Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Bisma cari gara-gara


__ADS_3

Dae Hyun tersenyum melihat istrinya manja seperti ini. Memang begitu kali ya, kalau orang hamil.


Dae Hyun menuruti kemauan istrinya. Iya menemaninya sampai istrinya tertidur pulas. Dae menatap wajah istrinya tersebut ketika sedang tertidur. Sembari iya mengelus kepala istrinya.


Tangannya meraba perut sang istri. Iya mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Hai Baby, jangan nakal dalam perut mama ya.. Mama lagi bobok.." Ucapnya sembari mencium perut kecil sang istri.


Dae juga berlanjut mengecup kening sang istri.


...****************...


Jam sudah menunjukkan jam 4 pagi. semalam suntuk Sabrina tidak dapat tidur. Iya selalu mual dan muntah. Hingga perutnya terasa kosong.


Dae sebagai suami, tidak tega melihat istrinya tersiksa seperti itu. Iya menghampiri istrinya yang terus mual-mual dalam kamar mandi.


Dae membantu memijit leher belakang sang istri.


"Sayang, kenapa sampai pucat begini sih wajah kamu?" Tuturnya yang merasa iba. Iya memapah istrinya yang sudah tidak kuat untuk berjalan menuju tempat tidur.


Kini terdengar suara ayam berkokok. Jam sudah menunjukkan jam 7 pagi. Sabrina masih saja merasa lemas. Tenaganya habis.


Dae meminta pembantu untuk membawa makanan ke kamarnya. Tak lama pembantu pun datang dengan membawa makanan yang telah Dae pesan.


"Sayang, sekarang makan dulu ya?" Dae menyuapi Sabrina.


Mendengar bau makanan tersebut Sabrina langsung mual.


"Ga bisa sayang, bau makanannya buat Aku mual.. rasanya ga enak mau makan.." Ucapnya merengek.


"Kalau ga makan, gimana kamu mau sehat sayang.. kasihan baby kita kalau ga makan.." Tuturnya lembut sembari memegang perut istrinya.


"Ga bisa sayang, maaf.." Ucapnya.


Dae menghela nafas dan meletakkan makanan tersebut di laci kamar.


"Kamu mau makan apa sayang? Biar Aku pesankan ya.." Ucapnya.


Sabrina hanya menggeleng. Iya tidak ingin memakan apapun. Karena semua bau makanan membuatnya mual.


"Kamu ga ke kantor sayang?" Tanyanya.


"Enggak sayang, Aku kerja di rumah saja. Aku khawatir dengan keadaan kamu.." Tuturnya.


Dae memandangi istrinya yang lemas. Iya semakin tidak tega jika meninggalkan istrinya di rumah.

__ADS_1


"Maaf tuan.." Tiba-tiba seorang pembantu datang dan mengambil makanan yang di taruh di laci kamar.


"Bi, apa orang hamil itu seperti ini ya bi?" Tanya Dae kepada pembantunya.


"Iya benar tuan. Ini resiko dari kandungan yang masih muda. Kasihan nyonya tuan, Iya pasti merasa tidak ada tenaga lagi. Tapi untungnya nyonya berusaha untuk kuat. Nyonya berusaha bolak balik ke kamar mandi sendiri. Kalau saya dulu sampai pingsan tuan. " Tutur pembantu itu. Mendengar pernyataan pembantunya, rasa iba semakin Dae rasakan.


"Berapa lama orang hamil akan mengalami hal ini bi?" Tanyanya lagi.


"Tergantung tuan, bisa sampai 4 bulan, bisa jadi sampai 9 bulan. Tapi minimal itu 4 bulan tuan. Kebanyakan." Ujarnya.


"4 bulan?" Dae terkejut. kalau dalam kondisi seperti ini, 4 bulan bukanlah waktu yang sedikit.


"Saran saya, supaya Ibu ada sedikit tenaga.. Belikan makanan yang tidak mengandung minyak tuan, contoh buah-buahan, biskuit, pokoknya yang seger-seger tuan.." Sarannya.


"Saya akan coba. Terimakasih sarannya ya bi.." Ucapnya. Pembantu itu pun pamit untuk kembali ke dapur.


Dae kembali mengelus kepala sang istri. Dae setia menunggu istrinya yang masih terbaring lemah.


Setelah istrinya tertidur pulas, Dae pun beranjak pergi. Iya pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu.


Rupanya Dae Hyun, mengikuti saran pembantunya. Kali ini Dae Hyun berbelanja sendiri. Iya membeli makanan kebutuhan untuk Ibu hamil.


Disaat waktu yang bersamaan, Dae Hyun berpapasan dengan musuh bebuyutannya.


"Wah, rupanya ada yang berbelanja sendiri nih.. Kemana istri lo men?" Ucapnya dengan tersenyum sinis.


"Oh di rumah, kirain sudah lenyap dia dari dunia ini!" Ujarnya tanpa berpikir.


"Maksud lo apa hah? Kamu nyumpahin istri saya meninggal?" Ucap Dae dengan penuh emosi sembari menarik kerah baju Bisma.


"Hahaha... santai bro.. jangan emosi gitu dong.. Ya kali saja Tuhan sudah memanggilnya." Ucapnya lagi.


"Kurang ajar!"


Buk


buk


buk


Dae melayangkan sebuah pukulan ke wajah Bisma. Seketika Dae menonjok wajah Bisma karena emosi.


Orang-orang disekitar menyaksikan perkelahian antara Dae dan Bisma. sementara Bisma, iya tidak dapat melakukan perlawanan. Karena Dae tidak memberinya celah sedikitpun.


Orang-orang sekitar yang menyaksikan mereka pada bengong. Sehingga datanglah kedua satpam untuk merelai mereka berdua.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Ini tempat umum, jangan berkelahi disini!" Ujar Satpam tersebut dengan tegas.


"Dia yang memukuli saya pak, kenapa saya juga yang disalahkan?" Ujar Bisma membantah.


"Dia dulu yang mulai pak, Dia yang mencari gara-gara ke saya!" Ucap Dae tidak ingin kalah.


"Sudah-sudah, disini saya tidak mau tahu siapa yang benar dan salah. Intinya, kalian sudah membuat keributan disini. Sekarang kalian pergi dari sini!" Ujar satpam tersebut.


Dengan kesal, Dae pun pergi melewati Bisma. Iya menatap Bisma dengan tatapan tajam.


...****************...


Sesampainya di rumah, Dae langsung melihat keadaan istrinya di kamar. Ternyata, istrinya sudah bangun.


Iya masih tidak kuat untuk duduk. Karena tenaganya habis. Sabrina melihat ke arah suaminya yang berjalan ke arahnya.


"Kamu kemana saja sayang?" Ucapnya lirih.


"Maaf ya sayang, lama ya nunggunya? Kamu mau apa?" Tawarnya.


"Enggak mau apa-apa sayang, Aku cuma mau kamu disini aja. Katanya mau nemenin Aku.. Kok ngilang gitu saja.." Tuturnya.


"Aku tadi keluar sebentar sayang, habis beli sesuatu keperluan untuk ibu hamil. Supaya kamu mau makan dan ga mual lagi. Biar kamu ada tenaga." Ujarnya.


Sabrina tersenyum mendengar dan melihat perhatian Dae. Iya merasakan rasanya dicintai dan disayangi. Memang begini rasanya dimanja ketika hamil.


Dae Hyun pun mulai menyuapi istrinya dengan biskuit. Setelah itu, iya juga membuatkan susu untuk istrinya yang sedang hamil.


Setiap hari Dae Hyun memberikan perhatian yang khusus untuk istri tercintanya itu.


...****************...


Sudah tiga bulan berjalan usia kandungan Sabrina. Rasa mual dan pusing lebih sedikit berkurang.


Kali ini, Sabrina menjadi sering ngidam. Dae sang suami menuruti kemauan istrinya. Yang penting istrinya itu bahagia.


"Sayang, Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya?" Ujarnya sembari mengelus perut istrinya yang sudah sedikit buncit.


"Apa aja deh sayang, yang penting itu selamat, sehat dan tanpa kekurangan satu apa pun." Tutur Sabrina sederhana.


Dae tersenyum mendengar ucapan istrinya. Memang betul kata Sabrina, laki atau pun perempuan itu adalah kehendak Tuhan. Yang terpenting sehat dan lengkap.


Sedang asik-asiknya berduaan dengan istri di kamar, tiba-tiba HP Dae berdering. Dae melihat layar HPnya.


Dae pun mengangkat telfonnya sebentar. Ternyata itu adalah dari kliennya. Dae berbincang-bincang beberapa saat dengan klien.

__ADS_1


setelah selesai, Dae pun memutuskan telponnya.


__ADS_2