
Sekarang, tepat satu bulan Sabrina disekap. Namun, mereka tetap memberi Sabrina makan dan minum agar dapat bertahan hidup.
Sabrina mulai merasakan sedikit mules di perutnya. Tambah lama rasa sakit itu semakin kuat. Sabrina sadar, kini saatnya iya untuk melahirkan.
"Au.. sakit.. tolong.. tolong..." Teriak Sabrina sembari memegangi perutnya.
Sabrina merintih kesakitan. Para penjaga pun segera datang. Mereka panik dengan Sabrina yang merintih kesakitan.
Para penjaga pun menghubungi majikannya. Indri segera datang menemui Sabrina. Kali ini, Indri membantu proses persalinan Sabrina.
Tak lama kemudian, Sabrina berhasil melahirkan bayi laki-laki. Sabrina merasa lemas dan tidak mempunyai tenaga. Sabrina pun tidak sadarkan diri.
Indri membawa bayi itu pergi jauh dari Sabrina. Indri dan Bima akan membawa bayi itu ke sebuah panti asuhan. Sesekali, Indri melihat wajah bayi itu.
"Kamu mirip sekali dengan ayahmu.." Ungkapnya kepada bayi tersebut.
Entah kenapa, ada perasaan tidak tega di hati Indri. Indri merasa kasihan melihat bayi tersebut.
"Kamu kenapa Indri?" Tanya Bima. yang melirik raut wajah Indri yang tiba-tiba berubah.
"Aku ga apa-apa. Aku merasa ga tega sama bayi ini Bim.. Bayi ini masih terlalu kecil, Dia harus terpisah dengan Ibunya. Bayi ini masih sangat membutuhkan kasih sayang Sabrina.." Ujarnya.
"Indri.. kamu yang konsisten dong.. dalam sebuah misi, ga ada rasa kasihan.." Ucap Bima sedikit kesal.
"Iya Aku tahu.. Tapi, kenapa harus bayi mungil yang ga berdosa seperti ini yang harus terkena dampaknya.." Lirihnya.
"Sudahlah! Buang rasa kasihan kamu itu. ga ada gunanya." Sanggah Bima.
Tak lama akhirnya mereka sudah sampai di sebuah panti asuhan. Indri menitipkan bayi Sabrina di panti asuhan itu.
Indri berpesan kepada pengasuh panti asuhan, untuk menjaganya baik-baik. kelak Indri akan mengambil bayi itu kembali.
Sebelum pergi, Indri itu memandang bayi tersebut dengan rasa iba. Hati Indri merasa terenyuh ketika melihat bayi mungil itu. Iya harus meninggalkan bayi itu di tempat itu.
"Maafin mama Indri ya.. mama Indri janji, kelak, mama akan mengambil kamu lagi nak.. baik-baik disini ya.." Ucapnya kepada bayi itu.
Bima yang tidak suka dengan pemandangan itu, akhirnya Iya menarik tangan Indri. Indri dan Bima pun pergi meninggalkan bayi itu.
Dalam perjalanan pulang, Indri masih kepikiran dengan bayi Sabrina. Indri berfikir bagaimana jika Dia haus dan butuh asi.
"Masih kepikiran dengan bayi itu?" Tanya Bima.
"Iya masih.." Jawabnya.
"Sudahlah ga usah terlalu dipikirkan, di sana sudah ada pengasuh. Mereka lebih tahu daripada kamu." Tegur Bima.
Indri hanya diam saja mendengar teguran dari Bima. Bagaimanapun ucapan Bima ada benarnya juga.
__ADS_1
...****************...
"Aduh.. kenapa Aku harus punya rasa kasihan sih.. Gak pokoknya Aku ga boleh ada rasa kasihan. Ini demi misi Aku.. Yah, ayo dong Indri, tinggal selangkah lagi.." pikirnya.
Indri memilih untuk menemui Dae Hyun. Karena iya akan melanjutkan rencananya. Sudah hampir seluruhnya rencana Indri berhasil.
Indri menemui Dae di kantornya.
"Indri?"
"Hai.. Aku ganggu gak?" Tanya Indri.
"Enggak kok.. kamu gak ganggu.." Jawabnya tidak semangat.
"Kamu masih sedih ya, dengan kepergian Sabrina?" Tanyanya.
Dae tidak menjawab pertanyaan dari Indri.
"Mending kamu ikut Aku yuk.." Ajak Indri.
"Kemana?" Tanya Dae.
"Ada deh.. entar kamu juga tahu.." Ucapnya sembari menarik tangan Dae. Dengan malas Dae menuruti apa kata Indri.
Indri mengajak Dae ke suatu tempat. Dimana tempat itu sangat nyaman. Kini hubungan Indri dan Dae semakin dekat.
"Dae, bagaimana? Enak gak disini?" Tanya Indri.
"Tempatnya nyaman. Dan Aku merasa lebih rileks." Ucapnya.
"Syukurlah.. Kalau begitu.. Aku, bawa kamu kesini itu biar kamu ga merasa jenuh.." Ucapnya sambil tersenyum.
"Dae, kenapa sih.. kamu ga berusaha untuk move on aja dari Sabrina.." Ujarnya.
"Aku ga bisa melupakan Sabrina.. Indri.." Jawabnya.
"Terus Aku ini, kamu anggap apa?" Tanya Indri.
"Maksud kamu?" Tanya Dae heran.
"Dae, asal kamu tahu.. selama ini Aku ada rasa suka sama kamu.. apa di hati kamu ga ada perasaan sedikit pun ke Aku?" Tanya nya.
"Ga ada.. Indri, selama ini Aku hanya menganggap kamu sebagai teman biasa aja.. ga lebih.." Jawab Dae.
"Kamu jahat Dae.. Aku selama ini mencintai kamu.. ternyata cuma ini balasan kamu?" Tanyanya kecewa.
"Maaf Indri, saya tidak bisa.. saya hanya mencintai istri saya.." Jawabnya.
__ADS_1
"Tapi kan, Sabrina sudah ga ada.." Ujarnya.
"Bagiku, Dia tetap ada.. Aku merasa Sabrina masih hidup.." Ucapnya. Dae pun lekas berlalu meninggalkan Indri.
Lagi-lagi Indri merasa gagal deketin Dae.
"Tapi ga apa-apa, Aku yakin.. Suatu saat Dae akan luluh kepadaku.. lihat saja.." pikirnya.
...****************...
Sementara Sabrina, Dia sudah sadar dari pingsannya. Iya sadar bahwa Iya pernah melahirkan. Sabrina mencari bayinya.
"Dimana anak saya?" Tanya Sabrina kepada para penjaga itu.
Para penjaga tidak ada yang berani menjawab. Tak lama, Indri dan Bima datang. Sabrina mendengar langkah kaki mereka. Seketika Sabrina menoleh ke arah mereka.
"Kamu mencari bayi kamu?" Tanya Indri.
"Mana bayi saya?" Tanya Sabrina.
"Bayi kamu sudah kami taruh di panti asuhan. Saya yakin, Dia sudah di adopsi oleh orang lain.. hahaha.." Jawab Indri.
Sabrina tertegun ketika mendengar ucapan dari Indri. Sabrina memandang Indri dan Bisma secara bergantian.
"Ga mungkin! Kalian pasti berbohong kan?" Ucap Sabrina dengan mata berkaca-kaca.
"Bohong.. apa wajah aku selalu berbohong sama kamu?" Kata Indri.
"Kalian jahat. Kalian benar-benar jahat..." Teriak Sabrina.
Indri dan Bisma tertawa puas melihat Sabrina menangis.
Kini Indri dan Bisma pergi meninggalkan indri.
Sabrina merasa sedih karena dipisahkan oleh anaknya. Tapi, Sabrina merupakan wanita yang kuat. Iya tidak ingin bersedih terlalu lama.
"Awas kalian.. tunggu pembalasanku. Aku akan membuat kalian mendekam di penjara.. Sekarang Aku akan memulihkan keadaanku dulu.. baru setelah itu Aku akan berfikir untuk kabur dari tempat ini.." Batin Sabrina.
Untuk sementara, Sabrina mengikuti permainan Indri dan Bisma.
Para penjaga itu memberikan makanan untuk Sabrina. Mereka percaya bahwa Sabrina tidak akan kabur dari mereka.
"Saya sangat berterimakasih kepada kalian.. terimakasih sudah merawat saya.." Ujarnya kepada anak buah Indri.
Mereka tersenyum mendengar tutur kata Sabrina yang lembut. Mereka juga tidak tega terhadap Sabrina. Karena iya harus terpisah dari anaknya.
Semakin hari, Keadaan Sabrina mulai membaik. Sabrina mulai memiliki cukup tenaga. Kini, Sabrina mulai memikirkan rencana selanjutnya.
__ADS_1
"Dae suamiku.. Aku tidak akan membiarkan kamu dihancurkan oleh Indri dan Bisma.. tunggu Aku sayang.. Aku akan kembali.." Pikir Sabrina.