Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Terpaksa menikah


__ADS_3

"Maafin Vadim pa, Vadim telah..." Vadim pun menjelaskan apa yang telah terjadi. Berlin dan papanya pun syok mendengar cerita Vadim. Terlebih lagi dengan Vino.


"Maaf Pak, mereka telah membuat kesalahan.. Jadi kami harus menikahkan mereka berdua." Ucap ketua RT tersebut.


"Apa?" Vadim dan Sabrina secara bersamaan.


"Ya, sudah pak nikahkan saja mereka." Kata pak Arya secara langsung.


"Iya benar pak.. nikahin saja mereka." Berlin menambahkan.


Vadim dan Sabrina saling pandang. Mereka tidak dapat berkata apa-apa. Mereka hanya menurut saja apa kata pak RT. Daripada diarak satu kampung.


Pak RT pun memanggil penghulu, Vadim pun menjabat tangan pak penghulu. Dan ijab kabul pun sudah diucapkan. Pak Arya dan Vino menjadi saksi diperkirakan Sabrina dan Vadim.


"Sabrina, mulai sekarang.. you jangan panggil aku tante lagi.. tapi, mama.. Ok?" Ujar Berlin.


"Mama, itu apaan sih?" Ujar Vadim.


"Loh, ya harus dong.. Dia kan sudah jadi istri kamu sekarang.. ya dia sudah jadi menantu mama lah.." Ujar Berlin lagi.


"Pokoknya, Aku ga mau mah.. pulang camping nanti.. Aku mau cerai dengan Sabrina." Kata Vadim memberontak.


"Plak!" Papa Vadim langsung menampar Vadim.


"Jangan egois kamu Vadim. Setelah apa yang kamu lakukan terhadap Sabrina.. Kamu sudah mengambil kehormatan Sabrina.. Kamu harus tanggung jawab." Kata Pak Arya dengan nada marah.


"Vadim, kamu itu berani berbuat tapi tidak mau tanggung jawab. Pokoknya kalian harus tetap jadi suami istri. Ga ada kata cerai atau apa lah itu.. Sejarah keluarga ARBEL, ga ada kata cerai. Paham kamu.." Ucap Berlin dengan tegas.


Vadim pun tidak dapat berbuat banyak. Berlin pun mengubah tempat tidur camping. Sabrina bertanya-tanya dan heran. Mengapa barang-barang Di keluarkan semua. Dan mengapa papa Arya malah membuat tenda satu lagi.


"Mulai, malam ini kalian harus tidur berdua. Papa sudah siapkan tenda untuk kalian." Ujar Berlin.


"What?" Sabrina dan Vadim terkejut.


"Aduh, ga usah sok kaget kalian.." Ujar Berlin.

__ADS_1


Malam harinya, Sabrina dan Vadim tidak dapat tidur. Mereka memikirkan sesuatu dan tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Mereka secara tidak sengaja tidur berhadapan. Sabrina dan Vadim menjadi kaget.


Sabrina segera membalikkan badannya. Vadim juga segera membalikkan badannya. Sabrina tidak menyangka, bahwa dirinya akan menjadi istri Seorang Vadim. Sabrina teringat dirinya waktu pertama kali bertemu Vadim. Iya tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya jika sampai di rumah. Vadim akan memperlakukan dia dengan buruk.


"Pa, mama berharap banget kalau mereka cepat-cepat memiliki keturunan.." Ujar Berlin.


"P****apa berharap juga begitu ma.." Jawab papa Vadim.


"Mama yakin, sebentar lagi Sabrina pasti hamil." Ujar Berlin.


...****************...


Sabrina telah pulang dari Camping. Mereka terlebih dahulu mampir di rumah Sabrina. Berlin dan suaminya berniat untuk membawa Sabrina untuk tinggal bersama mereka. Karena Sabrina sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Ma, papa tinggal ke mobil sebentar ya?" Ujar papa Vadim langsung pergi ke mobil.


"Rencana kita berhasil mbak.. Kita ga perlu lagi repot-repot mendekatkan mereka.. Karena sudah jadi suami istri." Ujar Berlin ke Angela dengan bisik-bisik. Angela juga sangat senang dan girang.


"Yes, akhirnya.." Mereka sambil tos.


Mereka pun membawa Sabrina ke rumahnya. Sesampainya di sana, Berlin memberitahu kamar Vadim. Dan Berlin menyuruh pembantu untuk memindahkan barang-barang Sabrina ke kamar Vadim. Sabrina merasa tidak nyaman dengan semua ini.


"Sabrina, kamu jangan kepedean ya.. Meskipun kita sudah menikah, bukan berarti Aku mau menyentuhmu." Ujar Vadim.


"Lagian siapa juga yang mau nikah sama kamu.. kamu bukan tipe Aku.." Ujar Sabrina tidak mau kalah.


Merekapun tidur saling membelakangi satu sama lain. Tanpa mereka sadari, Sabrina dan Vadim saling berhadapan. Vadim dengan reflek memeluk Sabrina.


"A..." Teriak Sabrina. Vadim langsung kaget dan langsung menyingkirkan pelukannya.


"Bisa gak sih, ga usah berisik?" Ujar Vadim.


Vadim pun membatasi tempat tidur mereka dengan bantal. Sabrina dan Vadim pun tertidur pulas kembali sampai pagi.


Berlin dan yang lain sudah berada di meja makan. Mereka sedang menunggu Sabrina dan Vadim untuk turun dan segera ke meja makan untuk sarapan. Tak lama kemudian, Sabrina dan Vadim pun turun dari tangga.

__ADS_1


"Mulai sekarang, kalian harus tinggal di rumah baru." Ujar papa Vadim.


"Rumah baru?" Vadim dan Sabrina secara bersamaan.


"Iya, rumah baru.. Biar kalian bisa mandiri. Dan satu lagi, mama Minta kalian harus cepat-cepat memilki keturunan.. Ini perintah dari mama.." Ujar Berlin.


Pak Arya segera mengantar mereka ke rumah baru mereka. Dan Pak Arya sudah memberikan fasilitas mobil dan perusahaan untuk mereka. Asal mereka tidak boleh bercerai.


"Sabrina, jangan pernah berharap kalau Aku akan menyentuhmu." Ujar Vadim.


"Kamu tenang saja.. Aku tidak akan pernah mengharapkan cinta kamu.." Ucap Sabrina sambil sedikit tersenyum.


"Vadim, Aku sekarang jadi istri kamu.. Dan di rumah ini, kita hanya tinggal berdua. Jadi, sudah kewajiban Aku untuk mengurus kamu." Ucapnya.


Satu bulan berlalu mereka menjalani rumah tangga. Vadim sama sekali tidak pernah nyaman hidup berumah tangga dengan Sabrina. Sabrina dengan sabar mengurus keperluan Vadim.


"Cuih, Sabrina. kamu niat ga sih masaknya? kamu mau racunin Aku?" Bentak Vadim.


"Tapi, itu rasanya sudah pas kok Vadim." Ucapnya. Karena kesal Sabrina membantah omongannya, Vadim pun memegang mulut Sabrina dan memaksa Sabrina untuk memakan masakan itu.


"Enak? Enak kata kamu.." Kata Vadim dengan kasar. Kemudian, Vadim pun membanting piring-piring yang ada di meja. Hal ini, membuat Sabrina kaget. Vadim pun langsung pergi meninggalkan Sabrina.


Entah akhir-akhir ini, Sabrina tidak ingin melawan Vadim. Seolah-olah Sabrina ingin berusaha menjadi istri yang baik bagi Vadim.


...****************...


Hari sudah mulai semakin larut, Sabrina menunggu Vadim belum pulang-pulang juga. Sampai-sampai, Sabrina ketiduran. Sabrina terbangun setelah mendengar suara klakson mobil.


Sabrina pun membukakan pintu. Sabrina kaget, melihat Vadim bersama dengan wanita lain. Sabrina ingin merebut Vadim dari tangan wanita itu. Namun, Vadim menepisnya. Wanita itu membawa Vadim ke kamarnya.


"Vadim, Aku ini istri kamu.. harusnya Aku yang bawa kamu.." Ujarnya miris.


"A.. berisik. Kamu jangan mimpi.. Aku ga pernah mencintai kamu.. Aku ga pernah menganggap kamu sebagai istriku.." Ujar Vadim. Dan wanita itu, membawa Vadim ke kamarnya tanpa menghiraukan Sabrina.


Wanita itu pun keluar dari kamar Vadim. Dan melihat Sabrina yang berada di depan kamarnya. Iya tersenyum sinis kepada Sabrina.

__ADS_1


"Kasihan banget kamu.. menikah sama orang yang ga mencintai kamu.. kalau aku jadi kamu, lebih baik Aku mundur.." Ujarnya.


"Melisa, yang harusnya mundur itu kamu.. Vadim ini sudah menjadi suami Aku sekarang." Ujar Sabrina.


__ADS_2