Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Istri tak dianggap


__ADS_3

"Melisa, yang harusnya mundur itu kamu.. Vadim ini sudah menjadi suami Aku sekarang." Ujar Sabrina.


"Tapi, Aku ini pacarnya Vadim. Kamu ga ada hak buat dia. Kamu itu cuma istri tidak sengaja saja." Ujarnya. Melisa hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Melisa.


"Apa pun itu alasannya, tetap saja Vadim itu suami Aku.. Dia sudah mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Dan Dia, suami sah Aku.. kita menikah secara sah baik negara maupun agama. Jadi, yang lebih berhak atas Vadim itu, Aku. Bukan kamu. Ok?" Ujarnya.


"Tapi, Vadim itu tidak pernah mencintai kamu.. jadi pernikahan kalian itu percuma." Melisa tidak mau kalah.


"Ngomong sama orang yang tidak punya o**k itu percuma ya? Lebih baik kamu pulang.. Ga baik loh jika seorang perempuan malam-malam pergi ke rumah orang." Ujarnya sambil sendekap. Melisa pun kesal dan langsung pergi dari rumah Sabrina.


"Awas aja kamu Sabrina. Kalau nanti, Vadim sudah menjadi suami Aku, aku yang akan menendang kamu dari rumah ini.." Pikirnya.


Sabrina pun memasuki kamar. Sabrina melihat Vadim yang sedang pulas tidurnya. Sabrina pun membenarkan selimut di tubuh Vadim. Sabrina menatap wajah Vadim dan tersenyum.


...****************...


Sabrina sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sabrina juga sudah menyiapkan keperluan Vadim untuk berangkat ke kantor. Dan Sabrina sudah menunggu Vadim di meja makan. Tak berapa lama, Vadim pun turun.


"Vadim, sarapan dulu yuk.. Aku sudah menyiapkan sarapan buat kamu." Ujar Sabrina.


"Gak!" Jawabnya cuek dan langsung pergi.


"Vadim, tunggu.. Sebaiknya kamu bawa makanan saja ya ke kantor.. kamu kan harus sarapan gak boleh telat." Ucap Sabrina perhatian.


"Sudah Aku bilang ga mau.. ga dengar ya?" Ucap jimin kasar, dan membuang makanan itu ke lantai.


"Ya, sudah.. kalau kamu ga mau.." Kata Sabrina sambil memunguti makanan yang jatuh di lantai.


Vadim pun langsung pergi begitu saja. Sabrina masih tetap tersenyum. Dan tiba-tiba seseorang membantu Sabrina dalam memunguti makanan yang dibuang oleh Vadim.


"Vino.." Ujarnya terkejut.


"Ternyata selama ini, kak Vadim memperlakukan kamu tidak baik? Ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus melaporkan kepada papa." Ucap Vino geram.


"Jangan Vino, jangan lakukan ****itu****.." Kata Sabrina melarang Vino.

__ADS_1


"Kenapa kamu melindungi kak Vadim?" Vino heran.


"Aku bukan melindungi Vadim, hanya saja Aku malas berdebat dengannya. Jangan ya.." Ucapnya.


"Tapi Sabrina?"


"Vin, saya sudah menjadi seorang istri. Dan sudah kewajiban saya menutupi keburukan suami.. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik buat dia.." Ucapnya.


Vino pun menuruti kemauan Sabrina. Tetapi, Vino merasa geram terhadap Vadim. Karena iya berlaku kasar kepada Sabrina. Sabrina menyuruh Vino untuk pulang. Vino pun berpesan agar menghubungi dirinya ketika butuh sesuatu.


Sudah menjadi kebiasaan Vadim untuk pulang larut malam. Sabrina dengan sabar menunggu Vadim. Kali ini Vadim pulang dalam keadaan mabok. Vadim berjalan sempoyongan sambil mengetuk pintu.


"Vadim.." Sabrina terkejut karena suaminya pulang mabok. Sabrina segera membawa Vadim ke kamar. Sabrina pun membukakan sepatu Vadim. Dan menggantikan bajunya.


Sabrina mengompres wajah Vadim dengan air hangat agar bau alkohol cepat hilang. Sabrina pun menyelimuti Vadim. Ketika Sabrina ingin pergi, Vadim menarik tangan Sabrina. Sabrina pun terjatuh ke dada Vadim.


Vadim memeluk erat tubuh Sabrina. Sabrina berusaha melepaskan pelukan Vadim. Akhirnya Sabrina menyerah karena tidak dapat melawan Vadim. Vadim pun melakukan kewajibannya sebagai suami dalam keadaan mabok.


...****************...


Vadim pun terbangun dari tidurnya. Iya juga kaget ketika mendapati dirinya dan Sabrina tidak berbusana. Sabrina seketika hilang senyum. Vadim hanya tersenyum kecil kepada Sabrina.


"Ini kan, yang kamu mau selama ini?" Ujarnya. Sabrina hanya diam saja. Vadim pun mengulangi kejadian tadi malam sekali lagi. Sabrina hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan Vadim.


"Kamu dengar ya.. meskipun kita sudah melakukan itu, tetapi Aku tidak pernah mencintaimu paham?" Ujar Vadim. Sabrina hanya mengangguk saja.


Sabrina pun menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun, Vadim tetap tidak sudi untuk mencicipi masakan Sabrina.


Sabrina tidak ingin Vadim sampai telat makan. Sabrina pun membawa makanan siang untuk suaminya. Sabrina langsung memasuki kantor dan berjalan menuju ruangan Vadim.


Sabrina kaget ketika membuka pintu kantor Vadim. Sabrina sedang mendapati Vadim bermesraan dengan Melisa. Seketika Vadim langsung kaget.


"Siapa suruh kamu masuk?" Bentak Vadim kepada Sabrina.


"Maaf.." Sabrina langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan. Segera Sabrina pergi dari kantor Vadim. Seperti terasa sesak di dada Sabrina.

__ADS_1


Perempuan mana yang tidak sakit jika melihat suaminya bermesraan di tempat kerjanya. Dan siapa yang tidak sesak ketika suaminya bermesraan di depan matanya. Sabrina lebih baik pulang saja.


Sesampainya di rumah, Sabrina makan siang sendirian. Rasanya sangat hampa. Iya seperti tidak dianggap oleh Vadim. Tapi, apalah daya Sabrina Iya tidak dapat berbuat banyak.


Hari sudah mulai malam, Sabrina tetap dengan setia menunggu suaminya pulang. Sabrina merasa sangat was was. Tidak biasanya Vadim pulang terlalu larut.


Sabrina pun akhirnya nekat untuk menjemput Vadim. Iya merasa khawatir dengan suaminya. Sabrina pergi menjemput sang suami dengan membawa mobil sendiri.


Di tengah jalan, Sabrina melihat seseorang sedang berkelahi dengan komplotan preman. Sabrina melihat baik-baik orang tersebut. Sabrina pun kaget ketika melihat Vadim sedang di keroyok.


Sabrina segera turun dari mobil. Dan Sabrina dengan beraninya berlari lalu melompat. Sabrina menendang komplotan preman bertopeng itu satu persatu. Seketika para preman itu terkapar.


"Hei, siapa kamu?" Ujar ketua preman tersebut.


"Tidak perlu tahu siapa Aku. Dasar pengecut kalian. Beraninya main keroyokan." Kata Sabrina dengan berani.


"Kurang ajar! Habisi Dia.." Perintah ketu preman itu kepada anak buahnya. Mereka langsung menyerang Sabrina.


Namun, Sabrina dengan beraninya melawan mereka. Ilmu beladiri Sabrina sangat tinggi. Sabrina dapat melayang dan salto lalu menendang dada mereka satu persatu. Mereka pun terkapar satu persatu.


Satu persatu dari mereka dapat terkalahkan oleh Sabrina. Ketua preman itu kaget, melihat kehebatan Sabrina. Sabrina menatapnya dengan tatapan tajam. Dan Sabrina pun menantangnya. Ketua preman tersebut langsung menyerang Sabrina. Kali ini satu lawan satu.


Ketua preman itu melayangkan tonjokan ke wajah Sabrina. Dengan cekatan Sabrina menangkap tangan itu. Sabrina dengan cepat memutar tangan itu lalu mematahkannya.


"Kregh.." Bunyi patahan tersebut.


"Argh.." Ketua preman itu mengerang kesakitan. Sabrina dapat melumpuhkannya. Sabrina pun langsung membuka teropong Ketua preman itu. Sabrina terus membuat Ketua preman itu kesakitan.


"A-ampun. Saya kapok.." Ujarnya menahan sakit.


"Kalau kalian berani mengganggu orang-orang di sini, saya akan patahkan leher kalian satu persatu." Ancam Sabrina.


"I-iya Aku janji.. Aku tidak akan mengganggu lagi.." Katanya tidak tahan.


Sabrina pun melepaskan preman tersebut dan melepaskannya pergi. Mereka lari terbirit-birit. Mereka langsung menyalakan mobilnya dan menancap gas. Sabrina hanya memandangi mereka.

__ADS_1


__ADS_2