
Dae dan Sabrina telah sampai di rumah. Dae pun langsung membukakan mobil untuk istrinya. Sabrina pun langsung turun dari mobil.
Tiba-tiba saja, badan Sabrina terasa lemas. kepalanya terasa berputar. Dan pandangannya berkunang-kunang. Dan tiba-tiba saja
Buk.
Sabrina pingsan. Dae merasa kaget. Iya langsung menghampiri istrinya itu.
"Sayang.. hei.." Dae.
Dae segera menggotong istrinya itu menuju kamar. Dae pun membaringkan istrinya di ranjang. Dae melihat wajah istrinya yang begitu pucat. Dan badannya pun terasa hangat.
Dae juga melihat kaki dan tangan istrinya sedikit bengkak. Karena panik, Dae pun segera browsing di internet tentang gejala yang dialami oleh istrinya.
Dae terkejut ketika membaca artikel di internet. Dae harap-harap cemas. Tak lama pun Sabrina sadar dari pingsannya.
"Sayang.. kamu kenap?" Tanyanya panik.
"Aku ga apa-apa kok.. Aku cuma capek saja." Ucapnya.
"Besok kita ke dokter ya sayang.. Aku ga mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita." Ucapnya sembari mengelus perut istrinya.
Sabrina tersenyum mendengar ucapan suaminya.
...****************...
"Bagaimana keadaan istri saya dok.." Tanya Dae.
"Maaf.. saya harus memberitahu ini kepada Anda.. Ada masalah dalam kandungan Ibu Sabrina. Jika kandungannya dipertahankan maka akan mengancam nyawa Ibunya. Alangkah baiknya jika kandungannya dikuret." Ucap dokter.
Deg. Hati Sabrina dan Dae langsung terkejut mendengar ucapan dokter. Dae melirik istrinya.
"Dokter, apa tidak ada cara lain selain kuret? Saya tidak mau menggugurkan kandungan saya.. saya mau mempertahankan anak ini. Tolong.." Rengeknya.
"Keputusan berada di tangan kalian. lebih baik pikirkan kembali." Ucap dokter.
"Enggak dok.. keputusan saya sudah bulat. Saya akan mempertahankan anak saya.. masalah nyawa.. sudah ada Tuhan yang ngatur. Maaf, saya permisi dok.." Ucap Sabrina dan langsung pergi.
"Sabrina.. Saya permisi ya dok.." Ucap Dae tergesa-gesa. Iya langsung mengejar Istrinya.
...****************...
"Sayang, tunggu.." Mengejar lalu meraih tangan Sabrina. Dae membalikkan tubuh istrinya.
Dilihat wajah istrinya terlihat sedih. Dae pun memeluk sang istri. Iya membiarkan Sabrina menangis dalam pelukannya.
"Aku ga mau dikuret.. aku ingin anak ini tetap hidup.. Aku ingin melihatnya lahir dengan selamat.. Aku mohon.." Ucapnya lirih.
"Kamu tenang ya sayang.. kita bicarakan ini di rumah.." Ucap Dae berusaha membuat istrinya tenang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Dae membawa sang istri ke kamar.
"Sayang, Aku ga mau anak ini digugurkan.. Aku mau dia lahir ke dunia.. Aku mau melihat Dia.. please.." Ucapnya lirih.
"Iya sayang.. Aku mengerti.. Aku tidak akan memaksa kamu.. Tapi aku juga ingin yang terbaik buat kamu.." Ucap Suaminya.
"Kalau begitu, Aku tidak mau lagi chek up ke dokter.. Ini hanya buat Aku kecewa.." Ucap Sabrina.
Dae hanya mengangguk. Iya memeluk istrinya lagi. Dae menghela nafas dengan kasar. Ada perasaan bimbang dalam hatinya. Ini adalah pilihan yang sulit untuknya.
Dae Ingin istri dan anaknya selamat. di suatu sisi, Dae tidak ingin istrinya kenapa-kenapa, tapi di sisi yang lain, iya juga tidak ingin kehilangan calon anaknya.
Apalagi melihat istrinya yang sedih seperti itu.
"Sayang, kita coba mencari jalan keluarnya ya.. Kita berjuang sama-sama.." Ucapnya.
Sabrina mengangguk Dia sedikit lebih lega mendengar pernyataan suaminya.
...****************...
Dae berhasil membuat Sabrina melupakan kegalauannya. Iya mengajak istrinya untuk refresing sejenak.
"Sayang, kamu mau apa?" Tanyanya
"Aku pengen jus sayang.." Ucapnya.
Dae pun membawa Sabrina ke restoran miliknya. Sampai saat ini, Sabrina belum tahu kalau restoran itu punya suaminya.
Setelah Sabrina merasa lelah, Dae membawanya kembali ke rumah. Iya kembali istirahat di kamar. Dae sang suami menemaninya istirahat.
Perut Sabrina semakin kelihatan. Dae mengelus perut istrinya itu dengan lembut.
...**************...
Dae masih menemani Sabrina yang istirahat. Dae mengelus-ngelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
Prang...
Tiba-tiba seseorang melempar sesuatu dari kaca jendela kamar mereka. Dae langsung kaget dan melihat ke arah kaca jendela. Dae langsung beranjak dan menghampiri sebuah benda yang dijadikan bahan lemparan.
Dae mengambil sesuatu itu Ternyata sebuah batu yang dibungkus kertas. Batu tersebut berisi tentang.
TUNGGU SAJA KEMATIAN ISTRIMU
HAHAHAHA
Dae langsung saja *******-***** kertas tersebut. Iya marah dengan tulisan itu. Iya membuang kertas tidak bermutu tersebut.
Tiba-tiba saja HP Dae berdering. Ada nomor tidak dikenal yang menelfon dirinya. Orang misterius tersebut mengatakan suatu ancaman kepada dirinya. Ancaman tentang keselamatan dirinya.
__ADS_1
Dae semakin dibuat emosi olehnya. Iya melempar sesuatu sehingga membuat Sabrina terbangun.
"Ada apa sayang?" Tanya istrinya.
"Ga ada sayang.. ga ada apa-apa.." Jawabnya. Langsung menghampiri istrinya.
"Sayang, kamu kaget ya? Maaf ya.. sudah membuat kamu terbangun." Ucapnya sembari mengelus rambut istrinya.
"Iya ga apa-apa kok sayang.. Lagian Aku memang bangun dari tadi. Aku lihat kamu seperti emosi gitu.." Ucapnya.
"Ga apa-apa.. ini hanya masalah kecil saja." Jawabnya mengelak.
Dae benar-benar khawatir dengan keselamatan istrinya. Iya pun melarang istrinya untuk keluar rumah tanpa dirinya di sampingnya.
"Iya sayang, Aku selalu nurut kok.. makasih ya.. sudah perhatian.." Ucapnya.
"Iya sayang.." Jawab Dae.
Kedua pasangan itu sangatlah romantis, meskipun keadaan Sabrina sedang tidak baik-baik saja.
...****************...
Hari sudah mulai malam. Mereka berdua masih saja betah di kamarnya. Tiba-tiba seorang pembantu mengetuk pintu kamar mereka.
Pembantu Dae memberitahukan bahwa makan malam sudah siap. Dae dan istrinya siap ke meja makan.
Sesampainya di meja makan, Sabrina terkejut melihat adiknya dan adik ipar sudah duduk di sana.
"Yeon, Vino?" Sabrina terkejut.
Mereka hanya tersenyum dan Dae juga senyum-senyum. Sabrina menoleh ke arah suaminya. Iya melihat suaminya juga senyum-senyum.
"Kamu ngundang mereka?" Tanya Sabrina.
Dae mengangguk samar.
"Iya sayang, Aku sengaja mengundang mereka dan sengaja juga menyuruh pembantu untuk masak banyak. Aku ingin merayakan 4 bulan sayang.. acaranya sederhana saja ya.." Ucap Dae.
Sabrina tersenyum mendengar semua itu.
"Ga apa-apa sayang.. Aku lebih suka hal yang sederhana seperti ini. Yang penting kan doa.." Ucap istrinya.
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Pembantu segera membukakan pintu untuk tamu itu. Ternyata seorang ustad yang telah Dae undang.
Acara pun segera dimulai meskipun sederhana, tetapi Sabrina sangat bersyukur.
Acara pun segera dimulai. Setelah selesai membaca surat al-quran dan do'a, mereka menikmati sajian yang telah disiapkan.
"Wah ternyata makanan disini enak ya.. Bang Dae memang pintar pilih pembantu." Puji Vino.
__ADS_1
"Iya.. istri abang kan lagi hamil, jadi abang sewa pembantu yang memang ngerti ahli gizi.." Ucap Dae sembari melihat sang istri.