
Sabrina menelan Salivanya sendiri. Dae pun memeluk Sabrina dengan penuh kasih sayang. Sabrina terhanyut dalam pelukan itu.
Dirasa sudah lebih tenang, Dae Hyun dan Sabrina pun melepaskan pelukannya. Dae pun mengajak Sabrina untuk masuk ke tempat wahana.
Sabrina dan Dae Hyun mencoba berbagai macam wahana dari yang extrem hingga yang biasa saja. Sabrina dan Dae sangat menikmati permainan di tempat itu. Selesai menikmati permainan, Mereka pun membeli ice cream. Setelah dapat lanjut lagi untuk perjalanan berikutnya.
"Gimana permainannya? Seru gak?" Tanyanya.
"Gila, seru banget.." Ucapnya tidak dapat berkata apa-apa lagi.
...****************...
Setelah puas, dengan hiburannya, Dae pun mengantar Sabrina pulang. Selama perjalanan pulang, Dae Hyun dan Sabrina tetap saling lirik. Meskipun sudah saling tahu tentang perasaan masing-masing, Mereka tetap masih malu-malu.
Sesampainya di rumah Sabrina, Dae memberhentikan mobilnya. Setelah itu Dae membukakan pintu mobil untuk Sabrina. Sabrina pun turun sembari menatap wajah Dae dan memberikan senyum.
"Dae, terimakasih ya.. untuk hari ini." Ucapnya.
"Iya Sayang.. tidak perlu berterimakasih.. itu sudah wajar." Ucapnya. Kemudian, Dae pun pamit pulang. Dan Iya titip salam untuk Yeon. Calon adi iparnya.
Sabrina memandangi mobil dae yang perlahan-lahan semakin menjauh. Setelah itu, Sabrina ingin masuk ke rumahnya. Sebelum Sabrina membuka pintu rumah, Tiba-tiba HP Sabrina bergetar.
Sabrina langsung saja merogoh ke dalam tasnya. Dan mengambil HPnya. Sabrina pun melihat layar HPnya dan melihat siapa yang menelfon. Ternyata yang menelfon adalah
"Halo.. ada apa vin?" Tanya Sabrina di telfon.
"Sabrina, apakah kamu bisa ke rumah sakit sebentar? Please Sabrina.." Ujar Vino.
"Memangnya ada apa Vin?" Tanyanya.
"Kak Vadim Sabrina, kak Vadim sakit. Dan memanggil nama kamu.." Ucapnya.
"Maksud kamu?" Tanyanya tidak mengerti.
"Kak Vadim sakit Sabrina.. memanggil nama kamu terus.. please, kamu kesini sebentar ya.." Vino memohon.
"Ok, ok.. Aku akan ke sana segera." Ucap Sabrina. Sabrina pun segera menuju garasi rumah. Dan Sabrina langsung masuk ke mobilnya dan segera melaju.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Sabrina langsung menghampiri Vino. Dan Vino pun melihat Sabrina benar-benar datang.
"Vino, bagaimana keadaan Vadim?" Tanya Sabrina.
"Sabrina, Aku mohon.. temuilah kak Vadim sebentar, Kak Vadim butuh kamu." Ucap Vino.
Akhirnya Sabrina pun melihat kondisi Vadim di ruang rawatnya. Sabrina melihat Vadim yang terbaring. Tak lama, Vadim membuka matanya secara perlahan. Dia melihat Sabrina berdiri di sampingnya.
"Sabrina, Aku sangat rindu kepadamu. Sabrina.. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi." Ucapnya memelas. Sabrina hanya diam saja.
"Vadim, sampai kapan kamu akan begini? Vadim, Aku mohon jangan siksa dirimu seperti ini." Ujarnya.
"Sabrina, Aku begini karena kamu.. Aku mencintai kamu Sabrina.." Ujarnya lagi.
"Vadim, terimakasih karena sudah mencintaiku. Tapi, cinta itu tidak dapat dipaksakan. Vadim.. lupakan Aku, karena sebentar lagi Aku akan menikah." Ungkapnya.
Mendengar hal ini, Vadim menjadi tertegun. Iya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dan Sabrina pun pamit untuk pergi. Vadim masih saja tertegun. Sirna sudah harapan Vadim.
"Ternyata Sabrina sudah memiliki kekasih.. Beruntung sekali orang itu." Ujarnya.
...****************...
Hari yang di tunggu-tunggu Sabrina dan Dae serta Yeon telah tiba. Mereka berkunjung ke desa S tempat Sabrina dan Yeon dibesarkan.
Dae dan Sabrina ingin meminta restu atas hubungan mereka. Mereka berharap orang tua Sabrina dapat merestui.
Dae Hyun menjemput Sabrina dan Yeon untuk berangkat ke bandara. Setibanya di rumah Sabrina, Dae Hyun memberhentikan mobilnya. Dae Hyun turun dari mobilnya dan langsung berjalan menuju pintu rumah.
"Ting.. tong.." Suara pencetan bel.
Seseorang langsung membukakan pintu. Dan itu adalah Sabrina. Sabrina langsung tersenyum ketika melihat pangerannya datang.
"Masuk dulu yuk.." Ajaknya.
Dae tiba-tiba mencubit hidung Sabrina. Dan Sabrina pun memegang hidungnya karena sakit. Dae Hyun pun masuk ke rumah Sabrina.
Semua perlengkapan sudah siap. Dan mereka pun memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil. Dan mereka segera berangkat menuju bandara.
__ADS_1
Setibanya di bandara, Mereka bertiga langsung chek in. Dan mereka juga memasuki ruang tunggu bandara. Karena bosan menunggu di ruang tunggu, akhirnya mereka masuk dalam pesawat.
Selama perjalanan, Dae dan Yeon tertidur pulas. Sementara Sabrina, tidak dapat tidur. Entah hatinya merasa dag dig dug. Sabrina merasa was was. Kerena takut jika orang tuanya tidak dapat merestui hubungan mereka.
Sabrina juga merasakan kangen dengan ayah dan Ibunya serta adik perempuannya. Jika boleh memilih, Sabrina ingin seperti dulu lagi. Sabrina yang sederhana, Sabrina yang merasa damai, ketika hidup di desa.
...****************...
Pesawat yang ditumpangi oleh Sabrina, Yeon dan Dae sudah tiba di bandara internasional. Sabrina membangunkan Dae dan Yeon. Sabrina mengatakan bahwa mereka telah tiba.
Tak lama kemudian, mereka pun turun dari pesawat. Mereka bertiga melihat suasana yang berbeda di bumi kelahiran mereka.
"Sudah berapa lama Aku meninggalkan negara ini ya..? Ah, sudah tidak dapat dihitung." Gumamnya. Sembari melihat sekeliling.
Mereka bertiga pun langsung memesan taksi online. Selang beberapa waktu, taksi online pesanan mereka sudah menunggu di depan bandara.
Mereka segera menuju ke rumah orang tua Sabrina. Perjalanan dari desa ke kota, menempuh waktu sekitar 3 jam. Selama diperjalanan, Sabrina merasa dag dig dug. Tidak sabar ingin bertemu dengan orang tuanya.
Taksi mereka mulai memasuki gang yang sempit. Ternyata, di Desa S sudah banyak mengalami perubahan. Desa S tidak seperti dulu lagi. Dulu Desa S yang terlihat kumuh, dan jalan-jalan masih terbuat dari tanah.
Sekarang suasana di Desa S sudah banyak perubahan. Jalan-jalan yang bersih dan beraspal, kehijauan selalu ada di kanan dan kiri. Membuat Sabrina dan yang lain takjub.
Suasana di desa S tidak kalah dengan suasana kota. Hal ini, membuat Sabrina ingin tinggal di tanah kelahirannya lagi.
Tidak terasa, ternyata taksi yang mereka tumpangi telah sampai di tempat tujuan. Sabrina dan Yeon sangat bersyukur. Taksi pun mulai berhenti. Mereka bertiga pun mulai turun.
Setelah Sabrina dan Yeon turun dari taksi, Sabrina yang awalnya senang, tiba-tiba wajahnya berubah penuh tanda tanya. Karena di depan rumah mereka banyak orang berdatangan. Begitu juga dengan Yeon dan Dae, mereka penuh pertanyaan.
Mereka bertiga pun berjalan menuju rumah orang tuanya. Sabrina dan Yeon bingung, sebenarnya ada apa ini. Kemudian Sabrina dan Yeon serta Dae pun masuk ke dalam rumah mereka.
Sabrina dan Yeon melihat Ibunya dan niki adik perempuannya menangis. Sabrina dan Yeon masih tidak mengerti. Sabrina pun melihat ke sesuatu yang sudah terbujur kaku. Sabrina dan Yeon pun duduk di samping jenazah.
Sabrina dan Yeon mengira bahwa yang meninggal adalah saudara Ibunya. Kemudian, Sabrina pun membuka kain yang dibuat untuk menutupi wajah jenazah. Sabrina pun membuka secara perlahan.
Setelah kain itu terbuka, Alangkah terkejutnya Sabrina dan Yeon. Mereka tertegun dengan posisi ternganga. Seketika Sabrina dan Yeon merasa lemas melihat jenazah itu.
"Ayah...." Teriak Sabrina dan Yeon secara bersamaan. Sembari memeluk jenazah sangat ayah yang sudah kaku.
__ADS_1
"Ayah, kenapa tinggalin Sabrina dan Yeon yah.. Kami belum sempat untuk minta maaf ke ayah, kami belum sempat untuk menjenguk ayah.. Kami belum sempat membahagiakan Ayah..." lirihnya dengan sesenggukan. Dae yang menyaksikan hal itu menjadi tidak tega.