
Sabrina pun melepaskan preman tersebut dan melepaskannya pergi. Mereka lari terbirit-birit. Mereka langsung menyalakan mobilnya dan menancap gas. Sabrina hanya memandangi mereka.
Sabrina pun langsung menghampiri Vadim yang kesakitan karena terluka. Sabrina membantu Vadim untuk berdiri. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk mengobati luka Vadim.
Sabrina mengobati luka Vadim dengan tulus. Vadim sesekali merasa sakit ketika obat merah menyentuh lukanya. Sabrina dengan hati-hati sambil meniup luka tersebut agar tidak terasa perih.
Sabrina tetap fokus mengobati luka Vadim. Sementara Vadim, memandangi Sabrina. Vadim merasa tertolong oleh Sabrina.
"Terimakasih.. Kamu ngapain malam-malam jalan sendirian? Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Vadim.
"Mau pergi. Puas lo? Ya, mau jemput kamu lah.. soalnya kamu ga biasanya pulang terlalu larut." Ujar Sabrina. Selesai mengobati luka, Sabrina pun membalut luka tersebut.
Sabrina pun langsung beranjak dan ingin pulang. Vadim malah menarik tangan Sabrina. Dan Sabrina merasa heran dengan Vadim.
"Mau kemana?" Tanya Vadim.
"Mau ke jonggol. Ya, mau pulang lah." Ucapnya.
"Udah kamu pulang sama Aku aja sekarang.." Kata Vadim.
"Enggak ah.. Aku pulang sendiri aja.." Tolak Sabrina.
"Ini perintah suami. Ga boleh membantah." Ujarnya.
"Ya, terus mobil gue gimana?" Sabrina khawatir dengan mobilnya.
"Masalah mobil, biar supir yang bawa. Kamu pulang sama Aku.. Titik." Ujarnya.
Sabrina tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana pun Vadim adalah suaminya yang harus dipatuhi perintahnya. Akhirnya mereka pulang bersama.
Sesampainya di rumah, Vadim langsung istirahat. Sabrina pun menyelimuti suaminya. Sabrina dengan iseng memandangi wajah suaminya. Sabrina senyum-senyum sendiri.
Sabrina tidak menyangka akan menjadi istri tuan Vadim. Dulu Sabrina adalah fans berat Vadim. Tapi kini, dia menjadi suaminya. Ya walaupun keadaan yang memaksa untuk menikah dengannya.
Sabrina melihat HP Vadim sedang bergetar. Sabrina melihat HP tersebut siapa yang menelfon ternyata dari melisa. Sabrina pun mengangkat telfon dari melisa.
"Sayang, kamu dimana sih? Aku kan nungguin kamu.." Ujarnya di telfon.
__ADS_1
"Aduh, maaf ya sayang.. Suami Aku, lagi bobok nyenyak.. Dia capek baru habis lembur.. Tahu dong, apa yang dilakuin suami istri.. Paham kan maksud Aku?" Ujar Sabrina, sengaja membuat Melisa panas.
"Sabrina, lancang banget kamu.. pegang HP pacar Aku.." Ucap melisa asal bicara.
"Kamu itu, ga tahu etika ya? Yang lancang itu kamu.. malam-malam telfon suami orang.. Udahlah Aku mau lanjut tidur sama suami.. ok, jangan ganggu." Ucapnya. Sabrina sengaja membuat melisa panas. Supaya melisa tahu rasa.
...****************...
Tiga bulan berlalu, Sabrina akhir-akhir ini merasakan lelah, pusing, dan mual. Sabrina meminta tolong Vadim untuk mengantarnya ke dokter.
"Aku ga bisa. Aku harus mengantar melisa ke mall. Soalnya Aku sudah janji sama dia." Ucapnya.
"Vadim, apakah kamu tidak bisa mengutamakan istri kamu.. daripada pacar kamu?" Ucap Sabrina kesal.
"Istri? Sejak kapan Aku menganggap kamu istri Aku? Sadar, kita itu menikah hanya karena keadaan. Dan, paksaan dari mama papa juga untuk Aku bertahan sama kamu." Ujar Vadim tanpa memikirkan perasaan Sabrina.
"Dan satu lagi. Melisa itu lebih penting, juga segalanya buat Aku." Ujarnya lagi. Vadim pun langsung pergi meninggalkan Sabrina.
Sabrina hanya menggelengkan kepala. Sabrina tidak habis pikir dengan vadim. Sabrina pun langsung minta antar supir. Karena Sabrina merasa dirinya lemas.
"Sabrina mau periksa ke rumah sakit ma.." Ucapnya lemas.
"Muka kamu pucat sekali sayang.." Kata Berlin sambil memperhatikan wajah Sabrina. Karena sudah tidak kuat, Sabrina pun pingsan dan membuat Berlin panik. Berlin pun langsung membawa Sabrina ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Berlin panik. Dokter itu tersenyum sendiri.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan buk, Karena wajar saja hal ini dialami oleh Ibu hamil." Ujarnya.
"Maksud Dokter, menantu saya hamil?" Berlin memastikan.
"Iya, selamat ya buk, usia kandungan Ibu Sabrina sudah 3 bulan." Ucapnya.
Berlin sangat senang dan bersyukur karena sebentar lagi iya akan memiliki cucu. Berlin pun memeluk Sabrina. Sabrina tidak tahu harus senang atau sedih. Karena meskipun iya hamil, belum tentu suaminya senang. Berlin segera menghubungi Vadim agar segera ke rumah sakit.
Kalau Berlin sudah menelfon, Vadim tidak berani menolak. Vadim pun segera pergi menuju rumah sakit. Berlin malah memeluk Vadim dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Vadim tidak mengerti apa yang diucapkan oleh mamanya.
"Ok, mama kasih tahu.. Sabrina, istri kamu sedang hamil 3 bulan." Ujarnya. Vadim pun melotot kaget.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Berlin mengingatkan Vadim agar terus menjaga istrinya. Vadim hanya mengangguk saja apa kata mamanya.
"Kenapa kamu bisa hamil sih?" Kata Vadim tidak suka.
"Ya, mana Aku tahu Vadim.. Kamu ga suka?" Tanya Sabrina.
"Siapa juga yang mengharapkan anak dari kamu? Jangan mimpi kamu.." Ucap Vadim kasar.
"Aku mau, kamu gugurkan anak itu. Aku ga mau kalau sampai Dia lahir ke dunia." Kata-kata Vadim membuat melisa syok.
"Kamu sudah gila ya vadim? Ini anak kamu sendiri. Benih kamu, tega kamu mau membunuhnya.." Ucap Sabrina kecewa.
"Ya, tapi Aku tidak bisa menerima dia.." Ucap Vadim lagi.
"Aku tidak mau.. Aku akan merawat anak ini."
"Terserah lo aja.. tapi, jangan pernah berharap kalau Aku akan menganggap Dia.." Ujar Vadim langsung meninggalkan Sabrina.
Sabrina tidak habis pikir dengan jalan pikiran Vadim. Sabrina sangat sedih karena Vadim sama sekali tidak mengharapkan anaknya. Segitu bencinya Vadim terhadap dirinya.
Tapi Sabrina harus tetap kuat. Iya tidak boleh bersedih. Bagaimanapun juga Vadim adalah suaminya. Meskipun Vadim tidak akan mengakuinya, tetapi masih ada yang mengharapkan kehadirannya.
"Sayang, kamu baik-baik ya.. Mama akan selalu menjaga kamu.." Sambil mengelus perutnya.
Sabrina melihat Vadim keluar. Dan sama sekali tidak menoleh ke arah Sabrina. Sabrina hanya tertunduk diam. Iya tidak bertanya kemana suaminya akan pergi.
Pulang-pulang, Vadim malah membawa melisa ke rumahnya. Vadim dengan pedenya menggandeng tangan melisa. Vadim malah pamer kemesraan di depan Sabrina.
"Sabrina, ngapain kamu disitu? cepat buatin minum untuk melisa." Perintah Vadim seenaknya.
"Enak banget kamu mas nyuruh Aku.. Aku ga mau.. suruh aja dia buat sendiri." Sabrina menolak.
"Kamu itu sudah gila? Melisa ini tamu. Tamu itu harusnya dihormati." Jawab Vadim.
"Kamu yang sudah gila mas.. Lagian dia bukan tamu aku kan.. tapi tamu kamu. Kalau dia mau dihormati, harusnya dia belajar menghormati diri sendiri." Ujar Sabrina melawan.
"Heh, kurang ajar banget kamu." Melisa semakin berani dan sambil ingin melayangkan sebuah tamparan kepada Sabrina. Namun, Sabrina menangkap tangan Sabrina. Sabrina pun melintir tangan Melisa ke belakang. Melisa merasa kesakitan dan dengan emosi, Sabrina pun mendorong melisa hingga tersungkur ke lantai.
__ADS_1