
Indri berusaha menolong kucing tersebut dan memberinya makan. Ini dilakukan untuk menarik simpati dari Dae.
Dae benar-benar melihat aksi Indri tersebut. Dae yang melihat sikap Indri, berhasil membuat hati Dae bergerak sedikit. Dae pun menghampiri Indri.
"Indri.." Ucapnya. Indri yang duduk jongkok seketika mendongak dan melihat Dae yang berdiri di dekatnya.
Indri pun ikut berdiri.
"Ada apa?" Tanyanya
"Ngapain kamu disini?" Tanya balik.
"Tadi kucing ini, sepertinya butuh pertolongan. Makanya Aku tolong kucing ini, dan Aku kasih makan.. emang tindakan Aku salah lagi?" Ucap Indri.
"Enggak cuma nanya aja.." Jawab Dae.
Dae pun berlalu pergi kembali ke proyek. Indri tersenyum licik melihat tingkah Dae.
"Yes, berhasil. Rupanya rencana Aku ga sia-sia.. Aku tahu, Dae pasti merasa sedikit simpati dengan Aku hari ini.. hanya dia gengsi untuk mengakuinya." Pikirnya sambil senyum-senyum.
Indri pun bergegas menyusul Dae. Indri dan Dae, mengamati pembangunan proyek tersebut. Secara tidak sengaja, Indri mendongak ke atas.
Indri melihat ada katrol pengangkut yang lepas talinya. Katrol tersebut terjatuh dan tepat di atas Dae. Indri yang melihat hal tersebut segera berlari, dan mendorong Dae agar tertimpa katrol itu.
Mereka pun terjatuh.
"Au.." Naasnya, kakinya Indri yang malah tertimpa katrol pengangkut itu.
"Indri, kamu ga apa-apa?" Tanya Dae.
"Aku ga apa-apa kok.." Ujarnya sambil menahan sakit.
"Au.." Keluh nya.
Dae yang sadar bahwa kaki Indri terluka, akhirnya membantu Indri untuk berjalan. Indri pun melirik Dae dan senyum-senyum sendiri.
"Indri, kenapa kamu berbuat seperti ini?" Tanya Dae.
"Maksud kamu?" Tanya balik Indri.
"Kenapa kamu menyelamatkan Aku?" Ujar Dae.
"Jangan salah paham dulu.. Aku itu, hanya kasian sama istri kamu. Dia kan lagi hamil besar.. terus kalau kamu kenapa-kenapa, bagaimana dengan istri kamu? Takutnya dia jadi kepikiran, dan akan berpengaruh juga nantinya dengan calon anak kamu. Kalau Aku kan, masih jomblo... Jadi, ga ada yang perlu Aku khawatirkan, Aku bisa membawa diri Aku sendiri.. Sementara kamu, ada Istri dan calon anak kamu." Ungkap Indri.
Indri pun meninggalkan Dae dengan kaki pincang. Sementara Dae hanya diam terpaku. Iya memikirkan kata-kata Indri. Ternyata kata-kata Indri ada benarnya juga.
"Akhir-akhir ini, Indri selalu melakukan kebaikan. Apa mungkin, Iya telah berubah menjadi orang baik?" Pikir Dae.
Indri yang memantau Dae dari jauh, hanya senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Ternyata Dae mudah juga untuk dipengaruhi. Aku yakin, sebentar lagi Dae akan jatuh ke pelukanku." Pikirnya.
...****************...
"Bagaimana? Kerjaku bagus kan?" Tanya Bisma.
"Bagus apaan.. Kakiku yang kena nih, sakit tahu.." Protesnya.
"Tapi, seenggaknya sudah berhasil bikin Dae simpati." Ucap Bisma.
"Iya sih, tapi ga harus kena kakiku juga.. itu kan katrol pengangkut.. dan kakiku bukan besi, yang seenaknya ketimpa barang berat.." Sungut nya.
"Iya, iya.. maaf.." Ucap Bisma.
Ternyata Bisma berada di proyek tersebut dan menyamar sebagai kuli bangunan. Secara tidak sengaja mereka melihat Sabrina datang ke lokasi proyek juga dengan membawa makanan.
"Eh, lihat deh.. itu Sabrina kan?" Tanya Bisma.
"Iya.. kenapa emangnya?" Tanya Indri.
"Ngapain Dia ke sini?" Tanyanya lagi.
"Ya, biasalah ngintilin suaminya. Takut kalau suaminya selingkuh.." Ujarnya.
"Kamu ga ngerasa kesal apa lihat dia?" Bisma memancing emosi.
"Jangan ditanya kalau masalah itu, kalau bukan karena sebuah misi, sudah Aku habisi Dia.." Ujarnya.
"Kenapa gak kamu lenyapkan saja Dia?" Saran Bisma.
"Sebenarnya dari dulu Aku ingin menyingkirkan Dia.. Tapi, bukan sekarang waktunya. Aku sudah pikirkan ini dengan matang.." Ucapnya sembari menatap ke arah Sabrina dan Dae yang sedang bermesraan. Dengan tatapan penuh kebencian.
"Memang, apa rencana kamu?" Tanya Bisma.
"Pertama, Aku akan buat Dae percaya denganku. Setelah itu, Aku akan buat Sabrina itu cemburu terus-menerus. Aku yakin, disaat itu rumah tangga mereka pasti ada perselisihan. Dan disaat itulah Aku akan menyingkirkan Sabrina. Aku akan membawa Sabrina ke suatu tempat, yang tidak dapat dijangkau oleh siapa pun. Dan dengan begitu, perlahan Aku akan masuk dalam kehidupan Dae." Ujarnya.
"Wah, ternyata rencana kamu matang juga ya.. Aku ga nyangka kalau kamu selicik ini." Puji Bisma.
"Aku kan sudah mengatakan padamu. Aku bukan orang yang ceroboh.. Aku selalu memikirkan matang-matang rencanaku. Agar tidak sia-sia." Ujarnya.
Indri merupakan wanita yang licik. Iya lebih berbahaya dari seekor buaya.
...****************...
"Gimana sayang, kerjaannya hari ini?" Tanya Sabrina.
"Seperti yang kamu lihat sayang.. semuanya lancar.. hanya saja tadi, ada sedikit gangguan.." Ungkapnya.
"Gangguan?" Sabrina sedikit terkejut.
__ADS_1
"Iya, tadi Aku hampir aja tertimpa katrol pengangkut." Ungkapnya lagi.
.
"Apa? Terus gimana? Ada yang luka tidak?" Tanyanya panik. sembari mengamati suaminya.
"Enggak sayang.. ga ada yang luka. Tadi, beruntung ada Indri yang segera menyelamatkan Aku.." Ujarnya.
"Indri?" Sedikit heran.
"Iya sayang.. maaf ya... jangan salah paham dulu ya? Indri cuma niat bantu aku kok sayang.. malah kaki Dia yang tertimpa katrol itu sendiri." Ujarnya.
"Apa?" Sabrina tambah heran.
"Iya sayang.." Jawabnya.
Sabrina menatap suaminya aneh. Iya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Kenapa rasanya ada yang aneh ya.." Batinnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Dae.
"Gak apa-apa sayang.." Ucapnya.
Sabrina menyembunyikan kecurigaannya dari suaminya. Sabrina pamit sebentar untuk ke toilet. Secara tidak sengaja Sabrina melihat Indri dari kejauhan sedang ngobrol dengan seseorang.
"Itukan Indri, berbicara dengan siapa Dia?" Pikirnya.
"Sepertinya, laki-laki itu tidak asing bagi Aku.. tapi siapa ya?" Pikirnya lagi.
Sabrina pun kembali ke tempat suaminya lagi. Tak lama Indri juga menghampiri mereka berdua.
"Indri, kaki kamu sudah sembuh?" Tanya Dae.
"Cuma gitu aja kok.. udah mendingan." Jawabnya. Indri pun berlalu meninggalkan mereka.
"Indri tunggu!" Cegah Sabrina. Indri pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Ada apa?" Tanyanya datar.
"Aku sudah dengar semuanya dari suami saya.. Terimakasih, sudah menolong suami saya.." Ucap Sabrina tak lupa memberi senyum.
"Iya sama-sama." Jawabnya.
"Sebagai tanda terimakasih Aku, kita makan siang bareng yuk.. Kebetulan Aku bawa makan siang cukup banyak." Ajaknya.
"Mending Aku enggak deh.. kalian makan siang berdua aja.. Aku ga mau ganggu kalian. Lagian, Aku bisa makan di luar aja kok.." Tolak nya.
"Ngapain makan di luar, disini kan ada.. hemat waktu juga bukan? Lagian kan Aku yang ngajak kamu makan bareng sama kita.. Ga baik loh nolak rejeki.. Yuk.." Ujar Sabrina sembari menarik tangan Indri.
__ADS_1
Mereka pun makan bersama-sama.