
"Pergi saya bilang!" Angel sedikit lantang.
"Sabrina, ayo kita pergi dari sini." Ucap Dae sembari merangkul pundak Sabrina. Sabrina hanya tersenyum kecil ke arah Dae.
"Baiklah! Aku akan pergi dari sini tante.. Dan ini saya bawakan makanan untuk tante.. Tante makan ya? Saya pamit dulu." Ucapnya sembari menyodorkan sebuah bungkusan makanan.
Sabrina dan Dae pun pamit pergi. Sementara Angel sedikitpun tidak menoleh ke arah mereka berdua.
Angel hanya memandangi mereka setelah jauh.
"Maafkan tante Sabrina," Ujar Angel.
Angel pun melirik makanan yang dibawakan oleh Sabrina. Angel pun meraih makanan tersebut dan membawanya ke dalam sel.
...****************...
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Dae tiba-tiba.
"Enggak kok.. Aku ga apa-apa, cuma Aku penasaran aja.. Aku belum puas dengan jawaban tante Angel." Jawabnya.
"Sudahlah Sabrina, jangan terlalu dipikirkan.. ingat dengan kandungan kamu.. yang penting kan sekarang tante Angel sudah di penjara.. jadi ga yang harus dikhawatirkan lagi kan.." Ucap Dae Hyun.
Sabrina mengangguk. Mereka pun langsung pulang menuju rumahnya.
Setelah sampai di rumahnya, seperti biasa Dae mengantar istrinya ke kamar untuk istirahat. Tiba-tiba, HP Dae berbunyi dan ternyata Dae mendapat telfon dari kantornya.
"Sayang, maaf ya.. Aku harus ke kantor hari ini. Soalnya Aku ada meeting dengan klien." ucap Dae Hyun.
"Kok maaf si? Kalau mau ke kantor, ya pergi aja.. Aku ga apa-apa kok.." Ucapnya dengan senyum.
Dae pun membalas senyuman istrinya. Sebelum berangkat ke kantor, Dae mengecup kening istri terlebih dahulu.
...****************...
Dae segera menuju ke ruangan meeting. Sesampainya di sana, Dae terkejut ketika melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Apa kabar Dae? Kamu masih ingat saya?" Tanya seorang perempuan yang ada di hadapannya.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Dae sedikit tidak suka.
"Maaf Pak, Ibu Indri ini yang akan menemani kerja bapak selama ibu Sabrina dalam masa istirahat." Ucap salah satu klien.
"Saya tidak butuh pendamping. Saya bisa melakukan sendiri." Jawab Dae.
"Yakin? pekerjaan ini lumayan berat loh." Ucap perempuan yang dipanggil Indri itu dengan pede nya.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Ibu Indri itu benar pak, ini adalah tentang tender nanti. Dan ini lumayan sulit, mohon kerjasamanya. Dan tolong, bapak harus profesional sedikit." Ucap klien itu.
Dae tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Terpaksa Dae menuruti kemauan kliennya. Indri pun tersenyum ketika Dae menyetujui permintaan kliennya.
"Kenapa harus dia?" Ucap Dae dalam hati.
Indri adalah perempuan masa lalunya Dae ketika masih di hongkong, sebelum bertemu dengan Sabrina kembali. Sebenarnya Dae waktu itu tidak benar-benar suka dengan Indri.
Indri hanyalah sebagai pelampiasan belaka. Dae tidak menganggap serius hubungan mereka dulu. Dae melakukan itu agar Sabrina dapat melupakannya.
Indri sudah lama menghilang dari kehidupan Dae. Dan semenjak itu tidak pernah ada kabar lagi.
Entah apa tujuan Indri datang kembali ke kehidupan Dae. Dae hanya menggeleng dan tidak habis pikir.
...****************...
Setelah meeting selesai, Indri mengajak Dae untuk pulang bareng. Dae tersenyum samar tapi menolak ajakan Indri.
"Saya bisa pulang sendiri." Ucapnya datar.
"Iya Aku tahu, tapi bisa kamu nganter Aku pulang?" Pintanya penuh harap.
"Ga bisa! Kamu ga bisa pulang sendiri? Taksi online kan banyak.." Jawab Dae.
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Dae langsung pergi menuju parkiran. Indri hanya memandangi Dae dengan perasaan kesal. Iya menghentakkan salah satu kakinya dengan perasaan jengkel.
Indri akhirnya kembali dengan perasaan kesal. Karena rencananya gagal untuk pulang dengan Dae.
...****************...
"Sayang.. kamu udah pulang?" Ucap Sabrina kepada suaminya.
"Iya sudah sayang?" Jawabnya.
"Gimana hari ini? lancar?" Tanya istrinya.
"Hari ini lancar sayang.." Jawab Dae sembari membuka sepatunya.
Sabrina ikut lega mendengarnya. Setelah selesai membersihkan badan, Dae duduk di samping istrinya di atas ranjang. Iya sembari mengelus perut istrinya yang sudah membesar itu.
Kini usia kandungan Sabrina sudah memasuki 7 bulan. Tendangan dari sang calon buah hati sudah mulai terasa. Dae ikut merasakan gerakan janin yang ada di dalam rahim Sabrina.
Dae merasa gemas dengan calon buah hatinya. Iya meletakkan telinganya ke perut Sabrina. Iya ingin mendengarkan suara bayi.
"Aku semakin ga sabar sayang.. untuk si kecil segera lahir ke dunia." Ucapnya.
__ADS_1
"Iya Aku juga sayang.." Jawab Sabrina.
"Kalau Dia perempuan, pasti cantik seperti kamu. Kalau Dia laki-laki, pasti ganteng mirip Aku.." Ucap Dae sembari mengelus perut istrinya.
"Emang kamu ganteng?" ledek Sabrina sambil senyum-senyum.
"Emang kamu pikir Aku ga ganteng?" Tanya Dae.
"Em.. gimana ya?" Ucap Sabrina sembari menyentuh dagunya seperti seseorang yang sedang berfikir.
Dae hanya melihat penasaran jawaban istrinya.
"Kayaknya enggak deh.." Jawab Sabrina sambil senyum-senyum hingga kelihatan giginya.
"Oh.. jadi Aku ga ganteng ya? Ya sudah.. entar Aku tebar pesona sama cewek lain.." Kata Dae cemberut.
"Bercanda sayang.. kamu itu laki-laki paling ganteng.. Bukan hanya rupa, tapi juga hati kamu.." Jawabnya membuat Dae senyum-senyum sendiri.
"Masak?" Dae mencibir.
"Apaan si? Tahu ah!" Sabrina cemberut.
"Becanda sayang.." Ucap Dae sembari menyentuh dagu Sabrina Sambil senyum-senyum.
Pasangan suami istri ini terus saja bersenda gurau. Karena merasa gemas dengan sang istri, Dae menggelitik perut istrinya. Hingga Sabrina merasa geli.
Karena terlalu asyik bersenda gurau, Sabrina dan Dae pun saling tatap. Seketika mereka terhenti haha- hihi. Dae menatap wajah istrinya lekat-lekat. Iya mengelus lembut wajah sang istri dari dahi hingga menyentuh dagu.
Dae pun mendaratkan bibirnya ke bibir Sabrina. Sabrina pun perlahan menutup matanya.
Mereka pun saling bermesraan di atas ranjang. Kegiatan ritual di atas ranjang pun telah dimulai.
Setelah melakukan sebuah ritual, Dae mengecup kening istrinya dan berlanjut mencium perutnya. Sabrina masih merasa lelah akibat aktivitas ritual tersebut.
Dae pun memeluk istrinya. Mereka pun tertidur dalam nyenyak.
...****************...
Hari sudah mulai pagi. Ayam sudah mulai berkokok. Sabrina dan Dae pun mulai terbangun. Mereka harus membersihkan diri mereka karena ritual semalam.
Dae mengajak sang istri untuk membersihkan dirinya secara bersamaan. Sabrina pun tersenyum mengiyakan kemauan sang suami.
Pasangan suami istri ini sangatlah romantis. Mungkin terlihat biasa dari luar, namun sangatlah harmonis dari dalam. Hampir tidak pernah ada perseteruan diantara mereka.
Dae sangatlah sayang terhadap istrinya. Begitu juga dengan Sabrina. Sabrina merasa beruntung karena memiliki suami yang perhatian seperti Dae.
__ADS_1
Berbeda dengan pernikahannya yang dulu. Ketika bersama Vadim. Sabrina sadar, kalau Vadim bersikap kasar kepadanya. Karena memang Vadim tidak pernah mencintainya. Pernikahan mereka dulu hanyalah suatu keterpaksaan.