Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Senjata makan tuan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sabrina pun berterimakasih kepada Vino. Vino pun pamit pulang. Sebelum pulang Vino pun memberikan kode, agar Sabrina tetap keep smiling. Sabrina mengangguk sambil tersenyum. Sabrina pun melambaikan tangan kepada Vino.


...****************...


Sekarang Sabrina memulai kehidupan tanpa Vino. Sabrina memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan.


Sabrina pun berangkat ke kampus, dalam keadaan tersenyum. Meskipun sulit untuk melupakan Dae Hyung, tetapi Sabrina berusaha untuk melupakannya. Sabrina mencari kesibukan tersendiri.


"Wah, rupanya ada yang patah hati nih?" Melisa meledek Sabrina. Sabrina tidak menghiraukan perkataan melisa. Sabrina tetap mengerjakan tugas kuliahnya.


"Ya iyalah, ditinggalin baru tahu rasa.. Makanya jadi cewek itu jangan murahan.." Melisa meninggikan suara.


Karena merasa terganggu dengan suara Sabrina, akhirnya Sabrina memasang headset di telinganya. Dan Sabrina pun mendengarkan lagu dengan suara keras. Sehingga Suara melisa pun tidak terdengar olehnya.


Melisa semakin geram dengan sikap Sabrina. Akhirnya melisa pun menarik headset dari telinga Sabrina. Melisa membuang headset itu dengan jarak yang cukup jauh. Sabrina pun berdiri dan menggebrak meja.


"Bisa ga, satu hari aja kalian ga ganggu saya?" Ujarnya dengan tatapan serius.


"Waduh, singa betina mulai marah nih.. Hahaha.." Melisa meledek, Karena hati Sabrina sedang tidak bersahabat, Iya pun langsung menjambak rambut melisa dan membenturkannya ke tembok.


"Au.." Melisa mengadu kesakitan. Melisa pun berdiri dan langsung ingin membalas Sabrina. Melisa kemudian ingin menampar wajah Sabrina, Namun dengan cekatan Sabrina menangkap tangan melisa.


Namun, melisa juga dengan cekatan membalikkan tangannya dan memelintir tangan Sabrina.


"Lo pikir cuma lo doang yang jago bela diri? Gue juga bisa.. sekarang rasain lo.. sakit kan?" Melisa sambil tersenyum sinis.


Sabrina tidak mau kalah, Sabrina pun mendorong wajah Melisa dengan tangan satunya. Dan Melisa pun melepaskan tangannya secara langsung. Sabrina tersenyum sinis juga.


"Sepertinya lo harus belajar lagi deh tentang beladiri. 👎" Sabrina Langsung pergi meninggalkan mereka. Melisa sangat geram dibuatnya.


"Ih, sebel.. Kenapa sih, gue selalu kalah sama itu anak?" Melisa langsung bersendekap.


"Kayaknya lo harus lebih cantik untuk memberi dia pelajaran deh.." Ujar salah satu temannya.


"Maksudnya?" Tanya melisa kepada temannya. Temannya melisa kemudian membisikkan sesuatu ke telinga melisa. Melisa tersenyum licik.

__ADS_1


"Ide yang sangat cemerlang. Ga salah gue punya teman seperti lo.." Ujarnya memuji.


Melisa pun mulai menuangkan sesuatu di kursi Sabrina. Dan Melisa juga mengambil sesuatu di dalam tas nya Vadim dan menaruhnya di tas Sabrina.


"Hahaha... Rasain lo.. memangnya enak? Makanya jangan pernah macam-macam sama gue.." Mereka sangat puas. Mereka yakin bahwa rencana mereka akan habis.


Dan para mahasiswa pun mulai memasuki ruang kelas. Karena sebentar lagi jam kuliah akan dimulai. Sabrina pun langsung duduk dan tidak menyadari ada sesuatu di kursinya.


Melisa dan teman-temannya tersenyum puas, karena rencana mereka berhasil. Mereka juga melirik ke arah Vadim. Vadim yang terlihat bingung mencari sesuatu. Melisa dan teman-temannya tetap berusaha tenang.


Dosen pun mulai masuk kelas. Dan Dosen pun menunjuk Vadim untuk segera menunjukkan hasil karyanya dan presentasikan di depan kelas. Vadim sangat terlihat gugup. Karena karya yang dibuatnya hilang.


"Vadim, ayo cepat maju.." Perintah dosen.


"Siap pak," Vadim pun mulai maju.


"Maaf Pak, karya saya hilang." Kata Vadim.


Pak Dosen tidak dapat diajak kompromi, Pak dosen langsung memberikan tanda silang kepada Vadim. Vadim terkejut dan melongo.


Vadim pun kembali ke tempat duduknya dengan kesal. Kemudian Vadim secara tidak sengaja melihat sesuatu di tasnya Sabrina. Vadim pun langsung mengambil sesuatu itu.


"Jadi kamu yang menyembunyikan karyaku?" Tuduh Vadim. Sabrina melotot dan menganga. Sabrina heran mengapa karya Vadim ada di dalam tasnya.


"Aku ga tahu, Vadim.." Ujarnya.


"Sabrina, maju kamu!" Perintahnya langsung.


"Siap pak.." Sabrina langsung berdiri, namun Sabrina tidak dapat berdiri karena tempat duduknya lengket.


"Sabrina, Dengar apa yang saya bilang?" Gertak dosen.


Sabrina dengan nekat pun memaksa berdiri. Dan rok Sabrina langsung sobek dari belakang. Semua teman-teman kelas tertawa. Terlebih lagi melisa dan teman-temannya. Sabrina melirik ke arah melisa yang sangat mencurigakan.


Sabrina pun membuka roknya. Beruntung saja Sabrina masih menggunakan celana cadangan. Sabrina mendekatkan wajahnya ke wajah Vadim.

__ADS_1


"Sebelum lo nuduh gue, sebaiknya lihat dulu disekeliling lo." Bisik Sabrina.


Sabrina pun maju, dan langsung menghadap Dosen. Dosen langsung menginterogasi Sabrina. Dan Dosen meminta Sabrina untuk mengakui kesalahannya.


"Saya tidak melakukan ini pak, Bukan saya pelakunya. Saya juga punya karya kok pak.." Jawab Sabrina tegas.


"Kalau kamu tidak mau mengakui kesalahanmu, Maka kamu akan saya disk secara paksa." Ancam dosen itu.


"Saya harus mengakui apa pak? Apa iya saya harus mengakui kesalahan yang tidak saya buat?" Kata Sabrina menantang Dosen.


"Sekarang kamu keluar dari kelas ini. Dan kamu saya nyatakan tidak lulus ujian." Kata Dosen.


"Baik, kalau itu mau bapak.. Saya rasa Bapak memilki pemikiran yang lebih cerdas dari saya.. Seharusnya bapak selidiki dulu kasus ini. Siapa yang bersalah atau yang menjadi korban." Ujarnya dengan berani.


Sabrina pun langsung menoleh dan berjalan ke arah melisa. Melisa melihat Sabrina dengan tatapan sinis. Sabrina pun langsung menarik tangan melisa. Dan Sabrina menariknya ke hadapan Dosen.


"Apaan si lo narik-narik tangan gue?" Kata melisa.


"Oh iya Pak, bukannya ini kampus yang elit ya.. Saya harap CCTV di ruangan ini masih bagus ya.." Ujarnya sambil melirik arah Melisa.


Dan Sabrina meminta hasil rekaman CCTV itu untuk dilihat secara bersamaan. Dosen pun langsung memperlihatkan hasil CCTV tersebut.


Semua orang sangat terkejut melihat hasilnya. Ternyata pelaku sebenarnya adalah melisa dan teman-temannya. Vadim juga terkejut melihat itu. Sabrina tersenyum sinis.


Tanpa basa-basi, dosen pun langsung disk mereka. Dan mereka juga terkena pelanggaran. Mereka pun juga diskors oleh dosen. Melisa dan teman-temannya sudah dinyatakan tidak lulus ujian.


Melisa dan teman-temannya meminta maaf atas perbuatannya. Tetapi, dosen tidak menerimanya. Dosen tersebut meminta maaf kepada melisa dan Vadim. Karena telah menuduh yang bukan-bukan.


Melisa benar-benar apes kali ini. Melisa benar-benar kesal. Tetapi melisa tidak akan tinggal diam. Iya akan membalas Sabrina. Melisa melihat Vadim yang keluar dari kelas.


"Vadim sayang, maafin Aku ya.. Aku ga bermaksud untuk membuat kamu dimarahi dosen.. Aku hanya ingin memberi pelajaran sama Sabrina doang.." Kata Melisa. Namun, Vadim tetap berjalan dan tidak mempedulikannya.


Melisa terus mengejar Vadim. Vadim pun langsung masuk ke dalam mobil. Dan langsung menyalakan mobil.


"Vadim, Vadim.." Melisa berteriak memanggil Vadim.

__ADS_1


__ADS_2