Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Dae Hyung menjauhi Sabrina


__ADS_3

"Baik.. kalau itu mau kalian." Ujar Dae Hyung dengan emosi. Dae Hyung pun langsung berangkat ke markas mereka. Dae Hyung langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


Sesampainya di markas mereka, Dae Hyung langsung mencari keberadaan mereka. Mereka melihat Dae Hyung yang datang. Mereka melihat dari CCTV. Mereka pun langsung tertawa.


"Keluar kalian! Hadapi saya.." Teriak Dae Hyung. Leader pun memerintahkan anak buahnya untuk menghadapi Dae Hyung.


Sanga leader membawa Sabrina dalam keadaan terikat. Leader itu membawa Sabrina ke hadapan Dae Hyung. Leader itu membaringkan Sabrina.


"Sabrina!" Dae Hyung kaget.


"Lepasin Dia.. Hadapi saya.. Musuh kalian adalah Saya.. bukan dia." Ujarnya.


"Saya bisa melepaskan Dia.. asal kamu hadapi dulu anak buah saya.." Dae melihat sepuluh anak buah leader itu yang berbadan besar. Sabrina yang melihatnya pun menggelengkan kepala.


"Jangan bodoh Dae.. Tinggalin Aku disini.. Kamu ga akan sanggup melawan mereka sendirian. Please, tinggalkan tempat ini." Kata hati Sabrina.


Dae Hyung pun bersedia melawan mereka. Dan Satu persatu Dae Hyung menghadapi mereka. Namun, karena mereka terlalu berbadan besar dan kuat seperti besi, akhirnya Dae tidak dapat melawan salah satu dari mereka. salah satu dari mereka mematahkan lengan Dae. Sabrina yang menyaksikan itu tidak tega. Sabrina menggeleng kepala dan memejamkan matanya.


Dae terus terkalahkan oleh mereka. Mereka semakin brutal menyerang Dae Hyung. Sabrina terus berfikir agar dapat melepaskan diri. Sang leader tertawa lepas dan puas melihat Dae terkalahkan. Sabrina pun menemukan sebuah pisau kecil tertempel di saku celana sang leader. Sabrina terus berfikir agar dapat mengambil pisau itu.


Sang leader tidak menyadari bahwa Sabrina sedang berusaha mengambil pisau kecil itu. Dan Sabrina pun berhasil mengambil pisau tersebut dari saku celana leader.


Sabrina perlahan-lahan memutuskan ikatan tangannya itu. Dengan berusaha keras, Sabrina pun memotong ikatan itu. Dan akhirnya ikatan itu terlepas dari tangan Sabrina. Sabrina juga melepaskan lakban dari mulutnya.


Sabrina langsung mengambil kayu balok yang kebetulan ada di situ. Sabrina pun secara perlahan tanpa sepengetahuan merek mengambil kayu balok itu. Sabrina pun langsung memukul punggung Sang leader dari belakang. Sang leader itu langsung mengerang kesakitan dan langsung pingsan.

__ADS_1


"Bos.. bangun bos.." Anak buah yang berbadan besar langsung kaget melihat bosnya yang pingsan. Sabrina juga memukul anak buahnya itu dari belakang. Dan anak buahnya juga pingsan.


Sabrina langsung menghajar anak buah yang sedang memukuli Dae. Berkat ajaran Dae Hyung, Sabrina menjadi lincah dalam bela diri. Dae pun terkejut. Sabrina pun langsung menarik tangan Dae untuk berdiri.


Untuk mengalahkan mereka yang berbadan besar. Ada suatu rahasia yang membuat mereka terkalahkan. Sabrina malah menendang bagian bawah perut Sang anak buah. Alhasil mereka langsung mengadu kesakitan. Dan tidak sampai disitu juga. Sabrina langsung memukul punggung mereka satu persatu. Dan mereka pun tidak sadarkan diri.


"Dae, kamu tidak apa-apa kan? Kita cari tempat yang aman yuk.. Biar Aku obati luka kamu.." Kata Sabrina sambil membantu Dae Hyung.


Sabrina dengan telaten mengobati luka Dae Hyung. Dan Dae Hyung pun kaget dan mengadu sakit. Sabrina perlahan-lahan Meniup luka yang perih akibat obat p3k. Kemudian luka Dae diperban oleh Sabrina. Sabrina seketika mengulas senyum kepada Dae Hyung.


Tetapi Dae Hyung malah tidak membalas senyuman Sabrina. Dae Hyung malah memalingkan muka dari Sabrina. Tanpa basa-basi Dae Hyung mengantar Sabrina pulang. Dalam perjalanan pulang Dae Hyung dan Sabrina tidak saling diam. Seketika Sabrina melirik Dae. Namun, Dae malah fokus ke depan. Sabrina pun kembali menunduk.


"Dae, terimakasih ya.. kamu sudah datang nolongin Aku.. Coba kalau ga ada kamu.. Aku ga tahu nasib Aku bagaimana.. sekali lagi terimakasih ya sayang.." Ujar Sabrina.


"Jangan banyak bicara. Saya lagi nyetir." Dae berbicara serius.


"Ada apa Dae?" Tanya Sabrina lembut.


"Aku bilang jangan banyak bicara! Paham enggak?" Bentak Dae dengan nada tinggi. Sabrina langsung kaget dan seperti orang sesak nafas. Dae Hyung pun langsung turun dari mobil. Dan membukakan pintu mobil Sabrina. Dae langsung menarik tangan Sabrina kasar dan menyeretnya keluar.


Sabrina tidak dapat berkata apa-apa. Dae Hyung pun langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan Sabrina ditengah jalan. Hari sudah gelap. Langit seketika mendung dan petir menggelegar. Hujan pun turun dengan cepat. Sabrina langsung berlari mencari tempat berteduh.


Sabrina ketakutan mendengar petir yang menggelegar. Sabrina merasa kalau Dae Hyung sedang marah kepadanya. Sabrina menangis karena iya tidak bisa melihat Dae Hyung marah seperti tadi.


...****************...

__ADS_1


Sabrina pergi menemui Dae ke markasnya. Dae sedang duduk santai bersama teman-temannya. Teman-temannya melihat Sabrina datang. Mereka pun memberikan kesempatan untuk berbicara berdua dengan Dae.


"Dae, kamu pasti marah sama Aku ya.. karena tadi malam." Sabrina tulus meskipun dirinya tidak salah.


"..." Tanpa menjawab apapun Dae Hyung malah tidak mempedulikan perkataan Sabrina. Sabrina menahan tangan Dae Hyung. Dan Dae Hyung pun malah menepis tangan Sabrina.


"Dae.. kalau kamu masih marah ga apa-apa kok.. Aku pulang dulu." Sabrina seperti merasakan sesak di dadanya. Tapi iya masih berusaha tersenyum di depan Dae Hyung.


Sabrina masih ada disekitar markas Dae Hyung. Sabrina menyandarkan dirinya kesebuah tembok. Iya perlahan menjatuhkan dirinya. Dan Iya memegang dadanya karena sesak. Sabrina menumpahkan tangisnya dalam sendirinya. Ternyata Sabrina serapuh itu.


Dae Hyung diam-diam melihat Sabrina menangis. Ingin sekali Dae Hyung menghampiri Sabrina dan menghapus air matanya. Namun, hal itu Dae Hyung tahan. Baru kali ini Dae Hyung melihat kekasihnya menangis. Dan menangisnya karena dirinya.


"Maafin Aku Sabrina, Aku harus menjauh dari kamu.. Aku tidak ingin kamu menjadi incaran musuh-musuh ku.." Kata Dae Hyung.


Sebenarnya Dae hanya pura-pura marah terhadap Sabrina. Agar Sabrina tidak lagi mendekatinya. Iya tidak ingin wanita yang iya sayangi menjadi korban musuh-musuhnya. Dae juga menyeka air matanya. Dae juga merasakan sesak di dadanya ketika melihat Sabrina rapuh karena ulahnya.


Teman-teman Dae memegang pundak Dae Hyung. Dan memberi semangat kepadanya. Dae dan teman-temannya pun masuk lagi ke dalam markasnya.


Setelah merasa lega, Sabrina pun pulang. Sabrina mencari air untuk mencuci wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang habis menangis.


Sabrina pun langsung pergi ke kampus. Sabrina berjalan menuju kelas dengan raut wajah bete. Vadim yang berdiri di depan Sabrina tidak disadarinya. Vadim merasa aneh dengan Sabrina.


Vadim melambaikan tangan di depan wajah Sabrina. Namun, Sabrina sama sekali tidak berkedip. Vadim pun langsung menggertak meja Sabrina. Dan membuat Sabrina kaget seketika. Sabrina melotot ke arah Vadim.


"Bisa gak sih, sehari aja ga usah gangguin orang?" Ujarnya dengan kesal.

__ADS_1


"Ya, habisnya kamu.. ngelamun saja dari tadi.. kesambet baru tahu rasa lo.." Ujar Vadim.


__ADS_2