemudian, Bisma membuka pintu kamarnya.
"Buk!" Dae langsung melayangkan pukulan kepada Bisma.
"Apa-apaan ini?" Ujarnya sambil memegang wajahnya. Dae Hyun langsung menarik kerah baju Bisma dengan penuh amarah.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sabrina. Kamu orang pertama yang akan aku bunuh." Ujarnya dengan marah. Bisma hanya tersenyum melihat amarah Dae.
__ADS_1
"Kenapa? Kekasihmu sudah sekarat? Atau Dia sudah nunggu hitungan detik untuk mati? Hahaha.." Sambil memainkan lidah.
"Kurang ajar! ( Buk)." Melayangkan pukulan lagi. Dae Hyun terus menghajar Bisma sampai Bisma babak belur. Setelah Bisma tidak berdaya, Dae langsung melepaskannya. Dae pun langsung pergi meninggalkannya.
Bisma masih terkapar di lantai. Bisma sambil meraba bibirnya yang mengeluarkan darah. Bisma hanya tertawa. Iya merasa puas karena telah membuat Dae akan kehilangan orang yang disayanginya.
"Rasa sakit pukulanmu, tidak seberapa dengan rasa sakit yang kamu alami.. Hahaha.. sebentar lagi kamu akan kehilangan orang yang kamu cintai." Ujarnya.
...****************...
Dae Hyun menunggu Sabrina sadar. Iya memandangi wajah Sabrina dengan tatapan sayu. Dae Hyun memegang tangan Sabrina. Iya mengelus pipi Sabrina dengan lembut.
"Sabrina, kenapa kamu bisa bersama bajingan itu? Andai kamu tahu, kalau Dia orang yang jahat, pasti kamu tidak akan bersamanya. Ternyata kamu adalah orang yang polos." Ujarnya Dae Hyun.
"Aku mohon, kamu cepat sadar. Maafin Aku.." Ucapnya.
Dae Hyun melihat tangan Sabrina bergerak. Sabrina perlahan-lahan membuka matanya. Dan Sabrina merasa tenggorokannya seperti kering.
"Air, air. Haus.." Lirihnya.
Dae Segera mengambilkan air untuknya. Dae membantu Sabrina untuk bisa minum. Sabrina merasa masih sangat lemas. Kemudian Sabrina tertidur lagi. Dae menemani Sabrina di ruang rawat. Dae Hyun mendengar Sabrina mengigau.
"Dae, jangan pergi. Please, jangan tinggalin Aku." katanya tanpa sadar.
Dae merasa pilu, karena Sabrina masih belum bisa melupakannya. Dae merasa sedih melihat wanita yang dicintainya itu menderita seperti itu. Dae paham akan perasaan Sabrina.
"Sabrina, sedalam itukah rasa cinta kamu padaku? Maafin Aku, jika Aku meninggalkan kamu. Maafin Aku Sabrina.." Ujarnya. menyesal. Dae pun menangis, dengan wajah yang tertunduk. Tak lama kemudian, Sabrina pun tersadar. Iya membuka matanya dan mendengar suara orang yang sedang menangis. Sabrina menoleh ke arahnya. Iya melihat Dae Hyun menangis. Sabrina tersenyum. Sabrina pun mengelus rambut Dae.
"Dae, kamu nangis?" Ucapnya. Seketika Dae Hyun terhenti menangis. Iya melihat ke arah Sabrina. Langsung saja Dae mengusap air matanya.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" Tanya nya.
"Enggak, Aku ga apa-apa. Aku merasa kamu menjadi beban bagiku. Harusnya Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Tapi karena Aku harus mengantar kamu kesini, pekerjaanku jadi terganggu. Aku nangis karena itu." Ucapnya berbohong.
"Oh, kenapa kamu membawa Aku kesini? Dan kenapa kamu masih nungguin Aku? Ini kan bukan tanggung jawab kamu. Lagian sudah ada Bisma kok, yang akan tanggung jawab ini." Ujarnya. Dae hanya diam saja. tidak menjawab.
"Kalau begitu, tinggalin saja Aku. Aku bisa sendiri kok, ga perlu nungguin Aku.. Terimakasih sudah menolong Aku." Ucapnya.
"Ok! Ya, sudah Aku pergi dulu.." Kata Dae Hyun. Dae Hyun pun langsung pergi dari ruangan Sabrina.
__ADS_1