Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Vadim ingin kembali. Dae mengungkapkan perasaan


__ADS_3

"Vadim, hubungan kita sudah lama berakhir, Aku sudah memaafkan kamu.. Tapi Aku tidak bisa kembali ke kamu.." Ucap Sabrina.


"Sabrina, tolong beri Aku kesempatan satu kali lagi untuk Aku memperbaiki semuanya. Aku sadar Sabrina, bahwa Aku sangat mencintai kamu." Ucapnya memohon.


"Vadim, jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan kamu.. Tapi bukan berarti Aku bisa kembali kepada kamu. Aku mohon, lupakan Aku. Aku yakin, kamu pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Aku." Ucapnya sembari menyentuh pundak kanan Vadim.


"Sabrina, apakah sudah tidak ada secercah cinta mu untukku?" Tanyanya dengan raut wajah yang penuh harap. Sabrina pun menunduk sebentar lalu mengangkat wajahnya kembali. Dan memberikan sedikit senyum.


"Vadim, Aku sangat mencintaimu. Tapi, itu dulu. Dan itu sudah menjadi masa lalu. Dan Aku menguburnya dalam-dalam. Aku mohon, berhentilah untuk mencintaiku. Lupakan Aku." Ucapnya dengan tegas. Dengan menepuk pundak Vadim. Kemudian, Sabrina pun berbalik dan diikuti dengan membuka pintu mobil. Sabrina langsung masuk ke mobil tersebut diikuti dengan menutup pintu mobilnya.


Sabrina berdiam sejenak. Dengan membuang nafas berat, Sabrina langsung menyalakan mesin mobil. Dan langsung melajukan mobilnya. Vadim hanya menatap mobil Sabrina yang semakin menjauh.


Tiba-tiba suara petir menggelegar diikuti oleh turunnya hujan yang begitu cepat membasahi tubuh Vadim. Vadim merasa sudah tidak memiliki harapan lagi. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.


Seketika Vadim menjatuhkan lututnya ke tanah. Dengan derasnya hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Iya berteriak sekencang-kencangnya.


"Sabrina........." Teriaknya dengan wajah mendongak ke atas.


Seseorang datang dengan membawa payung, berlari ke arah Vadim. Orang tersebut adalah Vino. Vino menyentuh pundak Vadim yang sedang menangis.


"Sudah kak, lupakan Sabrina. Jangan kamu ganggu lagi hidupnya. Sudah cukup dengan perbuatan kakak yang dulu. Ayo kita pulang kak.." Ucap Vino sembari berbagi naungan payung dengannya.


"Tapi Aku sangat mencintainya Vino. Aku ingin memperbaiki semuanya. Apa tidak ada sedikit kesempatan bagi Aku?" Ucapnya dengan suara yang keras. Karena deruan hujan yang sangat deras.


"Bukan seperti ini caranya untuk mendapatkan hati Sabrina lagi." Ucapnya berusaha menenangkan sang kakak.


Vino pun langsung memeluk Vadim. Vino berusaha membuat kakaknya lebih tenang.


Vino membawa Vadim ke apartemennya. Vino pun memberikan baju ganti miliknya kepada Vadim. Vadim masih merasakan galau di hatinya.


"Sudah lah kak.. Sabrina benar, lupakan Dia. Biarkan Dia bahagia.." Sambil menepuk pundak Vadim.


"....... " Vadim tidak menjawab. Hanya menatap ke arah Vino.


...****************...


Di rumah Sabrina

__ADS_1


"Kakak sudah pulang?" Sapa Yeon yang sedang duduk di sofa.


"Sudah, kamu sudah makan belum dek?" Tanya Sabrina.


"Belum kak.." Jawabnya.


"Kalau begitu, biar kakak masakin dulu ya.." Ucapnya.


"Ga usah kak.. Lagian Aku belum lapar.. Oh iya, kenapa wajah kakak muram gitu?" Tanyanya yang melihat wajah kakaknya berbeda.


"Kakak ga papa dek.. kakak cuma capek saja.." Jawabnya.


Sabrina pun langsung ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Sabrina langsung melempar tas nya ke kasur. Dan mendaratkan bokongnya ke kasur juga.


Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Sabrina menghela nafas. Kenapa Vadim menjadi seperti itu. Terbesit di pikirannya tentang Vadim. Sebenarnya Sabrina merasa kasihan terhadap Vadim.


Tapi, perasaannya sudah mati terhadap Vadim. Sabrina berharap kalau Vadim dapat melupakan dirinya. Dengan melentangkan tubuhnya ke kasur.


"Dug.." Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu dari jendela kamar Sabrina seperti ada yang sedang melempar sesuatu.


Sabrina merasa kaget dan menoleh ke arah jendela. Sabrina pun langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Sabrina langsung membuka pintu jendela kamar.


Sabrina tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sabrina mengamati sekali lagi. Ternyata benar Dia Dae Hyun. Dae Hyun melambaikan kedua tangannya untuk Sabrina. Dan memberikan kode untuk segera turun dan menemuinya.


"Dae ngapain ya.. malam-malam kesini? Tumben banget Dia tidak lewat pintu depan?" Pikirnya. Tanpa berfikir panjang lagi, Sabrina segera menemui Dae Hyun di bawah.


"Ada apa Dae? Tumben ga lewat pintu depan? Di depan ada Yeon loh." Ucapnya.


"Aku bukan ada perlu dengan Yeon. Tapi Aku ada perlu dengan kamu." Jawabnya menatap serius.


"Aku?" Dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya... Ada hal penting yang harus Aku omongin." Ujarnya lagi. Serius.


"Cepat katakan. Apa itu?" Tanyanya membuat Sabrina penasaran. Tiba-tiba Dae mengambil kedua tangan Sabrina dan menggenggamnya.


Sabrina menunduk mengikuti arah tangannya yang di genggam Dae Hyun. Dae Hyun menatap Sabrina dengan tatapan yang serius.

__ADS_1


"Sabrina, A-Aku.. Sebenarnya.. A-aku.." Dae merasa gugup.


"Sebenarnya... Apa?" Sabrina semakin penasaran.


"A-Aku.. Aku... Aku masih mencintai kamu.. apa kamu mau menjadi istriku?" Ucapnya memberanikan diri.


Sabrina tertegun dengan ucapan Dae Hyun. Sabrina tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Kemudian, Sabrina pun menunduk. Iya tidak berani menatap Dae Hyun. Lalu Sabrina mengangkat wajahnya dan membuang nafas.


"Dae, Aku tidak bisa jawab sekarang.. Kasih Aku waktu 3 hari untuk berfikir." Ucapnya, dengan sedikit memalingkan wajah.


"Ok.. Aku akan kasih kamu waktu tiga hari. Aku harap kamu memberi jawaban yang terbaik." Ucapnya memberi senyum.


"Mengangguk" Dengan membalas senyum.


Dae pun melepaskan kedua tangan Sabrina. Dan Dae Hyun menyuruh Sabrina untuk masuk ke rumahnya.


Sabrina pun mengikuti apa kata Dae Hyun. Sebelum Sabrina masuk, Sabrina sempat menoleh ke arah Dae Hyun. Dan Sabrina mengulas senyum kepadanya. Lalu melambaikan tangan.


Dae Hyun pun memandangi Sabrina sampai Sabrina menutup pintu. Dae Hyun pun kembali untuk pulang.


...****************...


Pagi mulai menyapa, seperti biasa Sabrina selalu menyiapkan sarapan pagi. Setelah selesai, Sabrina memanggil Yeon Seok untuk segera sarapan.


Tak lama kemudian, Yeon Seok pun turun dari tangga dengan penampilan yang sangat rapi. Yeon Seok pun segera menghampiri kakaknya di meja makan.


"Wah, kayaknya enak nih.." Ucapnya dengan mengendus aroma makanan. Yeon Seok pun segera menggeser kursi lalu mendaratkan bokongnya ke kursi.


Yeon dan Sabrina pun menikmati sarapan pagi. Yeon selalu lahap ketika menikmati masakan Sabrina. Sabrina sangat senang melihat adiknya makan dengan lahap.


Setelah selesai makan, Sabrina dan Yeon pun berangkat bersama ke kantor. Yeon ingin satu mobil dengan Sabrina. iya merasa rindu ingin bareng sama kakaknya.


"Tumben.. kamu satu mobil dengan kakak?" Ucapnya.


"Iya kak.. Aku rindu masa-masa dulu.. ketika apa-apa selalu sama kakak.." Ucapnya. Sabrina tersenyum kecil.


"Iya kakak juga kangen. Oh iya, jika nanti kakak sudah menikah, apa kamu setuju? Dan apa kamu akan hormat sama suami kakak?" Ucapnya tiba-tiba. Membuat Yeon menatap.

__ADS_1


"Kak, Aku selalu dukung kakak.. Asal laki-laki yang menjadi pasangan kakak kelak, dapat membahagiakan kakak.. Dan tidak menyakiti kakak.." Ucapnya dengan harapan.


__ADS_2