Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Depresi


__ADS_3

Acara pemakaman pun selesai. Vino masih tertegun melihat malam orang tuanya. Padahal Vino ingin kedua orang tuanya melihat iya menikah. Dan memiliki anak.


Vadim pun datang dan mencium nisan kedua orang tuanya. Vino melihat Vadim dengan sangat emosi. Vino pun langsung menghampiri Vadim dan menarik lengannya. Memaksanya untuk berdiri.


Vino menarik kerah baju Vadim. Dan langsung melayangkan pukulan terhadapnya. Vadim juga membalas pukulan Vino. Dan terjadilah perkelahian antara mereka.


"Stop! Kalian apa-apaan sih? Kuburan papa sama belum kering. Kalian sudah seperti ini. Kasihan mereka. sudah cukup, cukup kalian menyakiti mereka. Mereka sudah pergi." Ujar Sabrina merelai perkelahian mereka.


Sabrina pun membawa pulang Vadim. Sesampainya di rumah, Vadim menangis karena kepergian orang tuanya. Sabrina berusaha untuk menenangkan hati suaminya.


Semenjak kepergian Berlin dan Arya, Vadim merasa bebas. Karena tidak ada lagi yang akan menghalangi hubungannya dengan Melisa.


Perselingkuhan Vadim dan Melisa sudah tidak ditutupi lagi. Vadim dan melisa semakin menunjukkan hubungan mereka. Bahkan sering kali mereka melakukan hubungan layaknya suami istri.


Bahkan Vadim sering kali membawa melisa ke rumahnya. Vadim dan Melisa tidak ragu lagi melakukan hubungan panas di depan Sabrina.


Sabrina yang melihat hal itu, menjadi sakit hatinya. Sabrina pun langsung berlari ke kamar ketika melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain. Tak lama, Vadim pun memasuki kamar Sabrina. Vadim melihat Sabrina sedang menangis sesenggukan.


"Kenapa? Kamu patah hati melihat saya bersama melisa? Dasar perempuan bodoh. Perempuan bodoh itu ya seperti kamu." Ucap Vadim terus berkata kasar.


"Vadim, bisa enggak? Sedikit saja, kamu jaga perasaan Aku? Aku istri kamu Vadim, dan Aku sedang mengandung anak kamu." Ucap Sabrina dengan air mata mengalir.


"Bodoh sekali ya, kamu.." Ucap Vadim.


"Iya, Aku bodoh. Karena Aku mencintai kamu.. Karena rasa sayang Aku menjadikan Aku bodoh." Ucapnya.


...****************...


Perut Sabrina merasa sangat sakit. Iya pun berjalan dengan tertatih-tatih. Dan Sabrina jatuh tersungkur. Sabrina melihat air ketuban yang mengalir dari jalan lahirnya.


Sabrina segera mengambil HP dengan cara ngesot. Sabrina ingin menghubungi Suaminya. Sabrina pun langsung memencet nomor telpon suaminya.


"Apaan sih? Jangan ganggu. Aku lagi bersama melisa kesayanganku." Ucap Vadim.


"Vadim, tolong Aku.. Aku mau melahirkan.." Ucap Sabrina.

__ADS_1


"Jalan aja sendiri. Memangnya Aku peduli?" Ucap Vadim. Dan Vadim pun segera menutup telfonnya.


Sabrina semakin tidak dapat menahan rasa sakit. Air ketuban semakin tidak dapat berhenti mengalir. Sabrina pun teringat adiknya. Sabrina segera menghubungi Yeon Seok.


"Halo, Yeon tolong kakak.." Suara Sabrina terdengar lemas. Dan tidak ada lagi suara dari Sabrina.


Yeon Seok panik dan segera menuju ke rumah Sabrina. Yeon memanggil Sabrina di rumahnya. Namun, tidak ada jawaban darinya. Yoen kemudian menuju kamar Sabrina dengan segera. Yeon panik ketika melihat kakaknya sudah tidak sadarkan diri.


Yeon segera membawa kakaknya ke rumah sakit. Dokter segera menangani Sabrina. Yeon mondar-mandir tidak tenang. Dokter pun selesai menangani kakaknya.


"Bagaimana dengan keadaan kakak saya dan bayinya dok?" Tanya Yeon khawatir.


"Bayi yang ada dalam kandungan Ibu Sabrina tidak bisa diselamatkan." Ujar Dokter.


Yeon tertegun dengan ucapan dokter. Dan Yeon pun segera melihat keadaan kakaknya. Yeon tidak tega melihat kakaknya yang terbaring lemah.


Tak lama kemudian, Sabrina sadar. Dan Sabrina pun menanyakan keberadaan bayinya. karena Sabrina tidak sabar ingin melihat bayinya. Yeon Seok hanya terdiam. Iya tidak tahu harus menjawab apa.


"Dek, kenapa kamu diam? Bayi kakak dimana? Dan dia baik-baik saja kan?" Tanya Sabrina.


Sabrina pun terkejut mendengar kenyataan pahit. Sabrina tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sabrina pun langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung melihat keadaan bayinya.


Sabrina melihat wajah bayinya yang lucu dan imut. Namun sudah membiru. Sabrina tidak bisa berkata-kata lagi. Hati Sabrina hancur. Ketika melihat sang buah hati sudah tidak bernyawa.


Yeon Hanya bisa menguatkan kakaknya. Yeon memeluk kakaknya dan ikut menangis. Sementara Sabrina sudah habis kata-katanya.


...****************...


Sabrina semakin murung dan sedih. Sementara Vadim, sudah Seminggu tidak pulang. Bahkan di acara pemakaman pun iya tidak hadir. Vadim lebih memilih bersama Melisa.


Yeon adik yang baik bagi Sabrina, dengan sabar menemani kakaknya. Semakin hari, wajah Sabrina semakin kusut. Yeon semakin tidak tega terhadap kakaknya.


"Kak, apa kakak butuh kak Vadim? Biar Aku telfon ya.." Ucap Yeon.


"Ga perlu! Dia tidak akan peduli. Karena Dia sudah bersama orang yang membuat dia nyaman. Hahaha.. Sedangkan Aku, anak Aku aja ga ada.. hahahaha.." Jawab Sabrina seperti orang stres. Yeon yang melihat kondisi kakaknya itu, merasa ketakutan.

__ADS_1


Sabrina pun mengamuk dan tidak terkontrol. Dan sesekali menangis. Yeon pun memeluk kakaknya. Dan Yeon mencoba untuk menenangkan kakaknya.


"Kak, jangan begini dong kak.. Disini ada Vadim yang selalu menemani kakak.." Ucap Yeon.


Karena kondisi Sabrina semakin tidak memungkinkan, Terpaksa Yeon Seok membawa kakaknya ke skiater. Yeon terpaksa menempatkan kakaknya di rumah sakit jiwa. Sebenarnya Yeon tidak tega meninggalkan kakaknya di tempat itu.


"Maafin Yeon kak.. Tapi ini yang terbaik buat kakak." Ujarnya sambil meneteskan air mata.


Yeon pun pulang dan meninggalkan kakaknya di rumah sakit jiwa. Sesampainya di rumah, Yeon memandangi foto kakaknya bersamanya di foto itu.


Sabrina terlihat sangat ceria di foto tersebut. Yeon pun menangis sesenggukan melihat foto itu. Yeon tidak menyangka kalau kakaknya akan mengalami hal seperti ini.


"Kak, Yeon ga tahu apa yang sebenarnya kakak alami selama ini. Apakah kakak selama ini menderita? Kenapa kakak tidak pernah cerita sama Yeon?" Ucapnya lirih.


"Kakak wanita yang sangat kuat." Ujar Yeon lagi.


Kemudian, Yeon tidak sengaja menjatuhkan tas milik Sabrina. Di situ terdapat buku diary Sabrina. Kebetulan, tas Sabrina Yeon bawa ke rumahnya.


*Suamiku.


Entah mengapa hati ini begitu rapuh. Apakah mungkin Aku menyayanginya?


Aku berlagak tidak peduli terhadap perlakuan suamiku yang menyakitkan. Aku berlagak masa bodoh ketika melihat suamiku bersama orang lain.


Tapi sebenarnya hati ini menangis. Aku berlagak terserah disaat kata-kata kasar yang keluar dari suamiku. padahal hati ini sangat pedih.


Aku tahu, pernikahan ini sangat terpaksa. Tapi, lambat laun perasaan ini tumbuh. Mungkin Aku adalah wanita yang sangat bodoh. Wanita paling bodoh di dunia.


Tapi, Aku lakukan hal ini karena Aku rasa cintaku yang begitu besar. Entah perasaan sakit akan terkalahkan oleh perasaan sayang.


Disaat-saat seperti ini, Aku sangat merindukan sosok Yeon Seok. Hanya Dia yang dapat membuat Aku tersenyum.


Terimakasih sayang.. Kakak rindu*..


Yeon Seok merasa sesak dan sakit ketika membaca diary Sabrina. Ternyata Sabrina sangat merindukan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2