Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Dae melamar Sabrina


__ADS_3

"Ayah, kenapa tinggalin Sabrina dan Yeon yah.. Kami belum sempat untuk minta maaf ke ayah, kami belum sempat untuk menjenguk ayah.. Kami belum sempat membahagiakan Ayah..." lirihnya dengan sesenggukan. Dae yang menyaksikan hal itu menjadi tidak tega.


Sabrina dan Yeon terus memeluk tubuh ayahnya. Mereka tidak menyangka jika sang ayah pergi secepat itu. Entah berapa lama mereka tidak bertemu.


Ada penyesalan dalam diri mereka. Meskipun Sabrina dan Yeon tiap bulan mengirim uang ke orang tuanya, tetapi Sabrina dan Yeon tidak sempat berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Sudah nak, biarkan ayah kalian tenang." Sang Ibu tiba-tiba menghampiri mereka sembari mengelus pundak mereka.


"Memangnya ayah sakit apa bu? Kenapa selama ini Ibu tidak pernah bilang.. Kenapa Ibu selalu bilang kalau ayah baik-baik saja?" Lirihnya Sabrina.


"Ayahmu tidak sakit nak.. Ayahmu terkena serangan jantung tiba-tiba." Jawab Sang Ibu.


"Sudah lah kak, Ayah sudah pergi.. Kita semua merasakan hal yang sama dengan kakak.." Niki menimpali.


...****************...


Acara pemakaman pun selesai. Sabrina dan Yeon memeluk nisan ayahnya. Entah apa yang dirasakan oleh mereka berdua. Buliran bening terus mengalir di kedua pipi mereka.


Dae Hyun pun juga ikut duduk. Dae Hyun memegang pundak Sabrina. Dia mencoba untuk menguatkan Sabrina. Dae Hyun merasa tidak tega terhadap kesedihan keduanya.


"Sabrina, Yeon.. Ayo kita pulang nak.." Ucap sang Ibu.


Sabrina dan Yeon pun menuruti apa kata Ibunya. Mereka pun akhirnya berhasil di ajak pulang.


Suasana suka masih menyelimuti keluarga Ibu Sabrina. Semua para tetangga berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Semua keluarga mengucapkan terimakasih kepada para tetangga.


Karena masih dalam keadaan berduka, Dae Hyun mengurungkan niatnya sementara waktu untuk melamar Sabrina.


Malam harinya, keluarga Sabrina mengadakan acara tahlilan untuk almarhum sang ayah. Sabrina dan semuanya membaca Al-Quran.


"Kasihan ya Bu.. Pak Amir meninggal dalam keadaan tidak wajar.." Bisik-bisik tetangga. Yang tidak sengaja di dengar oleh Sabrina.


Sabrina bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari mereka. Mengapa mereka berbicara seperti itu. Perlahan-lahan Sabrina mulai menyimak omongan mereka.

__ADS_1


"Iya bener buk.. hasil otopsi kemarin menyatakan bahwa pak Amir meninggal karena dibunuh.. Mudah-mudahan saja pelakunya cepat tertangkap." Bisiknya lagi.


Deg. Tiba-tiba jantung Sabrina seperti berhenti berdetak. Sabrina mendengar percakapan tetangga. Sabrina berusaha menahan amarah. Iya berusaha tenang.


"Jadi, Ayahku meninggal karena dibunuh? Ya Tuhan, apa salah Ayahku? Siapa yang telah melakukan ini?" Pikirnya dalam hatinya.


Setelah selesai acara tahlilan, Semua para tetangga kembali ke rumahnya masing-masing. Sabrina pun mengikuti tetangga yang berbisik-bisik barusan.


"Ibu-ibu, tunggu!" Panggilnya sambil berlari mengejar Ibu-ibu tadi. Ibu-ibu itu menghentikan langkahnya. Dan berbalik badan ke arah Sabrina.


"Sabrina, ada apa?" Tanya mereka.


"Ibu-ibu, maaf sebelumnya. Saya sudah mendengar percakapan kalian tadi waktu acara tahlilan. Apakah itu benar? Bahwa Ayah Saya meninggal karena di bunuh?" Sabrina memastikan kebenarannya.


"Benar Sabrina. Kami melihat Ayahmu sudah tergeletak di tengah jalan. Waktu kami menemukan Ayahmu, ternyata Ayahmu sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Dan setelah di otopsi hasilnya memang ada penganiayaan, di bagian tubuh Ayahmu. Kami berharap, pelakunya cepat tertangkap. Kasihan, Ayahmu orang baik." Ujar pengakuan tetangga.


Hati Sabrina merasa terenyuh. Tangis Sabrina seketika pecah. Para Ibu-ibu itu saling pandang. Mereka tidak tega melihat Sabrina. Mereka menguatkan hati Sabrina.


"Sudah Sabrina, ini sudah takdir.. Berarti umur Ayahmu memang sudah segini. Hanya saja jalannya berbeda Sabrina.. Percayalah Sabrina, Ayahmu sudah bahagia di sana.." Ujar tetangganya mencoba untuk menenangkan.


...****************...


"Maaf sebelumnya.. Kedatangan Saya kesini, ingin meminta restu Ibu wanti. Saya berniat ingin meminang putri Ibu." Ucapnya. Ibu Sabrina masih tidak percaya. Ibu Sabrina sangat terharu dengan cara Dae Hyun meminta Sabrina.


"Nak Dae, Ibu terserah Sabrina saja.." Jawabnya.


"Ibu, Sebelumnya saya sudah sepakat dengan Dae, ingin meminta restu dari Ibu." Ucapnya.


"Sabrina, Ibu selalu mendukungmu. Ibu sangat bangga terhadapmu." Ucap Ibu.


"Terimakasih Ibu.." Memeluk Ibunya.


"Dae, Jika kamu memang mencintai Sabrina.. Tolong, buat Dia bahagia. Sayangi Dia.. Tolong, jangan sakiti Dia.." Pinta Ibu Sabrina.

__ADS_1


"Ibu jangan Khawatir, Saya akan menyayangi Sabrina. Saya mencintai Sabrina apa adanya. Saya janji, akan membuat bahagia Sabrina.." Ucapnya.


Ibu Sabrina bahagia mendengar ucapan dari Dae Hyun. Apalagi kedua Saudara Sabrina, Mereka juga bahagia mendengar pernyataan Dae Hyun.


"Janji loh ya.. pokoknya kalau sampai kak Dae membuat Kak Sabrina down, Kak Dae akan berhadapan dengan kami." Ucap niki dengan gemas.


"Iya tenang saja.. kalau kakak menyakiti kak Sabrina, kakak akan jadi bulan-bulanan Yeon Seok." Ucap Dae Hyun.


Mereka pun tertawa bersama. Dae Hyun dan Sabrina saling pandang dan saling melempar senyum. Tak lama Ibu Sabrina mengajak Dae Hyun untuk makan bersama.


Sekarang hubungan Dae dan Sabrina tidak ada yang menghalangi lagi. Sabrina dan Dae merasa sangat bahagia. Mereka berencana ingin langsung menikah saja. Tanpa harus tunangan terlebih dahulu.


Dae dan Sabrina akan menikah di rumah Ibu Sabrina. Setelah mereka menikah, Sabrina berencana ingin membawa Ibunya ke hongkong.


Ketika mereka sedang menikmati makan bersama, tiba-tiba ada orang yang berteriak-teriak memanggil nama Ibu Sabrina.


Sabrina pun ingin melihat keadaan di luar. Namun, Ibunya menahannya. Ibu wanti alias Ibu Sabrina pun keluar menemui orang-orang itu. Sabrina hanya menurut apa kata Ibunya.


Lama sekali Ibu Sabrina di luar, membuat perasaan Sabrina was was. Akhirnya, Sabrina pun keluar menyusul Ibunya. Setelah Sabrina keluar, Sabrina terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Ibu!" Sabrina langsung berlari menghampiri Ibunya yang tersungkur. Sabrina pun membantu Ibunya untuk bangun.


"Hahaha.. makanya, jangan belagu." Ucap mereka dengan sombong.


"Apa yang kalian lakukan terhadap Ibu saya?" Tanya Sabrina kesal.


"Waduh, biasa aja tanyanya neng.. hahaha.." Mereka terus tertawa.


"Jawab!" Bentaknya.


"Galak amat si neng.. jangan galak-galak neng.. bagaimana kalau kita bersenang-senang saja? hahaha.." Mereka terus meremehkan Sabrina. Mereka belum tahu siapa Sabrina. Sabrina masih melirik mereka. Akhirnya mereka berani menyentuh wajah Sabrina.


Dengan segera, tangan laki-laki itu ditangkap oleh Sabrina dan berhasil dipatahkan. laki-laki tua itu langsung meringis kesakitan.

__ADS_1


"Wah berani sekali kamu.. Hajar Dia!" Perintahnya kepada anak buahnya.


Mereka ingin menghajar Sabrina. Namun, Sabrina dengan cekatan membuat mereka terkapar duluan. Laki-laki yang memerintah tadi, dibuat tertegun oleh Sabrina. Dia pun juga ikut menghajar Sabrina. Sebelum Dia melayangkan pukulan terhadap Sabrina, Sabrina terlebih dahulu melayangkan pukulan terhadap orang itu.


__ADS_2